Tinju George Foreman di Keabadian

Mantan dua kali juara dunia tinju kelas berat dan peraih emas Olimpiade, George Foreman, meninggal di usia 76 tahun. Kehebatannya tercatat abadi dalam sejarah.

23 Mar 2025 04:22 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Jika berbicara soal George Foreman, nama pertama yang muncul dalam benak adalah Muhammad Ali. Kedua legenda tinju kelas berat itu pernah terlibat dalam salah satu pertarungan paling seru dalam sejarah. Ali pulang sebagai pahlawan, sementara Foreman menjadi pesakitan.

Duel bertajuk “Rumble in the Jungle” di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, pada 1974, itu selalu bercerita tentang kehebatan Ali. Ali dibuat terpojok selama tujuh ronde, lalu berhasil menjatuhkan Foreman pada ronde ke-8. Teknik, strategi, dan kedewasaan bertinju Ali dipuji hingga saat ini.

Alasan duel itu masih dibicarakan setelah lima dekade adalah faktor kejutan. Laga ibarat kisah David versus Goliath. Foreman yang datang dengan gelar WBA dan WBC, serta rekor tidak terkalahkan (40-0) sangat superior. Ali, mantan juara dunia, memerankan sosok David yang tidak diunggulkan.

Foreman menceritakan kisah di balik layar dalam wawancara untuk bersama BBC, Oktober 2024. Menurut dia, semua pengamat tinju mengunggulkannya untuk menang. “Bahkan, dia (Ali) dikatakan tidak akan bisa bertahan selama satu ronde,” katanya dalam perayaan 50 tahun duel versus Ali.

Status unggulan membuat Foreman terlalu percaya diri. Dalam serial dokumenter “Big George Foreman”, dia juga digambarkan sangat emosional karena terpancing perang psikologis dari Ali. Foreman pun datang seperti singa lapar yang penuh nafsu membunuh dan tidak bisa berpikir jernih.

FILE - Challenger Muhammad Ali, right, watches as defending world champion George Foreman goes down to the canvas in the eighth round of their WBA/WBC championship match, on Oct. 30, 1974, in Kinshasa, Zaire. (AP Photo/Richard Drew, File)

Sejarah memang hanya mencatat para pemenang. Namun, tidak akan ada kebesaran Ali tanpa sosok Foreman. Bayangkan, untuk menang, Ali harus menggunakan strategi “rope-a-dope” atau bersandar di tali ring sepanjang duel. Ali menunggu tenaga lawan habis. Hanya itu satu-satunya cara menang.

Ali menyadari, tidak mungkin “jual-beli” pukulan di tengah ring melawan Foreman. Itu sama saja seperti vonis kekalahan. Apalagi ketika awal-awal ronde, saat tangki tenaga Foreman masih penuh. Adapun ketika itu Foreman masih berusia 25 tahun, sementara Ali sudah 32 tahun.

Pertarungan ulang selalu dibahas, tetapi tidak pernah terjadi sampai kedua petinju tiada. “Saya hampir membencinya. Saya ingin membalas dendam. (Setelah itu), dia menjadi teman terbaik dan terlama yang saya miliki. Saya mencintainya hingga hari ini,” kata Foreman kepada USA Today, pada 2023.

Remaja kriminal

Perjalanan karier Foreman membuktikan, hal negatif bisa menjadi positif tergantung niat dan tempat. Api bisa membakar sesuatu, tetapi bisa berguna untuk memasak. Itu yang dipelajarinya semasa remaja. Dia membawa perangai temperamental dari jalanan ke ring tinju.

“Big George”, julukannya, lahir di Marshall, Texas, Amerika Serikat, pada 1949. Dibesarkan dalam keluarga yang kurang baik secara finansial, oleh ibu tunggal, dia sempat terjebak dalam kenakalan remaja. Foreman dikeluarkan dari sekolah pada usia 15 tahun dan mulai terlibat perampokan di jalan.

Nasibnya berubah ketika bergabung Job Corps, program pemerintah untuk mengasah kemampuan remaja yang kurang beruntung. Foreman bertemu pelatih pertamanya yang merupakan instruktur tinju di tempat itu, Doc Broadus. Emosi yang biasa ditumpahkan di jalan, mulai disalurkan ke ring.

 *** Local Caption *** GOERGE FOREMAN -- Juara tinju dunia kelas berat George Foreman (46) di Tabloid Mingguan "Bola" hari Minggu pagi, 20 Agustus 1995 selama kurang lebih satu jam. Ia mendapat sambutan meriah dari wartawan dan karyawan "Bola", serta masyarakat pecintanya di Palmerah Selatan.

Berita Terkait di Kompas, 21 Agustus 1995, 12.
Judul Amplop : Foreman

Setelah menjalani karier tinju amatir, dia langsung meraih emas untuk AS di Olimpiade Meksiko 1968. “Dua tahun sebelum menerima medali dan mendengarkan lagu kebangsaan, saya berada di bawah sebuah rumah untuk bersembunyi dari polisi. Saya berkata kepada diri sendiri ketika itu, akan melakukan sesuatu dalam hidup ini karena bukan pencuri,” ujar Foreman.

Karier profesional pertinju bergaya ortodoks itu dimulai setahun setelah Olimpiade. Perjalanan Big George begitu mulus dengan pukulan mematikan dari tangan kiri maupun kanan. Pukulannya terasa seperti suntikan obat bius yang melelapkan untuk setiap lawan.

Foreman mencatat rekor sempurna 37-0 saat akan menjalani perebutan gelar juara dunia kelas berat pertama kali, versus Joe Fraizer, pada 1973. Foreman hanya membutukan dua ronde untuk menang. Dia menjantuhkan Fraizer sebanyak enam kali, sebelum dinyatakan menang technical knock-out (TKO).

Sebagai catatan, Fraizer merupakan salah satu dari lima petinju yang pernah mengalahkan Ali. Dia pula yang mencoreng rekor kemenangan sempurna Ali. Fraizer sempat bertanding ulang dengan Foreman tiga tahun setelah pertemuan pertama dan kembali kalah TKO di ronde kelima.

FILE - Joe Frazier is staggered by hard right in second round of heavyweight title fight by challenger George Foreman in Kingston, Jamaica, on Jan. 23, 1973. (AP Photo, File)

Kebangkitan kedua

Jalan hidup Foreman tidak bisa ditebak. Saat masih berada di usia emas, 28 tahun, dia memutuskan pensiun. Keputusan dibuat setelah kalah dari Jimmy Young pada 1977. Itu merupakan kekalahan pertama Foreman setelah duel versus Ali. Pengumuman pensiun tersebut menggemparkan dunia tinju.

“Malam itu, di ruang ganti setelah kalah, saya kelelahan dan merasa panas. Saya seperti tidak bisa berjuang lagi untuk terus hidup. Lalu saya mendengar suara, ‘Apakah kamu percaya Tuhan? Mengapa kamu sudah siap untuk mati?’ Saya seperti berbicara dengan Tuhan,” tuturnya, seperti dikutip New York Times.

Foreman berkata, tidak terlalu percaya dengan agama. Namun, peristiwa di ruang ganti itu mengubah segalanya. Sejak itu, dia mengabdikan hidupnya untuk menjadi pendeta selama satu dekade ke depan. Sampai akhirnya sang legenda memutuskan kembali dari pensiun pada 1987.

Banyak yang meragukan keputusan itu. Foreman sudah berusia 38 tahun ketika berniat kembali ke ring dan tidak pernah bertinju selama satu dekade. Dia kembali bukan untuk diri sendiri, tetapi demi sasana pusat pemuda George Foreman yang terancam tutup karena krisis finansial.

Petualangan kedua itu berujung manis. Foreman merebut kembali gelar jaura dunia kelas berat WBA dan IBF setelah menang KO atas Michael Moorer pada 1994. Setahun berselang, dia mempertahankan gelar itu dalam duel versus Alex Schulz di usia 46 tahun 102 hari. Hasil itu menjadikannya juara dunia kelas berat tertua hingga saat ini.

FILE - George Foreman, left, hits Michael Moorer in the face with a left during the second round of their heavyweight championship fight at the MGM Grand in Las Vegas on Saturday, Nov. 5, 1994. (AP Photo/Lennox McLendon, File)

Foreman menyudahi karier cemerlangnya pada 1997, saat hampir menginjak 49 tahun. Dia mencatat rekor impresif 76-5 dengan kemenangan KO sebanyak 68 kali. Media tinju ternama, The Ring, tidak ragu menobatkannya sebagai salah satu petinju kelas berat terhebat sepanjang sejarah.

Foreman meninggal pada Jumat (21/3/2025) di usia 76 tahun. Fisik sang legenda telah tiada, tetapi kenangan tentang kehebatannya akan selalu abadi. Dari tinjunya, terdapat pesan yang “memukul” begitu dalam. Selama punya niat baik dan keyakinan, jalan buntu bisa terbuka dengan sendirinya. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .