Jeda Internasional, Persimpangan Nasib Ange Postecoglou

Hanya dalam sebulan, jeda internasional memberikan suasana batin berbeda untuk Postecoglou. Dari mendapat pekerjaan baru di Forest, dia kini dalam ambang pemecatan.

07 Okt 2025 16:31 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Berbeda dengan saat di Tottenham Hotspur, tidak ada lagi fase bulan madu bagi pelatih Ange Postecoglou di Nottingham Forest. Adanya hanya badai besar tanpa henti dalam sebulan pertama kepemimpinannya. Jeda internasional membuat sang pelatih bisa bernapas sejenak sekaligus berefleksi.

Seperti kebetulan, klub Skotlandia Rangers baru saja memecat pelatih Russell Martin pada Senin (6/10/2025). Martin didepak hanya setelah memimpin tujuh pertandingan di Liga Skotlandia, 17 laga di seluruh kompetisi, dalam 123 hari. Alasan utamanya rekor buruk, hanya sekali menang di liga.

Situasi itu mulai dibanding-bandingkan dengan Postecoglou. Sejak direkrut Forest pada awal September 2025, dia belum mempersembahkan kemenangan dalam tujuh pertandingan di seluruh kompetisi. Forest kalah lima kali di antaranya, termasuk terakhir dari Newcastle United 0-2.

Quote

Jika orang-orang ingin melakukan penilaian setelah tiga setengah minggu, setelah kami menjalani tujuh pertandingan, saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Walaupun waktu Postecoglou jauh lebih singkat, ada kesamaan dari dua situasi itu. Postecoglou dan Martin sama-sama tidak didukung oleh penggemar klub. Para pendukung Forest bahkan sempat mengumandangkan kalimat ”Anda akan dipecat pada pagi hari” dalam laga versus FC Midtjylland.

Postecoglou sangat mengerti posisinya yang sedang terancam saat ini, termasuk kegelisahan dari para pendukung dan petinggi klub. Dia mengatakan tidak akan terkejut jika dipanggil berdiskusi dengan pemilik klub Evangelos Marinakis dalam waktu dekat untuk membahas masa depannya.

”Jika orang-orang ingin melakukan penilaian setelah tiga setengah minggu, setelah kami menjalani tujuh pertandingan, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saat bersamaan, tidak ada yang salah dengan situasi sulit. Saya suka berada di sini, saya suka berjuang,” ujar pelatih asal Australia tersebut.

Nottingham Forest's head coach Ange Postecoglou watches the play during the Premier League soccer match between Arsenal and Nottingham Forest in London, Saturday, Sept. 13, 2025. (AP Photo/Kin Cheung)

Pertahanan Forest sangat mengkhawatirkan di era Postecoglou. Mereka sudah kemasukan 15 gol dari 7 laga. Padahal, di era sebelumnya, bersama pelatih Nuno Espirito Santo, Forest dikenal sebagai salah satu tim defensif terbaik. Penurunan level di lini belakang begitu terasa.

Meskipun begitu, risiko itu sebenarnya tidak terhindarkan. Saat memilih Postecoglou, Marinakis juga sekaligus bersepakat untuk membeli ide sang pelatih. Seperti diketahui, Postecoglou dipecat dari Tottenham karena filosofi bermain yang terlalu ofensif dan terbuka.

Filosofi Postecoglou berbanding terbalik dengan Nuno yang terbilang pragmatis. Oleh karena itu, wajar jika Forrest mengalami turbulensi pada era baru kali ini. Elliot Anderson dan rekan-rekan masih beradaptasi dengan permainan ala Postecoglou yang lebih terbuka.

Belum lagi, Forest memang sedang dalam tren penurunan performa saat penghujung era Nuno. Mereka hanya menang empat kali dalam 13 pertandingan di seluruh kompetisi sejak April, sampai akhirnya Nuno dipecat pada jeda internasional sebelumnya.

Joe Hart, mantan kiper tim nasional Inggris, mengatakan, Postecoglou pantas diberi kesempatan. Dia pernah bekerja sama dengan sang pelatih di klub Skotlandia, Celtic. Ketika itu, Celtic juga kesulitan pada awal kepemimpinan Postecoglou. ”Ada banyak tekanan dari luar setelah kami hanya menang tiga kali dalam enam laga pertama,” ujarnya.

”Lalu, dia mengatakan kepada kami, perjalanan ke depan akan sangat berat. Namun, kami harus tetap melewati itu dan percaya kepadanya. Kami percaya dan memenangi beberapa gelar setelah itu. Anda harus memberikan waktu untuk dia. Ange adalah pria tangguh dan mengerti apa yang dihadapi,” lanjut Hart kepada BBC Sport.

Jeda krusial

Jeda internasional kali ini pun akan menjadi titik persimpangan nasib Postecoglou. Meskipun kurang realistis, dia bisa saja dipecat jika melihat karakter sang pemilik klub yang sangat ambisius. Seandainya diberikan kesempatan lagi, dia perlu membuat keputusan besar soal filosofi bermain.

Postecoglou bisa terus memaksakan filosofinya yang dijuluki ”Angeball” atau bermain lebih pragmatis untuk melewati masa darurat. Pilihan itu akan menentukan nasibnya dalam waktu dekat. Sebab, Forest akan menghadapi jadwal cukup berat seusai jeda internasional. Mereka ditantang Chelsea, Manchester United, dan Bournemouth di liga.

Tottenham Hotspur manager Ange Postecoglou celebrates with the trophy in front of fans after the final whistle in the UEFA Europa League final against Manchester United at the Estadio de San Mames in Bilbao, Spain, Wednesday, May 21, 2025. (Nick Potts/PA via AP)

Jika diamati lebih dalam, Forest banyak kemasukan dari situasi transisi serangan balik. Mereka kehilangan bola di separuh lapangan sendiri, lalu dimanfaatkan oleh lawan. Seperti di laga versus Newcastle, dua gol lawan dihasilkan setelah kesalahan Anderson dan Morgan Gibbs-White dalam penguasaan.

Masalah tersebut berawal dari ide Postecoglou untuk membangun serangan perlahan dari bawah, berbeda dengan Nuno yang sangat mengandalkan transisi. Ide itu terpancar dari penguasaan bola yang mencapai rerata 55,6 persen dalam empat laga terakhir. Adapun di bawah Nuno musim lalu, Forest hanya mencatat rerata 40,7 persen atau terendah ketiga di liga.

Pastinya akan lebih aman jika Postecoglou berkompromi. Dia bukannya tidak bisa bermain pragmatis, melainkan tidak ingin. Terbukti, sang pelatih mengantarkan Tottenham menang atas Manchester United di final Liga Europa musim lalu dengan strategi sangat defensif dan hati-hati.

Postecoglou harus menurunkan egonya sampai kondisi Forest lebih stabil. Sang pelatih agaknya mulai melunak karena sudah memahami ancaman yang terdapat di depan mata. ”Kami hanya perlu mementingkan hasil (positif) saat ini. Kami punya waktu dua minggu untuk memperbaikinya,” katanya sebelum jeda internasional.

Jika terus keras kepala dan tidak bisa menemukan momentum untuk bangkit, Postecoglou mungkin sudah kembali menganggur di jeda internasional berikutnya, November 2025. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto