Selama memimpin PCO, beragam kontroversi membayangi Hasan Nasbi. Salah satunya terkait pernyataannya saat mengomentari teror ”kepala babi” ke salah satu media.
29 Apr 2025 17:34 WIB · Politik & Hukum
Sejak pekan lalu, tepatnya Senin (21/4/2025), Hasan Nasbi memutuskan mundur dari jabatan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau PCO. Ia mendokumentasikan hari terakhirnya dalam video berdurasi 4 menit.
Meski sudah mundur sejak pekan lalu, keputusannya itu baru dirilis kepada publik melalui akun media sosial Total Politik, Selasa (29/4/2025). Ia mengaku memang akan mundur apabila sudah tak mampu mengatasi persoalan. Namun, tak jelas persoalan apa yang tidak mampu lagi ia atasi.
Lewat video hari terakhirnya bekerja, Hasan menyebut keputusan mundur adalah jalan terbaik yang dipikirkannya dalam suasana tenang. Ini diambil demi kebaikan komunikasi pemerintah di masa mendatang. Dia pun mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang sudah memberikan kepercayaan kepadanya sebagai anggota kabinet.
Dengan begitu, kariernya di dunia pemerintahan sebagai Kepala PCO kini berakhir setelah melayani dua presiden, Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, ia mengaku akan membantu kalau diminta membantu saat masa transisi kepemimpinan di Kantor Komunikasi Kepresidenan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/23/c349a449-1e6b-42fb-be9c-c19cbef99e02_jpg.jpg)
Karier Hasan di PCO sebagai aktor depan pemerintahan bermula saat diangkat sebagai Kepala PCO di pengujung pemerintahan Jokowi, persisnya pada 19 Agustus 2024. PCO merupakan lembaga setingkat kabinet yang baru dibentuk dan menggantikan peran juru bicara presiden. Figurnya hadir sebagai langkah transisi dari pemerintahan Jokowi ke pemerintahan Prabowo.
Selama memimpin PCO, beragam kontroversi membayangi Hasan. Salah satunya terkait pernyataannya yang dianggap ceroboh ketika mengomentari teror ”kepala babi” ke salah satu media massa nasional. Ia dikritik karena tidak sensitif dan meremehkan potensi ancaman terhadap kebebasan pers.
Kemungkinan mundurnya Pak Hasan Nasbi ini juga gak terlalu berpengaruh besar bagi pemerintahan, ya. Pak Prabowo bisa mengantinya dengan orang kepercayaan dia yang memang cocok dan tahu gaya komunikasinya Pak Prabowo.
Bahkan, Presiden Prabowo turut menganggap pernyataan Hasan sebagai keteledoran. ”Tapi, bener itu ucapan yang menurut saya teledor, itu ya keliru. Ya, saya kira beliau menyesal,” kata Prabowo saat wawancara dengan enam pemimpin redaksi dan jurnalis senior media nasional di Hambalang, Jawa Barat, Jumat (6/4/2025).
Hasan Nasbi menjadi orang ketiga yang mundur dari jajaran Kabinet Prabowo. Sebelumnya sudah ada Miftah Maulana Habiburrahman yang melepas jabatan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Ada juga Satryo Soemantri Brodjonegoro yang mundur dari jabatan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Hasan Nasbi lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 11 Oktober 1979. Ia berasal dari keluarga Minangkabau. Ibunya merupakan adik kandung dari Ahmad Syafii Maarif, tokoh intelektual dan pemuka Muhammadiyah.
Ia lulus sebagai sarjana ilmu politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) tahun 2004. Pada 2000, ia menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UI.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/19/73ec3f4f-3bd8-4751-af27-b81e8389e5e8_jpg.jpg)
Semasa kuliah, Hasan menjadi salah satu pendiri Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Tan Malaka, persisnya pada Juni 2002. Ia pun menjabat sebagai sekretaris untuk Harry A Poeze, seorang peneliti mengenai Tan Malaka.
Setelah lulus, ia sempat menjadi editor dan penulis buku, utamanya mengenai gagasan Tan Malaka. Contohnya buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka (2004) dan Mewarisi Gagasan Tan Malaka (2006). Pada 2005-2006, Hasan bekerja sebagai jurnalis di Harian Kompas.
Selama 2006-2008, Hasan menjadi peneliti di Pusat Kajian Politik (Puskapol) UI. Ia fokus bidang akademik dan politik. Hingga pada 2010, ia resmi mendirikan lembaga survei bernama Cyrus Network. Titik ini menjadi penanda perubahan Hasan dari peneliti dan penulis menjadi partisipan langsung dalam membentuk narasi dan strategi politik melalui survei dan analisis.
Nama Hasan mulai dikenal luas saat terlibat dalam pemenangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012. Bahkan, Hasan disebut-sebut menjadi pendorong Jokowi, yang masih menjabat Wali Kota Solo, maju di Pilgub DKI berdasarkan data survei Cyrus Network.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/01/30/1d8c72fc-fb47-40f6-b439-8528937a9b4c_jpeg.jpg)
Dukungannya terhadap Jokowi terus berlanjut. Hasan terlibat dan berperan strategis dalam kemenangan berturut-turut Jokowi di Pemilihan Presiden 2014 dan 2019. Kepiawaian Hasan tak hanya diakui Jokowi, tetapi juga Prabowo Subianto, saat merapat ke pemerintahan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan.
Seiring dengan itu, Hasan Nasbi bergeser mendukung Prabowo Subianto dan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, pada Pilpres 2024. Ia bahkan sempat menjadi anggota tim koordinasi transisi masa pemerintahan. Pada akhirnya, Prabowo menunjuk Hasan Nasbi tetap di jabatan Kepala PCO, sebelum mundur pada pekan lalu.
Pengajar komunikasi politik dari Universitas Padjajaran, Kunto Adi, melihat, mundurnya Hasan Nasbi tak akan terlalu berpengaruh pada pemerintahan Prabowo. Pasalnya, sebelum mundur, Presiden telah menunjuk juru bicara baru yang secara tidak langsung mengambil tugas PCO, yakni Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Prasetyo pun telah mengusulkan Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro dan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo membantunya untuk menjalankan peran sebagai juru bicara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/09/4a2fe421-f88f-40cb-aa67-3b3b9448fa82_jpg.jpg)
Presiden, menurut Kunto, tampaknya sudah menganggap kinerja Hasan memburuk. Kerja-kerja PCO tak terlihat saat program pemerintah dinilai kacau, misalnya, saat penghentian distribusi gas LPG dan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kondisi ini memuncak ketika Hasan blunder lewat pernyataannya soal teror ”kepala babi”.
”Kemungkinan mundurnya Pak Hasan Nasbi ini juga gak terlalu berpengaruh besar bagi pemerintahan, ya. Pak Prabowo bisa menggantinya dengan orang kepercayaan dia yang memang cocok dan tahu gaya komunikasinya Pak Prabowo,” ujarnya.
Apa pun itu, Hasan Nasbi telah memutuskan mundur. Problem komunikasi pemerintah coba diperbaiki dengan penunjukan juru bicara baru. Kini, masyarakat menanti hasilnya.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul