Pedro baru sebelas hari berstatus pemain Chelsea, tetapi seolah sudah memimpin klub selama bertahun-tahun. Bagaimana dia mampu menaikkan level permainan "Si Biru"?
15 Jul 2025 07:11 WIB · Olahraga
Gelandang Chelsea, Cole Palmer, sangat marah kepada rekannya, Nicolas Jackson, di pengujung laga semifinal Piala Dunia Antarklub 2025. Dia sampai menendang gawang walaupun Chelsea sudah unggul 2-0 dengan sepuluh menit tersisa. Semua itu karena Jackson memaksa untuk menembak dari sudut sempit.
Jackson mengabaikan Palmer yang berdiri bebas tepat di depan gawang lawan. Alih-alih bisa mempertebal keunggulan, sang penyerang hanya bisa membuat bola keluar lapangan. Momen itu adalah gambaran chemistry dari dua pemain andalan Chelsea di lini serang dalam dua musim terakhir. Tidak sinkron.
Beberapa hari berselang, penyerang baru Chelsea, Joao Pedro, menunjukkan hal berbeda di laga final versus Paris Saint-Germain. Ketika laga baru berlangsung tujuh menit, Pedro langsung menciptakan peluang emas untuk Palmer. Dia memperlihatkan kecepatan dan kecerdasan berpikir serta sikap tidak egois pada saat bersamaan.
Pedro bisa saja berbalik badan dan langsung menembak bola dengan kaki kiri. Dia berada di kotak penalti, hanya berhadapan dengan bek Lucas Beraldo yang sudah kalah start lari. Namun, Pedro justru mengumpan bola ke belakang, tanpa melihat. Palmer berdiri bebas tanpa penjagaan. Sayangnya, tembakan Palmer sedikit melebar.
Dari momen itu, Pedro tidak terlihat seperti pemain yang baru sebelas hari berada di Chelsea. Mantan pemain Brighton and Hove Albion itu seolah sudah ratusan kali tampil bersama Palmer sehingga bak punya telepati antara satu sama lain. Dia juga seperti membawa hal baru yang tidak dimiliki para penyerang lain di skuad ”Si Biru”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/15/92fb341c-da93-4e5a-a445-eeb2f60f69fc_jpg.jpg)
”Dia adalah pemain yang luar biasa. Saya menontonnya di Brighton, tetapi sudah mengetahuinya sejak di Watford. Dia dibicarakan banyak orang ketika itu. Saya tidak tahu betapa hebat dirinya sampai saya berlatih langsung dan berbagi lapangan dengan dia. Dia sangat, sangat hebat,” kata bek Chelsea, Levi Colwill, kepada Hayters TV.
Palmer, lewat sumbangan dua gol dan asis, sukses mencuri sorotan di laga final. Di balik performa cemerlang itu, terdapat peran besar Pedro. Proses gol kedua dan ketiga Chelsea memperlihatkan bagaimana kualitas papan atas penyerang 23 tahun itu dalam penempatan posisi. Dia bisa melukai lawan tanpa menyentuh bola.
Gol kedua Chelsea bermula dari situasi transisi serangan balik. Tiga penyerang Chelsea berhadapan dengan tiga pemain bertahan PSG. Pedro tidak termasuk dalam tiga pemain itu. Dia tertinggal di tengah lapangan. Hebatnya, Pedro langsung berlari secepat mungkin untuk membuat situasi jadi empat versus tiga.
Bola berada di kaki Palmer yang berhadapan satu lawan satu dengan gelandang PSG, Vitinha. Banyak penyerang biasanya akan berlari ke tiang jauh untuk memberikan keleluasaan ruang untuk pemegang bola. Namun, Pedro mengambil jalan lain dengan berlari ke sisi luar, yaitu sisi kiri pertahanan PSG.
Kami sangat mengenalnya (Joao Pedro). Itu yang membuat dia berada di sini. Kami menyukainya dan yakin dia akan membantu. (Enzo Maresca)
Lini belakang PSG kebingungan akibat pergerakan itu. Vitinha sudah diikat oleh Palmer. Beraldo yang semula berada di tengah untuk membantu Vitinha terpaksa mengalihkan perhatian ke sisi sayap. Alhasil, Palmer dengan mudah melewati Vitinha dan menembak bola tanpa halangan. Beraldo tertipu pergerakan Pedro.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/15/12d3b6ec6c0b16cf7beb67fb9b8aa78a-Untitled_Project.jpg)
Pada gol ketiga Chelsea, Pedro tidak hanya mencetak gol. Pemain tim nasional Brasil itu juga menciptakan pergerakan cerdas ke ruang di antara Beraldo dan bek sayap Nuno Mendes. Pedro kembali melihat, bek lawan sudah terkunci dengan pemain Chelsea. Dia pun bisa berdiri bebas di kotak penalti saat menerima umpan terobosan Palmer.
Kecerdasan pergerakan tanpa bola dan penempatan posisi itu sudah terlihat sejak di Brighton. Pedro terbiasa bermain di dua posisi sekaligus, gelandang serang dan penyerang tengah. Dia sering kali harus menjadi pemain di belakang striker yang muncul dari lini kedua.
Pedro merupakan penyerang komplit yang selama ini dicari oleh Pelatih Enzo Maresca. Bersamanya, rencana transisi Chelsea berjalan sangat efektif. Pemain dengan tinggi 188 sentimeter itu tidak hanya bisa menerima umpan jauh, tetapi juga menahan bola sampai pemain lain ikut naik.
Pedro paham betul kapan harus memperlambat atau mempercepat permainan. Penyerang Chelsea lainnya, Jackson dan Liam Delap, lebih cenderung ingin menyerang secepat mungkin dalam situasi transisi.
”Kami sangat mengenalnya. Itu yang membuat dia berada di sini. Kami menyukainya dan yakin dia akan membantu,” kata Maresca.
Bersama Pedro, ”Si Biru” akhirnya memiliki penyerang yang tajam. Pedro tidak perlu banyak peluang untuk mencetak gol. Dia hanya mencatat enam tembakan selama Piala Dunia, tetapi mampu menghasilkan tiga gol. Penyelesaian akhirnya sangat memukau, contohnya saat mencungkil bola di depan kiper PSG, Gianluigi Donnarumma.
Chelsea, di era Maresca, dipenuhi dengan banyak bintang muda. Salah satu masalah terbesar dari tim seperti itu adalah ego tinggi yang saling bertabrakan. Pedro juga masih muda, tetapi tampak dewasa. Dia bisa menahan ego karena mengerti posisinya di klub. Kedewasaan itu terpancar dalam wawancara seusai Chelsea menjadi juara dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/15/af3ea56d8e348bf0f4070f7f8f3edb1d-cropped_image.jpg)
Pedro menyadari, Palmer adalah pemain terbaik di skuad Si Biru. Oleh karena itu, dia harus bisa sebaik mungkin memfasilitasi rekannya itu. ”Kami menyerang sisi kiri (PSG) karena Cole ada di sana. Dia menentukan permainan seusai keinginannya. Saya hanya membantu performa di sisi kiri itu dan akhirnya kami menang,” ujarnya.
Tebasan uang transfer 60 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,32 triliun, dari Chelsea ke Brighton, terasa murah sejauh ini. Pedro sudah memperlihatkan kualitas untuk membawa Chelsea ke level berikutnya. Jika ada yang tidak suka dengan kehadirannya, mungkin hanya Jackson dan tim-tim rival Si Biru. (AP/AFP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto