Tidak ada transportasi publik dan zona fans gratis di Piala Dunia 2026. Pemerintah lokal menetapkan tarif kepada suporter demi menutup biaya persiapan.
22 Apr 2026 13:00 WIB · Olahraga
AFP/LEONARDO MUNOZ
Bagi publik sepak bola Indonesia, Piala Dunia 2026 akan mudah dijangkau. Menyaksikan 104 pertandingan bintang sepak bola terbaik di dunia tersaji secara gratis di TVRI. Namun, nuansa hiburan itu tidak terasa seandainya fans ingin mendukung langsung negara atau tim kesayangannya di Amerika Utara.
Sejak awal digelar pada 1930, Piala Dunia mencoreng slogan people’s game atau ”permainan rakyat” di sepak bola. FIFA, otoritas sepak bola dunia, menjadikan Piala Dunia sebagai sumber utama pendapatan mereka. Tak ayal, harga tiket Piala Dunia selalu lebih tinggi dibandingkan menonton duel di kompetisi domestik.
Namun, di tengah harga tiket melambung, FIFA membuka tangan untuk memberikan kemudahan kepada pendukung yang rela merogoh kantong secara dalam untuk membeli tiket dan menjalani perjalanan jauh dari negara asal.
Akses hiburan penunjang pertandingan, seperti transportasi publik, digratiskan bagi pemilik tiket laga. Izin masuk ke negara tuan rumah pun dipermudah.
Hal serupa tidak berlaku lagi di Piala Dunia 2026, terutama laga-laga yang tersaji di Amerika Serikat. Sebagai contoh, NJ Transit, pengelola transportasi publik di Negara Bagian New Jersey–New York, bakal menerapkan tarif 150 dolar AS (Rp 2,6 juta) untuk kereta bolak-balik Manhattan menuju Stadion MetLife.
Angkutan umum itu disebut The MetLife sticker shock yang ditargetkan mampu melayani sekitar 40.000 suporter pada hari pertandingan. Tarif itu berlaku untuk delapan laga di Stadion MetLife, termasuk pertandingan final. Terdapat kenaikan pesat nyaris 1.200 persen dari tarif normal sebesar 12,9 dolar AS (Rp 221.673).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/273882dcb957cf10ec0cfc86e024eeb8-wires_photo_37.jpg)
Kenaikan signifikan itu dilakukan demi menutup biaya produksi persiapan fasilitas penunjang Piala Dunia. NJ Transit melaporkan bahwa mereka harus mengeluarkan dana sebesar 62 juta dolar AS (Rp 1,06 triliun) untuk menyediakan transportasi umum bagi penonton Piala Dunia 2026.
Sebaliknya, dukungan pemerintah federal AS dan sponsor hanya menutup biaya operasional sebesar 14 juta dolar AS (Rp 240,6 miliar). Gubernur New Jersey Mikie Sherrill menyebut keputusan harga itu dibutuhkan untuk menghindari kenaikan permanen tiket kereta yang akan dialami pengguna lokal setelah Piala Dunia.
Sherrill pun sudah berkomunikasi dengan FIFA untuk memberikan subsidi transportasi umum, tetapi tidak ada respons dari FIFA.
”Saya tidak akan membiarkan warga New Jersey menyubsidi pemegang tiket Piala Dunia. Jika FIFA tidak mau membayar biaya operasional, suporter yang harus menanggungnya,” ucap Sherrill dilansir The Economic Times, Senin (20/4/2026).
Hal serupa disampaikan CEO NJ Transit Kris Kolluri. ”Kebijakan ini bukan penipuan harga. Kami hanya berusaha untuk menutup biaya operasional,” kata Kolluri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/566bd6934510ef6563561e261a81bbee-wires_photo_35.jpg)
Jarak Manhattan ke Stadion MetLife hanya sekitar 15,7 kilometer. Kereta menempuh perjalanan satu jam. Kondisi itu menyebabkan pendukung ramai membahas mahalnya tiket di media sosial.
Fans tidak sendirian. Gubernur New York Kathy Hochul juga mengecam kenaikan luar biasa ongkos kereta menuju Stadion MetLife. ”Mematok harga lebih dari 100 dolar AS untuk perjalanan pendek kereta terdengar sangat tidak masuk akal bagi saya,” kata Hochul.
Titik permasalahan lain ialah tidak ada moda transportasi alternatif menuju Stadion MetLife. Arena yang digunakan untuk NFL, kompetisi American football, itu tidak dekat dengan pusat kota atau gedung-gedung publik. Stadion MetLife dikelilingi jalan raya. Tak ayal, suporter tidak memiliki pilihan lain kecuali kereta ke stadion.
Menggunakan mobil pribadi atau Uber juga sulit. Tidak ada tempat pemberhentian di dekat stadion. Kawasan parkir luas di Stadion MetLife hanya ditujukan untuk kendaraan tim, delegasi FIFA, ofisial, dan petugas penunjang laga lainnya.
Satu-satunya kawasan parkir dekat stadion berada di American Dream Mall yang berjarak hampir dua kilometer dari pintu masuk stadion. Namun, parkir harian di kawasan itu dikenai tarif tinggi, yakni 225 dolar AS (Rp 3,86 juta).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/935087ce2904ce1078d9842bd3889bf3-wires_photo_34.jpg)
Tidak hanya New Jersey, Pemerintah Kota Boston juga memutuskan untuk menaikkan tarif transportasi publik mereka yang menuju arena pertandingan, Stadion Gillette. Bus ekspres akan dikenai tarif 95 dolar AS (Rp 1,6 juta).
Kemudian, kereta dikenai biaya perjalanan bolak-balik 80 dolar AS (Rp 1,4 juta). Tarif dua layanan transportasi publik itu mengalami kenaikan empat kali lipat dibandingkan tarif normal.
Di tengah kenaikan tarif itu, setidaknya ada empat kota penyelenggara di AS yang tidak menaikkan biaya transportasi publik. Kota-kota itu adalah Kansas City, Houston, Philadelphia, dan Los Angeles.
Houston, misalnya, tetap mematok harga normal untuk bus 1,25 dolar AS (Rp 21.480) dan 4,5 dolar AS (Rp 77.300) untuk satu kali perjalanan kereta komuter. Adapun Kansas City juga menyiapkan layanan antar jemput dari pusat kota ke stadion dengan harga 15 dolar AS (Rp 257.760).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/cd8dce278ef81c383d56d61720249aab-Kansas_City_Prepares_to_Host_FIFA_World_Cup_2026.jpg)
Meski begitu, mematok tarif bagi suporter menuju stadion pada hari pertandingan adalah hal yang janggal bagi Piala Dunia. Di Piala Dunia 2022 Qatar, semua suporter bisa naik transportasi publik, baik MRT maupun bus, secara gratis selama turnamen berlangsung.
Demikian juga berlaku ketika Indonesia menggelar Piala Dunia U-17 2023. Bus antar jemput dari dan menuju stadion tidak memungut biaya.
Aturan tarif transportasi publik itu hadir akibat adanya perubahan Host City Agreement yang diberikan FIFA kepada kota penyelenggara Piala Dunia 2026. Pada 2023, FIFA menghapus klausul kewajiban kota penyelenggara menyediakan transportasi publik gratis bagi pemegang tiket laga.
Alasannya, pemerintah kota mengalami pembengkakan pengeluaran biaya operasional untuk mempersiapkan turnamen sepak bola terakbar itu. ”Kerugian” itu pun harus ditanggung suporter.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/2f512df2e6b08baf7939c26245f75bdf-WhatsApp_Image_2026_04_22_at_10.19.50.jpeg)
Di sisi lain, pemerintah federal AS hanya menyalurkan dana Program Bantuan Piala Dunia FIFA (FWCGP) sebesar 625 juta dolar AS (Rp 10,74 triliun). Dana itu pun hanya boleh digunakan pemerintah kota/negara bagian untuk biaya intelijen, keamanan siber, dan biaya lembur polisi.
Tidak ada anggaran bantuan pemerintah federal untuk biaya operasional penunjang, seperti transportasi umum, aktivitas yang berkaitan dengan turnamen, seperti menggelar konser di zona fans (fanzone), hingga kebersihan kota.
Itu menyebabkan kota-kota penyelenggara menarik biaya untuk zona fans yang selama ini selalu gratis di Piala Dunia. Kawasan itu adalah tempat para suporter yang tidak mendapat tiket laga menyaksikan pertandingan di layar besar, lalu terdapat aktivitas hiburan lainnya.
The Independent menyebut New York dan Los Angeles telah mematok biaya masuk zona fans sebesar 12,5 dolar AS (Rp 214.800). Sementara itu, Kansas City telah mengumumkan arena zona fans akan bebas biaya alias gratis, tetapi pendukung didorong membeli ”tiket masuk premium” seharga 55 dolar AS (Rp 945.120) demi tempat duduk lebih layak dan toilet di area khusus.
Jadi, suporter yang hendak datang langsung ke AS harus siap merogoh kocek lebih dalam dan merelakan pos tabungan demi menghabiskan waktu di kursi tribune stadion. Bahkan, mereka akan menjadi suporter dengan pengeluaran terbesar dalam sejarah turnamen.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nur Adji