Dalam beberapa hari ke depan, jemaah haji akan melaksanakan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Bagaimana kesiapan pelaksanaan puncak haji tersebut?
01 Jun 2025 08:26 WIB · Dikbud
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut ini?
1. Apa saja rangkaian puncak ibadah haji?
2. Apa yang perlu diwaspadai jemaah menjelang puncak ibadah haji?
3. Bagaiman persiapan jemaah menjelang puncak haji?
4. Apa imbauan Pemerintah Arab Saudi bagi jemaah haji?
5. Bagaimana kesiapan layanan haji?
Dalam rangkaian ibadah haji, wukuf di Arafah menjadi puncak ibadah haji pada 9 Dzulhijjah. Selama wukuf, jemaah dianjurkan melakukan berbagai amalan antara lain salat Zuhur dan Ashar, mendengarkan khotbah wukuf, dan berdzikir.
Setelah wukuf di Arafah, jemaah haji bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit atau bermalam dan terus memperbanyak zikir serta berdoa. Di Muzdalifah, jemaah dianjurkan untuk mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jumrah di Mina.
Kemudian pada tanggal 10 Dzulhijjah, jemaah bergerak menuju Mina untuk melontar jumrah aqabah, yakni satu dari tiga jumrah atau tiang batu di Mina. Jemaah melemparkan tujuh batu kerikil ke arah jumrah aqabah sebagai simbol menolak godaan setan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/27/f942de20-9098-4136-ab4b-cb54f599ba6e_jpg.jpg)
Setelah melontar jumrah, jemaah melakukan tahalul awal, yaitu mencukur rambut atau memotong sebagian rambut sebagai tanda berakhirnya larangan ihram. Kemudian jemaah melakukan tawaf Ifadhah dan sa’i di dalam Masjidil Haram, dilanjutkan tahalul.
Selama mabit di Mina, jemaah melontar tiga jumrah dengan urutan yakni Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah pada 11, 12, 13 Dzulhijjah yang disebut hari tasyrik. Masing-masing dilempari batu kerikil 7 kali dengan cara melontarkannya satu per satu.
Tahap terakhir dari ibadah haji adalah tawaf wada yaitu tawaf perpisahan di Masjidil Haram sebelum jemaah meninggalkan Mekkah. Tawaf wada dilakukan dengan mengelilingi kabah tujuh kali sebagai tanda perpisahan dan salam kepada Baitullah.
Jemaah haji, terutama berusia lanjut dan memiliki penyakit penyerta, mesti menjaga stamina menjelang puncak ibadah haji. Apalagi suhu udara di Mekkah diperkirakan lebih dari 45 derajat celsius, bahkan pada pelaksanaan wukuf diprediksi suhu udara 50 derajat celsius.
Anggota Amirulhajj Indonesia Taruna Ikrar mengingatkan jemaah agar mewaspadai heatstroke atau sengatan panas. Kondisi ini berbahaya bagi kesehatan, terutama lansia dan penderita penyakit kronis, serta mereka yang beraktivitas fisik tinggi saat beribadah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/31/e509d174fb82798dd0cc39a8f85b1737-1c608912_711c_48c4_933a_87e254e20452.jpeg)
Heatstroke berakibat fatal jika tak segera ditangani. Saat mengalami sengatan panas, suhu tubuh mencapai 40 derajat celsius yang bisa merusak organ tubuh. Gejalanya meliputi pusing, mual, kulit amat kering, detak jantung cepat, kebingungan, dan hilang kesadaran.
Jemaah juga perlu mewaspadai penularan infeksi saluran pernapasan akut, pneumonia, dan demensia. Jadi penting bagi jemaah menjaga asupan cairan, menghindari paparan sinar matahari dalam waktu lama, dan mengenakan pelindung seperti payung dan topi lebar.
Untuk mempersiapkan diri menyambut puncak pelaksanaan ibadah haji, jemah disarankan mengurangi aktivitas luar ruang di tengah suhu yang makin panas. Kegiatan lebih banyak dilakukan di hotel pemondokan maupun beribadah di masjid dekat tempat penginapan.
Layanan bus shalawat yang tiap hari mengantar jemaah ke Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, pun akan berhenti beroperasi selama 10 hari ke depan. Hal ini bertujuan agar jemaah haji bisa beristirahat atau menyimpan tenaga untuk melaksanakan puncak ibadah haji.
Berdasarkan pantauan, 30-31 Mei 2025, aktivitas jemaah lebih banyak dihabiskan di hotel dan majis sekitar pemondokan, dari shalat lima waktu hingga shalat Jumat. Sebagian anggota jemaah memperbanyak zikir dan mengaji di mushala di hotel.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/31/15eeb67cd59fe4f55352b388fb876081-IMG_1972.jpeg)
Menteri Agama Nasaruddin Umar, di Jeddah, mengimbau agar jemaah haji fokus pada wukuf. “Jangan sampai kita mengejar sunnah tapi gagal mendapat wajib. Misalnya mengejar arbain padahal kurang sehat, sehingga kesulitan beribadah haji di Arafah,” tuturnya.
Agar bisa melaksanakan puncak ibadah haji dengan maksimal, jemaah perlu menjaga kesehatan fisik dan mental dengan berolahraga rutin, konsumsi makanan sehat, dan cukup beristirahat. Kuatkan niat dan perbanyak ibadah sebelum berangkat.
Pastikan membawa perlengkapan yang diperlukan seperti pakaian ihram, obat-obatan pribadi, serta perlengkapan ibadah. Jemaah juga perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, memakai masker jika diperlukan, dan selalu cuci tangan, untuk mengurangi risiko penyakit dan menjaga kenyamanan selama beribadah.
Pemerintah Arab Saudi telah mengeluarkan maklumat terkait puncak ibadah haji atau fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Salah satunya, waspada kenaikan suhu hingga 50 derajat celsius. Maklumat kedua terkait kedisiplinan pergerakan Armuzna sesuai syarikahnya.
Ketiga, larangan penyembelihan di luar program Adahi. Dengan demikian, penyembelihan hewan dam atau alhajj dan kurban hanya bisa dilakukan lewat program Adahi yang resmi dikelola Pemerintah Arab Saudi, tidak melalui calo atau tempat tak berizin.
Maklumat keempat yakni pengaturan jadwal melontar jumrah yang dikeluarkan syarikah atau perusahaan penyedia layanan haji dan markaz layanan yang sudah sepengetahuan Kementerian Haji dan Umrah. Jadi jemaah dilarang melontar jumrah secara individual.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/19/23c4e79a-4b67-406c-b9a8-469057e8df20_jpeg.jpg)
Selain itu jemaah wajib membawa dan menjaga kartu nusuk agar tidak terkendala saat memasuki Armuzna maupun Masjidil Haram. Keenam, jemaah diminta menjaga kesehatan dengan selalu memakai masker dan payung saat di luar tenda, cuci tangan, memakai hand sanitizer, mengonsumsi makanan sehat, dan cukup cairan.
Maklumat lain yakni jemaah dapat menghubungi nomor pengaduan resmi 1966 terkait dengan layanan syarikah seperti listrik, pendingin ruangan, air bersih, ataupun fasilitas lain. Pemerintah Arab Saudi juga meminta petugas kloter wajib hadir di tenda bersama jemaah.
Adapun maklumat kesembilan terkait jemaah haji Indonesia yang mewakili seperempat dari jumlah total jemaah haji dunia, diharapkan menjadi teladan dalam ketaatan pada aturan dan disiplin. Hal ini untuk menjaga citra positif bangsa Indonesia di mata dunia.
Seiring makin dekatnya waktu pelaksanaan puncak ibadah haji, otoritas Arab Saudi akan menghentikan pengoperasian bus shalawat untuk sementara mulai Minggu (1/6/2025) pukul 12.00 waktu setempat. Bus akan kembali beroperasi pada Selasa (10/6/2025).
Hal ini disebabkan seluruh armada akan dipersiapkan untuk melayani jemaah haji ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Karena itu, jemaah disarankan untuk lebih banyak beraktivitas, termasuk beribadah di hotel dan fokus pada persiapan puncak ibadah haji.
Untuk kenyamanan jemaah, PPIH telah mengecek kesiapan sarana dan prasarana saat fase Armuzna mulai dari tenda, tempat tidur, tempat mandi, cuci, kakus atau MCK, alat pendingin ruangan di dalam tenda, dan ketersediaan air bersih bagi jemaah haji.
Terkait dengan layanan konsumsi, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyampaikan bahwa makanan siap saji disiapkan pada masa di mana kota Mekkah akan padat dan sulit mendistribusikan makanan tepat waktu.
Untuk memastikan konsumsi jemaah tetap tercukupi, PPIH menyiapkan makanan siap saji yang dipastikan cukup gizi, higienis, praktis, dan sesuai selera jemaah haji Indonesia. Makanan siap saji ini secara bertahap akan dibagikan pada jemaah.
Rabu (4/6/2025), jemaah mendapat makanan sarapan, selebihnya disajikan makan di Arafah. Pada 9 Juni makanan siap saji diberikan untuk makan siang dan makan malam. Lauk bisa langsung disantap tapi nasi agar direndam air hangat 5-10 menit. Begitu dibuka, makanan harus dihabiskan dan tidak disimpan.
Penulis:
Tim KompasEditor:
Evy Rachmawati, Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari