Dalam pidatonya saat peringatan HUT PDI-P, Megawati menyebut partainya tengah menghadapi tahun penuh tantangan menyerempet bahaya.
10 Jan 2025 20:18 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P Megawati Soekarnoputri mengungkapkan, ada sejumlah ujian yang mulai muncul menjelang Kongres VI PDI-P, April mendatang. Salah satunya, ada pihak yang mengincar kursi ketua umum partai berlambang kepala banteng moncong putih itu. Agenda utama kongres salah satunya untuk menentukan ketua umum PDI-P untuk periode lima tahun berikutnya.
Dalam pidato politiknya di pembukaan HUT Ke-52 PDI-P, di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (10/1/2025), Megawati menyinggung istilah Italia, ”Vivere Pericoloso” yang berarti hidup menyerempet bahaya. Ia pun menyebut, tahun-tahun ini partainya juga tengah menghadapi penuh tantangan atau ia sebut sebagai tahun menyerempet bahaya.
Namun, Megawati mengingatkan bahwa PDI-P telah terbiasa melewati sejumlah ujian sejak zaman Orde Baru. ”Berbagai ujian menjelang Kongres VI itu sudah mulai tampak, hal tersebut sudah biasa kita hadapi sejak zaman Orde Baru,” katanya.
Megawati pun menilai, yang terjadi saat ini diibaratkan sebagai senam politik di mana senam itu beraturan dan berirama. Namun, Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini mengibaratkan politik terkadang juga seperti pencak silat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/10/4986b36f-46ad-4bf9-8765-eb042eae9295_jpg.jpg)
”Terkadang senam itu kalau perlu, kalau senam, kan, teratur, satu, dua, tiga, empat. Gitu toh, tetapi kalau sudah pencak silat enggak boleh ketahuan dong, yang mana mau diginikan,” ujar Megawati sambil menunjukkan gerakan silat.
Megawati lalu membahas permintaan para kader yang menginginkan dirinya kembali menjadi Ketua Umum PDI-P periode 2025-2030. Megawati berkelakar, dirinya enggan memenuhi permintaan itu jika para kader tidak solid dan tidak memiliki semangat yang sama.
”Katanya minta saya ketua umum lagi, ketum lagi, tetapi nek anak buahku ngene kabeh, emoh (Kalau anak buah saya seperti ini semua, enggak mau),” tutur Megawati.
Namun, ia lantas mengungkapkan, jika dirinya tidak ditetapkan lagi sebagai ketua umum, ada pihak yang diam-diam mengincar posisinya. ”Tetapi terus ada yang kepengin (jadi ketua umum PDI-P), ha-ha-ha, gile,” katanya sambil tertawa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/10/0faad0c1-bd40-404e-a675-61428c3474d2_jpg.jpg)
Putri proklamator Bung Karno ini pun menanyakan kepada para jajaran DPP PDI-P yang hadir di lokasi HUT, ”Mau enggak kalau (dipimpin) sama yang kepengen (menjadi ketua umum PDI-P) itu?”
”Tidak,” jawab para elite PDI-P.
Ia kemudian menunjuk ke arah hadirin yang dianggapnya tidak berani menjawab pertanyaan tersebut dengan tegas. ”Hayo, gitu saja ada yang di sana enggak ngomong, berarti dia mau (pihak itu menjadi ketua umum), gila dah,” sambung Megawati.
Belakangan, PDI-P mengendus adanya upaya sistematis dan terstruktur dari pihak luar yang ingin mengacaukan atau mengawut-awut internal partai menjelang Kongres VI PDI-P. Ketua DPP PDI-P Deddy Yevri Sitorus pada 19 Desember 2024, tak membantah atas informasi yang diperoleh awak media soal upaya mantan kader PDI-P yang juga Presiden ke-7 RI Joko Widodo mengawut-awut internal PDI-P lewat pergantian posisi sekretaris jenderal (sekjen) PDI-P di Kongres 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/10/75753109-31cc-4b83-a3ec-a9c1fd7d0edb_jpg.jpg)
Seusai perayaan HUT PDI-P, Ketua DPP PDI-P Puan Maharani membantah isu Jokowi bakal menjadi Ketua Umum PDI-P. ”Enggak ada, enggak ada,” ujarnya.
Ia meminta publik tidak berandai-andai mengenai pergantian ketua umum PDI-P. Ia juga berharap seluruh pihak menghormati proses internal di suatu partai. Ia pun menegaskan, sejauh ini partainya solid.
”Kami solid. Kami yakin bahwa kongres adalah proses tertinggi dari proses internal suatu partai, begitu pula di PDI Perjuangan. Jadi, kami meyakini semuanya akan saling menghormati dan menghargai proses di partai itu bisa dijalani di internal partai tersebut,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa pergantian struktur di internal partai dalam kongres merupakan hal yang biasa. ”Setiap proses kongres di setiap partai, kan, biasa kalau kemudian terjadi pergantian struktur di partainya. Jadi, itu kan nanti kita lihat, di bulan April insya Allah PDI-P akan menggelar kongres,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/30/432cd530-ca0e-47be-85ca-629bee722555_jpg.jpg)
Selain soal rencana gelaran kongres PDI-P, Megawati dalam pidatonya juga berulang kali mengingatkan kadernya yang tak kuat untuk setia dan berdisiplin dalam cita-cita partai agar mengundurkan diri. Mengundurkan diri dinilainya lebih terhormat dibandingkan akhirnya dipecat oleh partai.
Pernyataan itu disampaikan kurang dari sebulan sejak PDI-P mengumumkan pemecatan mantan Presiden Joko Widodo beserta anak dan menantu, yakni Wakil Presiden Gibran Rakabuming dan gubernur terpilih Sumatera Utara Bobby Nasution.
”Sekarang sudah, bagi yang enggak senang di sini mundur, wae. Begitu, lo. Jadi paling tidak ada kehormatan begitu, lo, daripada dipecat,” kata Megawati.
Ia menekankan, cita-cita PDI-P selama ini berjuang untuk rakyat. ”Kalau kamu tidak suka dengan PDI-P, keluar, karena Ibu tahu, di dalam PDI-P ini yang ada adalah esensi perjuangan. Kamu pikir kalau kamu tidak seperti ini, yang Ibu ajarkan, kamu apa mikir, akan bisa hattrick kita? Belum tentu. Bisa melorot enggak jelas,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/17/931f37d5-940f-4d84-9b3e-2ef2ad4370d2.jpeg)
Megawati juga meminta para elite PDI-P tidak terjebak di zona nyaman, tetapi bisa terus bersama rakyat dan merasakan kesusahan wong cilik seperti yang diperintahkan partai.
”Ingat, ingat, rakyatmu. Kamu itu partai, lo, bukan perusahaan, lo. Elo kalau mau perusahaan monggo (keluar) wae. Etika, moral, dan hati nurani harus menjadi satu kesatuan pijakan dalam setiap mengambil keputusan,” tambahnya.
Penulis:
Nikolaus Harbowo, Machradin Wahyudi RitongaEditor:
A. Ponco Anggoro