Jiwa Matador Spanyol Menyala di Mestalla

Bagai jiwa sang matador, Spanyol tidak pernah gentar sedikit pun walaupun terus dibuat ragu oleh Belanda. Kualitas mentalitas ”Raja” Eropa memang berbeda.

24 Mar 2025 08:06 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

VALENCIA, SENIN — Bukan tanpa alasan Spanyol bisa mengawinkan sepasang gelar kompetisi bergengsi Eropa. Mentalitas juara tim asuhan Pelatih Luis de la Fuente itu memang belum tertandingi. Belanda berupaya mendobrak dominasi mereka sekuat tenaga, tetapi hanya pulang dengan rasa kecewa.

Drama berlarut-larut tersaji di kandang Spanyol, Stadion Mestalla, Valencia, dalam laga kedua perempat final Liga Nasional Eropa 2024-2025, Senin (24/3/2025) dini hari WIB. Tuan rumah berhasil unggul tiga kali selama 120 menit pertandingan, tetapi selalu mampu diimbangi lagi oleh Belanda.

Skor berakhir 3-3, agregat 5-5, setelah waktu normal dan babak tambahan. Laga mesti ditentukan lewat adu penalti. Spanyol memastikan langkah ke semifinal seusai menang 5-4 dalam adu penalti. Gelandang Barcelona Pedri, sebagai penendang keenam, mengakhiri perlawanan Belanda.

”Laga yang rumit. Mereka tim yang bagus. Saya pikir kami bisa menemukan jalan keluar dengan baik. Bisa mengenakan jersei (tim nasional) saja sudah indah, apalagi bisa mencetak gol (kemenangan). Tentu kemenangan ini tidak mungkin terwujud tanpa Unai (Simon),” kata Pedri.

Simon, kiper sekaligus kapten Spanyol, sempat gagal menghalau dua tendangan penalti pada waktu normal dan babak tambahan. Itu berujung menjadi gol penyeimbang Belanda. Simon bangkit saat adu penalti. Dia menggagalkan penendang terakhir tim lawan, Donyell Malen.

Spain's midfielder #20 Pedri celebrates scoring during the penalty shoot out after the UEFA Nations League quarter final second leg football match between  Spain and Netherlands at the Mestalla stadium in Valencia, on March 23, 2025. (Photo by JOSE JORDAN / AFP)

Menariknya, terakhir kali menjalani adu penalti pada Juni 2023, tim ”Matador” sukses menjuarai Liga Nasional Eropa edisi sebelumnya. Simon pula yang menjadi sosok pahlawan dengan dua penyelamatan penalti dalam partai final versus Kroasia. Simon mengulang momen heroik itu.

Meskipun bukan turnamen sekelas Piala Eropa, Simon tetap serius mempersiapkan adu penalti. ”Kami sudah mempelajari tim lawan. Kami tahu (Virgil) Van Dijk akan menembak tinggi di sisi itu. Itu yang membuat saya marah ketika gagal menghentikannya,” ucap kiper Athletic Bilbao itu.

Kemenangan Spanyol memperlihatkan ketahanan mental sebagai juara bertahan Liga Nasional Eropa dan Piala Eropa. Mereka tidak pernah ”goyang” setelah diimbangi berulang kali di depan publik sendiri. Ujian hebat paling terasa dari dua momen penyerang 17 tahun, Lamine Yamal.

Yamal sempat membuat Spanyol unggul 3-2 lewat aksi individu pada babak tambahan. Gol itu sukses ”mengguncang” stadion. Kemenangan seolah sudah milik tuan rumah. Pemain andalan Belanda, Memphis Depay dan Cody Gakpo, sudah ditarik karena kehabisan tenaga.

Sampai tiba-tiba, pemain pengganti tim tamu, Xavi Simons, dijatuhkan di kotak penalti beberapa menit setelah jeda babak tambahan. Simons mengeksekusi penalti itu. Skor kembali imbang 3-3. ”Kami sudah memberikan yang terbaik untuk menang, tetapi gagal,” ucap Simons.

Spain's forward #19 Lamine Yamal reacts to failing to score during the penalty shoot outduring the UEFA Nations League quarter final second leg football match between  Spain and Netherlands at the Mestalla stadium in Valencia, on March 23, 2025. (Photo by JOSE JORDAN / AFP)

Saat adu penalti, Yamal sebagai penendang keempat seharusnya bisa membuat Spanyol unggul. Penendang Belanda sebelumnya, Noa Lang, gagal menjalankan tugas. Namun, Yamal justru ikut gagal. Hebatnya, gangguan itu tidak berpengaruh terhadap penembak Spanyol selanjutnya.

”Perasaan yang luar biasa. Penderitaan yang luar biasa. (Saya) menikmati laga yang sudah terasa seperti partai final itu. (Pembedanya) kami berada di level yang sudah kami kenali. Kami merasakan hal yang sama seperti saat menjadi juara (di Piala Eropa 2024),” tutur Fuente.

Di sisi lain, hasil itu kembali memperlihatkan nasib kurang mujur tim ”Oranye” ketika adu tos-tosan. Berdasarkan data Transfermarkt, Belanda hanya memenangi dua dari sembilan adu penalti terakhir. Kemenangan terakhir itu diraih di perempat final Piala Dunia Brasil 2014, versus Kosta Rika.

Sorotan utama laga tadi tertuju ke lini serang. Mereka saling unjuk gigi saat menyerang. Lini pertahanan kedua tim terlihat rapuh karena beberapa pemain penting absen. Spanyol tanpa bek Pau Cubarsi, sementara Belanda tidak diperkuat bek sayap Denzel Dumfries dan Jurrien Timber.

Saling balas gol tidak terhindari. Spanyol sudah unggul pada menit ke-8 lewat penalti Mikel Oyarzabal. Belanda membalas setelah turun minum dengan penalti Depay. Spanyol berbalik unggul lewat Oyarzabal lagi dari skema serangan balik. Tim tamu menyamakan kedudukan 11 menit sebelum waktu normal berakhir dengan sepakan Ian Maatsen.

Pelatih Kepala Belanda Ronald Koeman pun berkesimpulan, kedua tim pantas untuk lolos ke babak selanjutnya. ”Namun, hanya bisa satu yang lolos. Itu ditentukan dengan sedikit keberuntungan (lewat adu penalti). Hanya satu pemenangnya dan kali ini giliran Spanyol,” tutur Koeman.

Spain's Mikel Oyarzabal, center, heads the ball and scores his side second goal during the UEFA Nations League quarterfinal second leg match between the Netherlands and Spain at Mestalla stadium in Valencia, Spain, Sunday, March 23, 2025. (AP Photo/Alberto Saiz)

Pertarungan sengit itu sudah terjadi sejak laga pertama di Stadion Feyenoord, Rotterdam. Spanyol juga unggul cepat ketika itu, sebelum kedudukan dibalikkan dengan dua gol Belanda. Tim asuhan Fuente menghindari kekalahan pada injury time paruh kedua, setelah satu pemain Belanda terkena kartu merah.

Di semifinal, Spanyol akan berhadapan dengan Perancis. Laga tersebut merupakan ulangan semifinal Piala Eropa tahun lalu. Adapun Perancis berhasil lolos juga lewat kemenangan adu penalti atas Kroasia. Kylian Mbappe dan rekan-rekan menang 2-0 di laga kedua untuk memaksa agregat jadi imbang 2-2. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra