Jelang Piala Dunia, Pemesanan Hotel di AS Jauh di Bawah Ekspektasi

Tingkat pemesanan hotel di AS untuk Piala Dunia 2026 jauh dari ekspektasi. Akomodasi mahal dan konflik geopolitik menekan permintaan.

06 Mei 2026 15:55 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Prasetyo Eko Prihananto

NEW YORK, RABU — Hingga sekitar sebulan sebelum pembukaan Piala Dunia 2026, pemesanan kamar hotel di Amerika Serikat ternyata jauh di bahwa ekspektasi. Hambatan visa dan kekhawatiran konflik geopolitik menjadi salah satu alasan yang menekan angka permintaan hotel.

Laporan tersebut didapat dari survei yang dilakukan oleh Asosiasi Hotel dan Penginapan Amerika (American Hotel and Lodging Association/AHLA) terhadap anggotanya di 11 wilayah metropolitan AS yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia, yang dirilis Senin (4/5/2026). Sebanyak 11 kota di AS akan menyelenggarakan laga Piala Dunia bersama dengan lima kota lain di Kanada dan Meksiko.

Kota-kota di AS tersebut di antaranya New Jersey, Los Angeles, Miami, San Francisco, dan Atalanta. Piala Dunia 2026 akan dibuka di Mexico City, Meksiko, pada 11 Juni 2026 yang mempertemukan tuan rumah melawan Afrika Selatan. Adapun partai puncak akan digelar di New Jersey pada 19 Juli 2026.

Piala Dunia 2026 menjadi ajang terbesar dalam sejarah turnamen olahraga ini. Untuk pertama kalinya, jumlah peserta bertambah menjadi 48 tim, dari sebelumnya 32 tim. Jumlah pertandingan dari babak penyisihan grup hingga partai final mencapai 104 laga.

New Jersey Transit Police Department�s Office of Emergency Management (OEM), along with federal, state, county and local partners, conduct emergency response drills near MetLife Stadium ahead of the 2026 FIFA World Cup in East Rutherford, New Jersey, on April 18, 2026. (Photo by Leonardo MUNOZ / AFP)

Sebanyak 80 persen responden melaporkan bahwa pemesanan hotel berada di bawah perkiraan awal. Sekitar 65 persen dari total responden menyebut hambatan visa dan kekhawatiran konflik geopolitik yang lebih luas sebagai isu yang menekan permintaan kamar. ”Untuk benar-benar mewujudkan potensi itu, AS dan FIFA harus memastikan pengalaman yang ramah dan lancar bagi pengunjung internasional,” ucap Maietta.

Meskipun Presiden Donald Trump sering membanggakan status AS sebagai tuan rumah ajang akbar tersebut, sejumlah kebijakan Washington berpotensi menyulitkan para pendukung tim berkunjung ke AS. Kebijakan tersebut di antaranya larangan perjalanan terhadap sejumlah negara hingga pengetatan visa kunjungan ke AS.

Pemerintah Trump memang berusaha meyakinkan FIFA bahwa mereka akan memfasilitasi pemegang tiket pertandingan Piala Dunia untuk mendapatkan visa, tetapi setiap pemohon akan menghadapi pemeriksaan ketat. Sejumlah kelompok suporter juga menyampaikan kekhawatiran tentang harga tiket yang tinggi dan praktik kenaikan harga akomodasi yang mencekik.

Salah satunya adalah peningkatan biaya transportasi di kereta api di New Jersey yang melonjak hingga nyaris 1.200 persen dari tarif normal untuk para pendukung yang ingin menyaksikan laga di Stadion Metlife. NJ Transit, pengelola transportasi publik di Negara Bagian New Jersey–New York, bakal menerapkan tarif 150 dolar AS (Rp 2,6 juta) untuk kereta bolak-balik Manhattan menuju Stadion MetLife. Tarif normal biasanya hanya 12,9 dolar AS (Rp 221.673).

Responden survei AHLA, yang dirilis sebagai bagian dari ”FIFA World Cup 2026 Hotel Outlook” organisasi tersebut, menggambarkan kondisi yang suram jelang turnamen. Di Kansas City, pemesanan hingga saat ini dilaporkan sangat jauh di bawah ekspektasi, bahkan berada di bawah tingkat normal untuk bulan Juni dan Juli.

President Donald Trump listens as FIFA President Gianni Infantino speaks during a meeting with the White House task force on the 2026 FIFA World Cup in the Oval Office of the White House, Monday, Nov. 17, 2025, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)

Di Boston, Philadelphia, San Francisco, dan Seattle, banyak responden menggambarkan bahwa Piala Dunia itu dianggap bukan sebagai ajang istimewa. Para pengelola hotel juga melaporkan bahwa pemesanan kamar dalam jumlah besar oleh FIFA, yang banyak di antaranya kemudian dibatalkan, telah menciptakan sinyal permintaan awal palsu.

”Ketika hotel menghadapi masalah permintaan yang terfragmentasi dan ketidakpastian terus berlangsung, banyak yang menyesuaikan ulang strategi atau menunda investasi khusus Piala Dunia, kemitraan merek, dan renovasi sementara,” demikian salah satu bunyi laporan AHLA.

Menanggapi laporan itu, FIFA mengatakan pelepasan kamar dilakukan ”sesuai dengan lini masa yang disepakati sesuai kontrak” dan menyebutnya sebagai ”praktik standar” untuk ajang olahraga berskala besar.

FIFA ”menjaga diskusi yang konsisten dengan para pemangku kepentingan hotel,” kata seorang juru bicara kepada AFP, seraya menambahkan bahwa permintaan global untuk Piala Dunia kali ini ”belum pernah terjadi sebelumnya, dengan lebih dari 5 juta tiket terjual.” (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati