Petinju ortodoks sering kewalahan menghadapi lawan kidal. Madrid petinju ortodoks itu, sedangkan Arsenal sang petinju kidal. Itu sebabnya, Arsenal difavoritkan.
07 Apr 2025 19:02 WIB · Olahraga
Duel langka Arsenal versus Real Madrid akan tersaji lagi setelah pertemuan pertama dan terakhir pada 2006. Mereka menggabungkan total 15 trofi Liga Champions. Madrid ”Si Raja Eropa” dengan 15 gelar, sedangkan Arsenal nirgelar. Meskipun kalah telak dari sisi prestasi, Arsenal ternyata diunggulkan dalam laga perempat final nanti.
Opta Analyst sedikit lebih memfavoritkan ”Si Meriam” dalam prediksi superkomputer terbaru, Senin (7/4/2025). Arsenal diunggulkan lolos ke semifinal, menyingkirkan Madrid, dengan peluang sebesar 50,2 persen. Kans Madrid sedikit lebih kecil dengan 49,8 persen.
Prediksi dihasilkan dari 10.000 kali simulasi. Mereka menggunakan data penunjang berdasarkan performa tim sebelumnya dan saat ini yang tercatat dalam Opta Power Rankings. Probabilitas menang atau kalah dari bursa taruhan yang biasanya paling obyektif juga masuk dalam rumus model prediksi tersebut.
Sekilas, prediksi itu terlihat seperti dibuat oleh penggemar Arsenal. Bagaimana mungkin Kylian Mbappe dan rekan-rekan dengan sejarah cemerlang dan kultur kuat di Eropa, serta segudang pemain kelas dunia, tidak diunggulkan? Namun, faktanya, Arsenal memang berpotensi menang lebih besar karena faktor gaya bermain.
Di dunia tinju, petinju ortodoks sering kali kerepotan dengan lawan yang bertangan kidal. Jika diibaratkan, Madrid adalah petinju ortodoks tersebut. Mereka memiliki titik lemah yang merupakan keunggulan Arsenal. Saat bersamaan, kelebihan terbesar Madrid kemungkinan besar bisa diatasi tim lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/b4fd3316936a50f327a881eedd632eea-Spain_Soccer_La_Liga.jpg)
Potensi bencana Madrid mulai tergambar saat kalah dari Valencia 1-2, Sabtu (5/4/2025) malam WIB. Dua gol penyebab kekalahan tim asuhan Pelatih Carlo Ancelotti datang dari sundulan lawan. Salah satunya lewat tendangan sudut. Diketahui, duel udara dan bola mati merupakan kekuatan terbesar Arsenal.
Arsenal pernah disebut-sebut sebagai reinkarnasi tim semenjana Stoke City. Di era Pelatih Tony Pulis (2006-2013), Stoke nyaris hanya bisa mengandalkan gol dari bola mati. Hal itu bisa dikategorikan sebagai ejekan, tetapi juga bisa menjadi pengakuan. Si Meriam terlampau dominan dalam skema bola mati, terutama tendangan sudut.
Tim asuhan Manajer Mikel Arteta sudah menghasilkan 11 gol dari tendangan sudut sepanjang musim ini. Di Liga Inggris yang sangat mengandalkan fisik, tidak ada tim yang melebihi produktivitas Arsenal dari tendangan sudut. Adapun menurut SB Nation, Madrid sudah kemasukan 10 gol dari tendangan sudut pada musim ini.
Strategi tendangan sudut Arsenal selalu merepotkan tim lawan. Mereka akan memadati satu area kotak penalti dan membuat kiper lawan kesulitan bergerak. Strategi itu didukung dengan pemain-pemain bertubuh tinggi nan kekar, antara lain William Saliba (192 sentimeter), Gabriel Magalhaes (190 cm), dan Mikel Merino (189 cm).
Kelebihan Madrid sudah diketahui seisi dunia. Lini serang mereka begitu istimewa dengan nama-nama besar, seperti Mbappe, Vinicius Jr, dan Jude Bellingham. Masalahnya, Arsenal terkenal tangguh dalam bertahan. Arsenal baru kemasukan tiga gol dari delapan laga Liga Champions atau paling sedikit setelah Inter Milan.
Madrid sering kali kesulitan ketika menghadapi tim dengan struktur pertahanan rapat. Di laga kedua 16 besar versus Atletico, misalnya. ”Si Putih” hanya mampu mencatatkan enam tembakan pada waktu normal, dan salah satunya berasal dari penalti. Adapun Madrid gagal mencetak gol sampai babak adu penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/4b6373f50b5e5405d71fc9830f27b144-wires_photo_68_.jpg)
Pendekatan taktik Arteta akan sangat memengaruhi hasil dari pertemuan nanti. Laga pertama berlangsung di kandang Arsenal, Stadion Emirates, pada Rabu (9/4/2025) pukul 02.00 WIB. Madrid, seperti diisyaratkan Ancelotti setelah versus Valencia, akan bermain lebih pasif dan menunggu kesempatan untuk menyerang balik.
Arsenal perlu mencari modal keunggulan sebelum bertandang pada laga kedua. Namun, Bukayo Saka dan rekan-rekan tidak boleh terpancing. Jika terlalu ofensif dan melupakan struktur bertahan, mereka berpotensi dihukum tim tamu. Arteta perlu menemukan strategi dengan keseimbangan dalam serangan dan bertahan.
Faktor x selanjutnya adalah lubang yang ditinggalkan Gabriel. Diketahui, dua kelebihan Arsenal dalam bertahan dan tendangan sudut sangat berkaitan dengan Gabriel. Dia merupakan duet terbaik dari bek William Saliba. Pemain tim nasional Brasil itu juga sudah mencetak lima gol yang mayoritas dari skema bola mati.
Gabriel tidak akan bermain dalam dua laga versus Madrid. Dia harus menepi sampai akhir musim akibat cedera paha. Penggantinya masih menjadi tanda tanya besar untuk Arteta. Beberapa nama, seperti Jakub Kiwior dan Ben White, bisa mengisi posisi itu, tetapi hampir pasti tidak akan lebih baik dari Gabriel.
Meskipun demikian, terlepas dari prediksi dan gaya main, ada satu hal yang bisa mengubah segalanya. Itu adalah misteri ”DNA Eropa” milik Madrid. Faktor tersebut tidak terlihat di atas kertas, tetapi bisa menjadi pembeda di lapangan. Madrid membuktikan itu berulang kali, entah sudah berapa banyak korban mereka.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto