Lolos final Piala Asia Futsal adalah sebuah kebanggaan dari timnas futsal ketika kemarau prestasi di sepak bola. FFI pesat membangun futsal dalam satu dekade.
06 Feb 2026 16:07 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
”Jangan sampai coach Hector Souto diganti Patrick Kluivert.” Itu kelakar yang disampaikan pemain timnas futsal Indonesia, Firman Adriansyah, di sela Piala Asia Futsal 2026. Ada pesan tersembunyi dari pernyataan itu. Pemain, juga pencinta futsal nasional, berharap futsal Indonesia tetap berjalan mandiri seperti saat ini.
Tim nasional futsal Indonesia menuliskan tinta emas dengan menembus final Piala Asia Futsal 2026, membuktikan satu hal: olahraga bisa berkembang berkat jalan pembinaan berjenjang dari lapangan futsal sewaan di kota hingga desa, pertandingan sekolah hingga kampus, dan liga yang konsisten. Bukan dibangun dengan cara instan dan terkesan bermuatan politis.
Titik mula capaian futsal Indonesia saat ini dimulai pada 2014 ketika PSSI menginisiasi pembentukan Asosiasi Futsal Indonesia, kemudian berubah menjadi Federasi Futsal Indonesia (FFI). Di bawah kendali Hary Tanoesoedibjo (2014-2024) dan dilanjutkan Michael Sianipar, FFI mampu membangun futsal Indonesia sebagai kekuatan yang disegani di ASEAN dan mulai diperhitungkan di Asia.
Seperti sepak bola, FFI memulai perjalanan merevolusi futsal Indonesia di tengah sanksi pembekuan FIFA pada 2015-2016. Alih-alih berpangku diri akibat tidak bisa bertanding dengan negara lain, FFI membangun fondasi dengan mengubah format dan jenama kompetisi tertinggi menjadi Liga Futsal Pro Indonesia (PFL) pada 2016. Itu menggantikan Liga Futsal Indonesia yang telah dimulai pada 2006.
Setelah liga profesional mulai stabil dan menyediakan regenerasi pemain, FFI mulai lebih serius membentuk timnas. Dimulai dengan ambisi mengatasi ketertinggalan dari Thailand dan Vietnam yang sulit dihadapi skuad ”Garuda”, baik di Piala AFF maupun SEA Games.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/404e6adeadd6bb563e272055b78a0b2e-FAK_8443.jpg)
Untuk itu, FFI mendatangkan Kensuke Takahashi untuk menangani timnas futsal mulai 2018. Bersama Takahashi, Indonesia mulai membuktikan potensi besar dalam persaingan di kancah Asia Tenggara. Hal itu ditunjukkan dengan mencapai final Piala AFF 2019.
Tak bisa dimungkiri, Takahashi adalah peletak fondasi timnas futsal Indonesia dan memberikan standar bagi pemain untuk memahami kebutuhan mereka demi bersaing di ajang internasional.
Setelah bersama Takahashi, skuad Garuda meraih medali perunggu SEA Games 2021 dan kembali menjadi finalis Piala AFF 2022. Capaian itu diraih di bawah kendali pelatih asal Iran, Mohammad Hashemzadeh.
Anak asuhan Hashemzadeh mampu menembus perempat final Piala Asia 2022. Indonesia tersingkir setelah ditaklukkan Jepang 2-3.
Hector Souto, yang datang pada 2024 untuk melanjutkan estafet pelatih timnas futsal Indonesia, menyempurnakan capaian Takahashi dan Hashemzadeh.
Dalam dua tahun, Souto mengakhiri dominasi Thailand di ASEAN, tepatnya pada Piala AFF 2024 dan SEA Games 2025. Pada tahun ini, Indonesia mampu mencapai partai puncak Piala Asia Futsal 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/0b2d8e9fa33c495748b8ee2a03fcffe2-FAK_7968.jpg)
Hanya dalam waktu sepuluh tahun, FFI sudah mampu mengangkat derajat futsal Indonesia di level ASEAN dan Asia. Sebuah raihan yang tidak mampu dilakukan oleh pendahulu mereka, Badan Futsal Nasional, yang dibentuk menyambut Piala Asia Futsal 2002 hingga 2014.
Meskipun berada di bawah naungan PSSI, salah satunya ditandai dengan hak satu suara pada Kongres Luar Biasa PSSI, FFI telah melesat lebih cepat dari ”sang induk”. Ketika PSSI masih nirgelar di ASEAN, FFI sudah membawa Indonesia tampil di laga puncak pentas Asia.
Sejak kedatangannya melatih Bintang Timur di PFL edisi 2021-2022, Souto sudah menyaksikan potensi besar futsal Indonesia. Pemain yang berbakat hingga suporter yang fanatik adalah modal besar bagi futsal Indonesia untuk berkembang.
Ketika dipercaya menangani timnas Indonesia per 2024, juru taktik asal Spanyol itu langsung bertekad membawa timnas futsal Indonesia ke level Asia hingga dunia. Perkembangan perlahan ditunjukkan Souto dan anak asuhnya sehingga mewujudkan mimpi ke Piala Dunia Futsal 2028 berada di jalur yang tepat.
”Tujuan kami adalah membawa futsal Indonesia melampaui batas di turnamen internasional. Kadang usaha itu berhasil, tetapi kami terus belajar untuk meningkatkan diri. Ini adalah buah dari usaha kami yang tidak kenal lelah,” tutur Souto tentang keberhasilan timnya melibas Jepang 5-3 di semifinal dan lolos ke final Piala Asia Futsal 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/c1967d8f9ad8114eb93faa2e07558aeb-FAK_7571.jpg)
Takahashi pun tidak menduga timnas futsal Indonesia telah mencapai titik baru. Ia tidak menduga permainan skuad Garuda sudah jauh berkembang.
”Saya bisa katakan Indonesia adalah tim yang sangat kuat. Mereka lebih kuat dibandingkan kami. Kami berusaha menerapkan taktik, tetapi tidak menduga Indonesia bermain dengan level yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” kata Takahashi.
Ketika disinggung apa resep timnas futsal Indonesia bisa berkembang pesat, Takahashi menjawab, ”Indonesia bisa sangat kuat karena dukungan dari PSSI dan klub. Pelatih Hector (Souto) juga bekerja sangat baik.”
Di tengah euforia yang mulai mengemuka, muncul kekhawatiran campur tangan PSSI terhadap FFI dapat mengusik independensi futsal saat ini. Duduk bareng Michael Sianipar dengan Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi di royal box Indonesia Arena pada lagamelawan Jepang, Kamis (5/2/2026), menjadi sinyal bahwa FFI dan PSSI harus berjalan beriringan.
FFI membutuhkan PSSI untuk melanjutkan perkembangan, terutama investasi pembinaan di akar rumput. Selain itu, PSSI menjadi tumpuan ambisi Indonesia untuk memenangkan pencalonan tuan rumah Piala Dunia Futsal 2028.
Di sisi lain, dukungan pemerintah juga mulai muncul dan bisa menjadi titik tawar baru bagi FFI agar futsal kian diperhatikan. Hal itu ditunjukkan dengan kehadiran tiga menteri yang menyaksikan langsung aksi Ahmad Habibie dan kawan-kawan di Indonesia Arena.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/eebe2f6d3c1da674979d5add82463c7e-FAK_7680.jpg)
Dimulai dari Menteri Luar Negeri Sugiono pada laga penyisihan menghadapi Irak, Sabtu (31/1/2026). Kemudian, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pada dua laga fase gugur kontra Vietnam dan Jepang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga hadir di tribune teleskopik Indonesia Arena pada babak semifinal. Bahlil mengenakan jersei tim PFL, Black Steel Papua.
Kultur dan jenjang pembinaan futsal di Indonesia terbukti tepat untuk bersaing di Asia. Jika ingin terus terbang mengharumkan nama bangsa di Asia dan dunia, futsal—terutama timnas futsal Indonesia—jangan ditarik ke dalam kebijakan yang memiliki kepentingan tertentu. Serupa yang sudah menahun terjadi di sepak bola.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan