Tim BMX Indonesia menjaga konsistensi medali sejak Asian Games Jakarta-Palembang 2018 lewat perunggu Jasmine Azzahra. Spirit di arena balapan lampaui rasa sakitnya.
28 Sep 2026 16:42 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
NAGOYA, KOMPAS — Jasmine Azzahra Setyobudi tak berekspektasi tinggi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Rentetan momen jatuh, bangkit, dan jatuh sebelum keberangkatan cukup membuatnya memikirkan ulang ambisi. Namun, spirit di arena balapan BMX yang melampaui rasa sakit dan ekspektasi mampu mengantarnya meraih perunggu lagi.
Medali emas Amellya Nur Sifa, pebalap BMX putri Indonesia lainnya, yang diraih di Asian Games Hangzhou 2022 memang terlepas. Meski begitu, perunggu yang juga diraih di Hangzhou berhasil dipertahankan dalam balapan di Nagoya Velodrome BMX Race Course, Nagoya, Jepang, Senin (28/9/2026).
Jasmine masih belum memproses apa yang terjadi, bahkan ketika medali perunggu tergantung di lehernya. Di zona campuran, tempat bertemunya atlet dan jurnalis untuk wawancara, Jasmine terdiam dulu untuk mencerna raihan prestasinya.
”Ini tuh sebenarnya benar-benar di luar dugaan. Persiapannya, kan, tidak panjang karena ada beberapa kejadian, aku cedera dan harus operasi. Baru pemulihan dan latihan lagi, malah jatuh lagi dan cedera lagi,” kata Jasmine, yang meraih perunggu dengan catatan waktu 34,932 detik.
Pebalap tuan rumah, Sae Hatakeyama, meraih medali emas dengan catatan waktu 33,401 detik. Pebalap China, Wanyi Liao, menyusul meraih perak setelah finis dengan waktu 34,500 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/28/92a1652f-8a5c-4f56-94a3-5e01fafea791.jpg)
Kondisi Jasmine yang sekarang belum balik performanya dari sebelumnya. Tapi, teman, pelatih, orangtua, semuanya angkat mental Jasmine.
Jasmine mengalami cedera bahu dan harus menjalani operasi pada Desember 2025. Setelah menjalani pemulihan, pebalap berusia 22 tahun ini kemudian memulai kembali latihan pada April. Baru berselang sebulan, Jasmine terjatuh saat latihan dan mengalami cedera lainnya, yakni sindrom piriformis.
Kondisi itu terjadi ketika otot piriformis di area bokong mengalami kejang, ketegangan, atau peradangan sehingga menekan saraf skiatik. Alhasil, rasa sakit kerap menjalar bahkan hingga telapak kaki. Jasmine pun bermain dengan rasa sakit itu.
Sudah memasuki Asian Games dengan rasa sakit, performa pun masih belum juga kembali ke level terbaik. Tujuannya hanya satu, mendorong batas kemampuan diri dan berserah pada Tuhan untuk hasilnya.
”Kondisi Jasmine yang sekarang belum balik performanya dari sebelumnya. Tapi, teman, pelatih, orangtua,semuanya angkat mental Jasmine. Ditambah lagi kalau lagi balap, atmosfernya beda, pikirannya cuma tampilkan yang terbaik, apalagi empat tahun sekali,” ucap pebalap yang sudah menjajal BMX sejak usia sembilan tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/28/6c9dd9c0-3ebd-4c43-9635-08081c1f57c5.jpg)
Performa Jasmine terbilang konsisten sejak babak kualifikasi. Ia selalu finis pada peringkat ketiga heat 2 di bawah Sifa pada moto 1, 2, dan 3. Dengan hasil itu, Jasmine berhak melaju ke babak final sebagai peringkat kelima secara keseluruhan.
Melihat hasil kualifikasi, Sifa yang menempati peringkat ketiga sebenarnya lebih berpeluang naik podium. Namun, fokus yang terganggu saat start membuat peluang Sifa melayang.
Saat final, Jasmine dan Sifa bersebelahan di gate. Ketika lomba dimulai, Wang Mengyao (China) terlihat menempel ke arah Sifa agar ruang gerak terbatas. Jika Sifa menambah kecepatan atau mencoba keluar dari impitan itu, ada potensi mengenai Jasmine.
Sifa pun tertinggal dengan sempat berada di posisi ketujuh dari total delapan finalis. Ia akhirnya finis sebagai posisi kelima. Adapun Jasmine menyalip Meng pada tikungan pertama untuk membuntuti Hatekayama dan Liao sekaligus mengamankan podium.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/28/6df6fa14-99a9-4d3a-80a2-ba57ac5694e5.jpg)
”Memang Sifa sempat membuat kesalahan ketika fokus di gate, apalagi sebelahnya Jasmine. Tidak mungkin memaksakan karena kami juga sampaikan, yang penting kita amankan dulu ’Merah Putih’,” kata pelatih tim BMX, Ari Kristanto.
Menurut Ari, memang tidak mudah mempertahankan prestasi. Apalagi, sebenarnya secara level performa dan pengalaman, Indonesia berada di bawah Jepang dan China.
Emas di Hangzhou dari Sifa adalah kejutan yang menyenangkan. Mereka awalnya menargetkan perunggu karena menyadari China akan mendominasi dengan pengalamannya, apalagi di rumah sendiri.
Meski begitu, Ari juga mengatakan, emas Sifa bukanlah keberuntungan. Itu hasil persiapan intensif selama 2,5 tahun tanpa pernah terputus. Kondisinya berbeda dengan persiapan untuk Asian Games tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/28/87f58d32-1341-4653-97b4-db52d527b170.jpg)
Selain jadi tahun yang berat, terutama untuk Jasmine yang cedera, persiapan juga tidak maksimal karena pemusatan latihan dimulai pada Februari. Artinya, persiapan mereka hanya tujuh bulan.
Kendati tidak bisa mempertahankan emas, Ari tetap senang karena anak-anak asuhannya mencoba tampil maksimal. Tim BMX pun tidak pulang dengan tangan hampa berkat perunggu Jasmine.
”Ditambah lagi usia Jasmine juga masih muda, potensinya besar, tetapi butuh kerja keras lagi. Kemampuan fisik, teknik, jam terbang di level dunia juga perlu ditingkatkan,” ujar Ari.
Prestasi dari Jasmine menjaga konsistensi BMX meraih medali sejak Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Pada edisi tersebut, Indonesia meraih perak lewat pebalap putra, I Gusti Bagus Saputra, dan perunggu pebalap putri, Wiji Lestari.
Dengan emas dari BMX tak berhasil dipertahankan, Indonesia sejauh ini baru mengoleksi dua emas dari angkat besi dan bulu tangkis. Selain dua emas, kontingen Merah Putih meraih lima perak dan 20 perunggu.
Penulis:
Rebiyyah Salasah dari Nagoya, JepangEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti