Jalur Terjal Menuju  ”Sunshine Double”

Petenis top dunia akan berkumpul di Indian Wells dan Miami selama sebulan. Mereka bersaing untuk menaklukkan salah satu tantangan sulit di arena tenis profesional.

04 Mar 2025 07:55 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Dalam persaingan tenis profesional terdapat beberapa tantangan yang dinilai lebih besar di antara yang lain. Biasanya, hanya petenis-petenis istimewa yang bisa menaklukkan tantangan tersebut.

Salah satu yang disebut sebagai tantangan teramat berat di lapangan tenis adalah mengalahkan Rafael Nadal di lapangan tanah liat Roland Garros, Perancis. Oleh petenis dan mantan petenis, tantangan itu bahkan disebut tidak hanya terberat di arena tenis, tetapi juga di dunia olahraga.

Tantangan besar lain adalah menjuarai Grand Slam, level tertinggi dalam turnamen profesional, apalagi jika melakukannya secara beruntun. Dunia tenis, bahkan, mengenal beberapa istilah untuk menyebut prestasi tertentu karena level tantangannya yang lebih besar.

”Calendar Slam”, misalnya, adalah sebutan untuk pencapaian menjuarai empat Grand Slam dalam satu tahun, yaitu Australia Terbuka, Perancis Terbuka, Wimbledon, dan Amerika Serikat Terbuka. Ada juga sebutan ”Golden Slam” untuk petenis yang menjuarai semua Grand Slam, ditambah meraih medali emas Olimpiade/Paraliampiade.

Berada di atas level semua itu adalah ”Calendar Golden Slam”, yaitu ketika petenis menjuarai semua Grand Slam ditambah meraih emas Olimpiade/Paralimpiade pada tahun yang sama. Hanya ada tiga petenis yang bisa meraih pencapaian tersebut, yaitu Steffi Graf pada 1988 serta Diede de Groot dan Dylan Ascott pada kategori petenis berkursi roda. Keduanya menjuarai semua ajang mayor serta meraih emas Paralimpiade pada 2021.

Petenis Spanyol Carlos Alcaraz merayakan kemenangannya atas petenis Rusia Daniil Medvedev dalam pertandingan semifinal Wimbledon di All England Club, London, Jumat (12/7/2024). Alcaraz mengalahkan Medvedev dengan skor 6-7(1), 6-3, 6-4, 6-4. *Carlos Alcaraz of Spain celebrates after defeating Daniil Medvedev of Russia in their semifinal match at the Wimbledon tennis championships in London, Friday, July 12, 2024. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Istilah lain untuk pencapaian luar biasa di ajang Grand Slam adalah ”Channel Slam”. Ini merupakan sebutan saat petenis menjuarai Perancis Terbuka dan Wimbledon pada tahun yang sama. ”Channel Slam” diambil dari English Channel atau Selat Inggris sebagai bagian dari Samudra Atlantik yang memisahkan bagian selatan Inggris dan utara Perancis.

Menjuarai dua Grand Slam tersebut secara beruntun begitu langka terjadi mengingat keduanya diselenggarakan pada jenis lapangan dengan karakter kontras, yaitu lapangan tanah liat (berkarakter lambat) untuk Perancis Terbuka dan lapangan rumput (berkarakter cepat) untuk Wimbledon.

Dalam era Terbuka (sejak 1968), hanya ada tujuh tunggal putri yang bisa menciptakan ”Channel Slam”, yaitu Evonne Goolagong, Margaret Court, Billie Jean King, Chris Evert, Martina Navratilova, Steffi Graf, dan Serena Williams. Adapun pada tunggal putra ada Rod Laver, Bjorn Borg, Roger Federer, Nadal, Novak Djokovic, dan Carlos Alcaraz.

Di luar Grand Slam, terdapat tantangan yang tak kalah berat, yaitu menjuarai turnamen berlevel WTA 1000 dan ATP Masters 1000 di Indian Wells dan Miami, Amerika Serikat. Ajang gabungan untuk petenis putra dan putri ini digelar beruntun dalam rentang hampir satu bulan, yaitu 5-16 Maret dan 18-30 Maret pada 2025.

Daftar petenis peraih ”Sunshine Double”

Menjuarai dua turnamen tersebut pada tahun yang sama disebut ”Sunshine Double”. Istilah itu berasal dari fakta bahwa Indian Wells dan Miami berada di negara bagian dengan cuaca panas, yaitu California dan Florida.

Saking beratnya tantangan menjuarai dua ajang itu secara beruntun, tidak semua petenis hebat bisa melakukannya. Sebut saja Nadal, Navratilova, dan Serena.

Nadal, bahkan, tidak pernah juara di Miami meski lima kali tampil di final. Navratilova dan Serena sebenarnya memiliki gelar dari kedua turnamen itu, tetapi tidak pernah pada tahun yang sama.

Sejak turnamen Indian Wells diselenggarakan pada 1974 untuk Tur ATP dan 1989 (Tur WTA) serta ATP/WTA Miami pada 1985, hanya ada tujuh tunggal putra yang menciptakan ”Sunshine Double”. Prestasi ini dimulai pada era 1990-an oleh tunggal putra Amerika Serikat, Jim Courier, pada 1991, lalu Michael Chang pada tahun berikutnya.

Graf menjadi petenis pertama yang meraih gelar di Indian Wells dan Miami secara beruntun lebih dari sekali, yaitu pada 1994 dan 1996. Pencapaian Graf dilampaui Novak Djokovic yang juara Indian Wells-Miami pada 2011, 2014, 2015, dan 2016. Roger Federer juga menjadi petenis yang lebih dari sekali meraih ”Sunshine Double”, pada 2005, 2006, dan 2017.

Petenis Spanyol Carlos Alcaraz merayakan kemenangan atas petenis Italia Jannik Sinner pada semifinal ATP Masters 1000 Indian Wells, Minggu (17/3/2024) WIB di Indian Wells, California, AS. Alcaraz menang atas Sinner pada laga itu.

Mereka adalah petenis yang bisa beradaptasi sangat baik dengan panasnya cuaca, permukaan lapangan, dan bola dengan karakter berbeda. Meski sama-sama berjenis lapangan keras, terdapat perbedaan kecil, tetapi terasa signifikan bagi petenis. Lapangan di Miami memantulkan bola lebih cepat dibandingkan dengan di Indian Wells.

Faktor lain yang menjadi tantangan adalah perbedaan waktu karena waktu di Miami lebih cepat tiga jam dibandingkan dengan di Indian Wells. Penerbangan antara kedua tempat itu pun cukup lama, yaitu sekitar enam jam.

Tanpa adanya jeda di antara dua turnamen, kecuali petenis memainkan setiap babaknya dalam dua hari sekali, bermain di Indian Wells, lalu Miami begitu menantang, tak hanya bagi fisik, tetapi juga mental.

Petenis putri, Maria Sakkari, misalnya, kalah pada laga pertamanya (babak kedua) di Miami setelah mencapai final Indian Wells 2022. ”Saat terbang dari California ke Florida, terdapat perbedaan waktu tiga jam dan itu sangat berpengaruh pada waktu tidur dan aktivitas lainnya. Performa di lapangan pun ikut terpengaruh,” komentar Sakkari yang hanya punya jeda tiga hari antara final Indian Wells dan babak kedua Miami.

Petenis Yunani, Maria Sakkari, mengembalikan bola ke arah petenis Polandia Iga Swiatek pada laga final turnamen tenis Indian Wells, di Indian Wells, California, AS, Minggu (20/3/2022). Swiatek menang dengan skor 6-4, 6-1. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)

Jessica Pegula mendapat hasil sebaliknya pada tahun yang sama. Setelah tersingkir pada babak kedua Indian Wells, dia mencapai semifinal di Miami. Setelah kesulitan menghadapi cuaca kering dan berangin di Indian Wells, Pegula memanfaatkan jeda lebih panjang untuk tampil di Miami.

”Untuk tampil nyaman pada dua turnamen sangat sulit karena kondisinya sangat berbeda,” kata Pegula.

Berdasarkan kesulitan yang dialaminya, Pegula dan Sakkari pun menghormati para petenis yang menjuarai Indian Wells dan Miami secara beruntun, salah satunya Iga Swiatek. Pada 2022 itu, Swiatek mengalahkan Sakkari di final Indian Wells dan Pegula pada semifinal di Miami.

Saat itu, Swiatek meraih gelar pertama WTA Indian Wells yang dilanjutkan dengan menjadi juara di Miami. Dia pun menjadi petenis terakhir yang meraih ”Sunshine Double”.

Mantan petenis nomor satu dunia, Kim Clijsters, menjelaskan, kunci terpenting menjuarai Indian Wells-Miami secara beruntun adalah menjaga fokus. Setelah menjuarai turnamen, petenis biasanya merasa lega karena terlepas dari tekanan. Fokus pada pertandingan dan rasa kompetitif pun hilang.

Petenis Polandia Iga Swiatek memegang piala setelah menjuarai WTA Masters 1000 Indian Wells di Indian Wells, California, AS, Minggu (17/3/2024). Swiatek menjadi juara setelah mengalahkan Maria Sakkari.

Namun, untuk menghadapi turnamen Indian Wells dan Miami tanpa jeda, kondisi tersebut harus diubah. Maka, agar fokusnya terjaga, Clijsters, yang menjuarai dua turnamen itu pada 2005 saat berusia 21 tahun, menjalani rutinitas seperti biasa.

”Setelah juara di Indian Wells, saya tak memandang diri sendiri sebagai favorit juara di Miami. Saya tidak memandang terlalu jauh ke depan. Saya berlatih, istirahat, mengatur makan, dan menjalani aktivitas lain seperti biasanya. Perayaan setelah juara di Indian Wells ditunda karena harus langsung menjalani turnamen berikutnya,” ujar Clijsters.

Federer bahkan menyebut jadwal turnamen Indian Wells dan Miami cukup brutal. Apalagi, turnamen dengan level ATP Masters 1000 dan WTA 1000 adalah turnamen wajib bagi petenis yang memenuhi syarat.

”Saya tahu betapa sulitnya menjuarai Indian Wells dan Miami secara beruntun, apalagi persaingan dalam turnamen ATP Masters 1000 sendiri sudah sangat brutal. Tidak ada pertandingan mudah sejak babak pertama. Dengan format best of three sets, perbedaan antara satu petenis dan petenis lain sangat tipis,” kata Federer dalam laman resmi ATP.

Siapapun bisa juara

Setelah Federer meraih ”Sunshine Double” pada 2017 dan Swiatek pada 2022, hanya Elena Rybakina yang memiliki peluang terdekat untuk meraih prestasi serupa. Dia menjuarai WTA Indian Wells, lalu mencapai final Miami pada 2023. Namun, peluangnya menjadi juara di Miami digagalkan Petra Kvitova yang menjadi lawan di final.

Pada 2024, persaingan pada tunggal putri semakin terbuka. Di antara petenis top dunia, hanya Swiatek yang mencapai final, yaitu di Indian Wells, dan menjadi juara. Namun, di Miami, langkahnya dihentikan Ekaterina Alexandrova pada babak keempat.

Petenis AS Coco Gauff mengembalikan bola ke petenis Argentina Nadia Podoroska pada babak kedua WTA 1000 Miami di Stadion Hard Rock, Miami Gardens, Florida pada Jumat (22/3/2024) waktu setempat.

Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka, bahkan, tak mampu menembus babak delapan besar. Dia tersingkir pada babak keempat di Indian Wells, lalu babak ketiga di Miami.

Cori ”Coco” Gauff, yang lebih menyukai bermain di Miami, kalah pada babak keempat setelah sepekan sebelumnya mencapai semifinal di Indian Wells. Coco menyukai lapangan keras di Florida karena bisa membantunya melancarkan servis keras. Akan tetapi, sejak debut di WTA Miami pada 2019, dia tak pernah melewati babak keempat.

Persaingan pada 2025 tampaknya akan lebih terbuka dengan merosotnya performa Sabalenka, Swiatek, dan Coco seusai Australia Terbuka. Setelah kalah dari Madison Keys dalam final di Melbourne Park, Sabalenka kalah pada babak kedua WTA 1000 Doha, lalu babak ketiga Dubai pada turnamen dengan level yang sama.

Coco tak bisa melewati babak kedua pada dua ajang di Timur Tengah itu setelah kalah pada perempat final Australia Terbuka. Adapun Swiatek masih bisa mencapai semifinal di Doha, tetapi tampil lebih buruk di Dubai dan terhenti pada perempat final.

Lahirnya 12 juara dari 13 turnamen WTA, yang digelar pada Januari-Februari, memperlihatkan bahwa siapa pun bisa menjadi juara dalam persaingan tunggal putri yang untuk tiga tahun terakhir didominasi Swiatek. Petenis yang memiliki lima gelar Grand Slam tersebut, bahkan, belum mendapatkan gelar juara pada tahun ini.

Jannik Sinner of Italy plays a forehand return to Alex de Minaur of Australia during their quarterfinal match at the Australian Open tennis championship in Melbourne, Australia, Wednesday, Jan. 22, 2025. (AP Photo/Ng Han Guan)

Peta persaingan tunggal putra juga tak berbeda, apalagi ATP Masters 1000 Indian Wells dan Miami tak akan diikuti petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner. Dengan konsistensi performanya di level atas sejak 2024, petenis Italia ini sebenarnya memiliki peluang terbesar untuk menambah daftar petenis yang bisa menjuarai Indian Wells-Miami. Namun, Sinner menjalani skors tiga bulan karena doping dan baru bisa bertanding pada awal Mei.

Tanpa Sinner, Carlos Alcaraz menjadi kandidat terkuat berikutnya untuk membuat ”Sunshine Double” yang terakhir kali dibuat Federer pada 2017 di tunggal putra. Alcaraz adalah juara Indian Wells Masters 2023 dan 2024 serta meraih gelar di Miami pada 2022.

Rekam jejak itu seharusnya bisa menjadi modal Alcaraz untuk menambah catatan rekornya setelah menjadi petenis nomor satu dunia termuda, pada usia 20 tahun. Dia pun akan membawa gelar juara ATP 500 Rotterdam pada lapangan dalam ruangan yang super cepat untuk bekalnya di AS dalam sebulan ini.

Namun, petenis Spanyol itu belum memperlihatkan performa yang konsisten pada tiga turnamen walaupun hanya 2 kali kalah dari 13 pertandingan. Dia masih bisa dikalahkan Djokovic meski petenis berusia 37 tahun itu bermain dengan cedera hamstring pada perempat final Australia Terbuka. Di Doha, pada pertengahan Februari, Alcaraz kalah dari Jiri Lehecka (ranking ke-25 dunia) di perempat final.

Selain Alcaraz, tak ada petenis lain dengan performa meyakinkan yang bisa dikategorikan calon juara Indian Wells-Miami. Alexander Zverev, petenis ranking kedua dunia yang berpeluang menggeser posisi Sinner di kala menjalani skors, hanya dua kali mencapai perempat final dari tiga turnamen setelah final Australia Terbuka.

Petenis di bawahnya, yaitu Taylor Fritz, Casper Ruud, Andrey Rublev, Stefanos Tsitsipas, dan Alex de Minaur, juga tak punya bekal mumpuni untuk menjuarai dua turnamen Masters 1000 beruntun tanpa jeda.

Dengan kondisi tersebut, daftar para petenis istimewa peraih ”Sunshine Double” tampaknya masih sulit bertambah pada persaingan 2025 ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .