Jemaah Haji Jalani Pemeriksaan Berlapis untuk Masuk ke Mekkah dan Masjidil Haram

Pemeriksaan visa kian ketat dilakukan terutama di sejumlah lokasi sebelum masuk Mekkah dan kawasan Masjidil Haram.

12 Mei 2025 12:32 WIB · Humaniora

Oleh Reny Sri Ayu, dari Mekkah, Arab Saudi

MEKKAH, KOMPAS — Dalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji, jemaah harus melintasi pemeriksaan berlapis yang dilakukan oleh askar, petugas keamanan dan ketertiban Arab Saudi, di sejumlah lokasi. Pemeriksaan ini terutama dilakukan di perbatasan menuju Mekkah dan kawasan Masjidil Haram.

Rombongan Petugas Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang tiba di Jeddah pada Minggu (11/5/2025), misalnya, harus menjalani pemeriksaan visa di beberapa lokasi menuju ke Mekkah.

Beberapa kali bus yang ditumpangi oleh petugas dihentikan oleh askar. Askar kemudian masuk ke dalam bus dan memeriksa satu per satu visa penumpang. Mereka dilengkapi alat pemindai untuk mengecek kode batang serta semua data yang tertera di setiap lembar visa.

Pemeriksaan ketat juga dilakukan askar di kawasan Masjidil Haram. Sejak dari halaman hingga di pelataran masuk menuju Kabah, petugas ditempatkan di sejumlah lokasi untuk memeriksa kelengkapan visa jemaah.

Jemaah mulai berdatangan dan meramaikan Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi, Minggu (11/5/2025). Di kawasan ini, pemeriksaan berlapis dilakukan aparat keamanan dan ketertiban Arab Saudi.

Saat ini, situasi di Mekkah makin ramai oleh kedatangan jemaah dari sejumlah negara. Jemaah Indonesia pun sejak Sabtu (10/5/2025) sudah mulai masuk ke Mekkah. Adapun jemaah gelombang kedua akan langsung diterbangkan ke Jeddah dan selanjutnya ke Mekkah.

Di Mekkah, umumnya jemaah melakukan umrah wajib. Ini adalah rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Hal itu membuat kawasan Masjidil Haram kian ramai dan pemeriksaan pun kian ketat.

Sebelumnya, Konsul Jenderal RI di Jeddah Yusron B Ambrary mengatakan, saat ini aparat keamanan di Arab Saudi gencar memeriksa aliran pengunjung yang memasuki kawasan Mekkah dan Masjidil Haram. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencegah jemaah tanpa visa haji masuk.

Informasi sementara, saat ini ada sekitar 80 warga Indonesia yang tertahan di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Mereka untuk sementara ditahan ataupun dipulangkan akibat tak memiliki visa haji.

Jemaah yang masuk ke Mekkah melakukan umrah wajib, seperti tampak pada Minggu (11/5/2025). Pemeriksaan ketat berlangsung di sejumlah lokasi di kawasan Masjidil Haram.

”Pemerintah Arab Saudi sedang gencar-gencarnya merazia orang-orang yang tidak memiliki izin untuk berada di Mekkah, baik itu tasreh haji maupun tasreh khusus untuk ke Mekkah. Biasanya akan dibuang di luar kota Mekkah kalau dia masih memiliki visa Arab Saudi yang valid. Informasi yang kami dapatkan, sudah banyak sekali bus yang dikirim dari kota Mekkah untuk keluar. Biasanya mereka dilepas di Km 14, antara Jeddah-Mekkah,” katanya.

Jemaah ke Mekkah

Sementara itu, terkait kedatangan jemaah ke Mekkah, Muchlis M Hanafi, Direktur Layanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama, mengatakan, pelayanan dasar pada jemaah tetap dioptimalkan walau ada persoalan pencampuran kloter yang ditangani dalam satu syarikah (penyedia layanan haji).

”Idealnya satu kloter ditangani satu syarikah penyedia layanan. Tapi, karena sejumlah dinamika jelang keberangkatan, misalnya keterlambatan visa, perubahan manifes, serta sinkronisasi data penerbangan, ada beberapa kloter dengan jemaah yang berasal lebih dari satu syarikah,” katanya di Mekkah, Minggu malam.

Muchlis mengatakan, untuk jemaah gelombang pertama yang tiba di Madinah sejak 2 Mei lalu, penempatan di hotel dilakukan berdasarkan penyusunan kloter yang berisi campuran jemaah dari beberapa syarikah sesuai dengan kedatangan mereka.

Hal ini menyebabkan pendekatan pengelompokan bukan berdasarkan syarikah, melainkan berdasarkan kloter. Dampak dari hal ini, ada kemungkinan jemaah yang sebelumnya berada dalam satu kloter menjadi terpisah karena perbedaan pelayanan syarikah.

Jemaah memasuki kawasan Masjidil Haram, Minggu (11/5/2025). Saat ini, kedatangan jemaah dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, membuat kawasan Masjidil Haram kian ramai.

”Sampai 11 hari operasional, tantangan ini dapat dimitigasi dan persoalan dapat diatasi. Jemaah tetap mendapatkan layanan dasar, seperti akomodasi, transportasi, konsumsi, dan lainnya, termasuk bimbingan ibadah hingga distribusi Nusuk,” kata Hanafi.

Adapun yang terpisah, misalnya suami istri ataupun jemaah lansia yang mendapat pendampingan keluarga, akan diupayakan agar di Mekkah tetap bersama.


Kerabat Kerja

Penulis:

Reny Sri Ayu, dari Mekkah, Arab Saudi
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti