Jemaah diminta mengenali titik-titik penting di sekitar Masjidil Haram agar tidak tersasar di tengah lautan jemaah haji dari seluruh dunia.
22 Mei 2025 16:12 WIB · Humaniora
MEKKAH, KOMPAS — Situasi di Masjidil Haram yang makin padat membuat kasus jemaah tersasar maupun terpisah dari rombongan kian banyak. Karena itu, jemaah diminta mengenali terminal bus Shalawat dan area yang menjadi titik kumpul.
Pada Rabu (21/5/2025) malam, jemaah haji dari sejumlah negara yang datang ke Masjidil Haram semakin banyak. Saking padatnya jemaah, untuk berjalan pun sulit. Saat shalat, pelataran hotel dan mal sekitar masjid bahkan digunakan juga untuk shalat.
Makanya, kami terus mengimbau jemaah untuk mengenali setiap pintu-pintu kedatangan atau akses menuju area masjid. Terutama harus mengenali akses menuju terminal bus Shalawat.
Di waktu-waktu shalat, sejumlah akses ke pelataran masjid kerap diberi pembatas untuk mengatur area untuk berjalan maupun shalat. Hal ini membuat banyak jemaah sering tersasar dan terpisah dari rombongan. Petugas yang berjaga kewalahan mengurus jemaah yang tersasar atau terpisah dari rombongannya
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/4057d326110fc60e8c1a714b6cd89abf-IMG_1414.jpeg)
Tidak sedikit jemaah yang sama sekali tidak paham terminal mana yang harus dituju untuk naik bus Shalawat. Bahkan, banyak yang bingung mencari jalan masuk ke area dalam masjid atau Kabah. Dalam situasi seperti ini, jemaah kerap meminta petugas mengantar hingga terminal atau tempat lain yang dituju.
”Saya bertemu seorang jemaah asal Poso yang terpisah dari suaminya. Dia menangis minta diantar ke terminal karena takut hilang. Dia juga tidak tahu terminalnya mana. Setelah saya cek di kartu akses, ternyata terminal bus untuk ke hotelnya adalah terminal Jabal Kabah,” kata Shofatus Shodiqoh, pegawai Humas Kementerian Agama Rembang yang tergabung dalam tim Media Center Haji.
Di tengah jalan menuju Jabal Kabah, Shofatus akhirnya bertemu anggota rombongan jemaah tersebut dan suaminya yang juga sedang mencarinya.
Kepala Bidang Perlindungan Jemaah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Harun Ar Rasyid, mengimbau jemaah mengenali terminal bus Shalawat. Ini penting karena bus inilah yang menjadi tumpuan dan transportasi utama dari hotel menuju Masjidil Haram dan sebaliknya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/ee89fab126bea7f12414bf6ab52e5ed1-IMG_1412.jpeg)
”Makanya, kami terus mengimbau jemaah untuk mengenali setiap pintu-pintu kedatangan atau akses menuju area masjid. Terutama harus mengenali akses menuju terminal bus Shalawat,” kata Harun.
Jika tersasar, dia meminta jemaah tidak panik. Sebaliknya, jemaah diminta menuju titik-titik kumpul atau mencari pos-pos penjagaan yang dijaga petugas PPIH Arab Saudi di sekitar masjid. Setidaknya ada sembilan pos yang ditempatkan di Masjidil Haram.
Kesembilan pos ini berada di terminal Syib Amir, pintu keluar Marwah, area sai (Mas’a), area tawaf (Mathaf), Pintu Babussalam, area WC 3, ATM Center Dar At Tawhid, arah menuju Janwal (Anjum Hotel), dan area perluasan Abdullah. Setiap pos diisi enam petugas.
”Petugas yang ditempatkan akan melakukan penjagaan dan memantau jemaah. Mereka akan membantu jika ada jemaah yang tersasar atau terpisah dari rombongan. Untuk antisipasi insiden, misalnya ada yang sakit atau kecelakaan, mereka juga sudah siap,” kata Harun.
Dia menambahkan, petugas bahkan membawa sandal jepit cadangan untuk mengantisipasi jika ada jemaah yang kehilangan sandal. Hal ini penting mengingat suhu panas membuat lantai pelataran di bagian luar cukup panas dan bisa membuat kaki melepuh.
Untuk keamanan, Harun mengimbau jemaah tak membawa uang dalam jumlah banyak saat ke Masjidil Haram. Kartu Nusuk juga wajib dibawa sebab dalam beberapa hari terakhir terdapat sejumlah jemaah yang ditangkap karena tak membawa kartu Nusuk. Selain itu, kasus jemaah dirampok juga terjadi.
”Untuk kasus jemaah yang ditangkap memang ada beberapa, tapi semua sudah kami selesaikan. Makanya, kartu Nusuk saat ini sangat penting, tak boleh keluar hotel tanpa Nusuk,” kata Harun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/9fa3a3055b0efe7cbe9873ea1bf6e86a-IMG_1400.jpeg)
Untuk kemananan, Harun mengimbau jemaah tidak menggunakan taksi, apalagi jika bepergian sendiri. Kalaupun harus naik taksi, diajurkan untuk lebih dari tiga orang.
”Naik taksi pun, sebaiknya laki-laki atau suami yang naik dahulu dan perempuan kemudian. Saat turun sebaliknya, perempuan lebih dahulu baru laki-laki atau suami. Ini semua demi keamanan dan mencegah hal yang tak diinginkan terjadi,” kata Harun.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul