Jakarta Pertamina Enduro membalas kekalahan enam tahun silam dan membayar kerinduan akan gelar dengan menjuarai Proliga 2025. Mereka memetik buah persiapan matang.
11 Mei 2025 06:37 WIB · Olahraga
YOGYAKARTA, KOMPAS — Di hadapan ribuan penonton yang hampir memenuhi GOR Amongrogo, Yogyakarta, Sabtu (10/5/2025) malam, Jakarta Pertamina Enduro akhirnya meraih kejayaan lagi di Proliga. Tim ini menyegel gelar juara Proliga 2025 berkat persiapan matang sejak sebelum kompetisi dimulai. Dendam enam tahun silam dan kerinduan akan gelar pun terbayarkan.
Setelah pukulan outside hitter Jakarta Popsivo Polwan Amalia Fajrina membuat bola keluar lapangan, para pemain Jakarta Pertamina Enduro langsung bersujud syukur dan berpelukan. Poin dari bola keluar itu memastikan Jakarta Pertamina Enduro memenangi laga final dengan meyakinkan, 3-0 (25-23, 25-22, 25-16).
”Perjalanan ini terasa tidak sia-sia. Dari yang awalnya berat, performa naik-turun, tetapi alhamdulillah kami bisa melewati itu semua dan akhirnya menjadi juara,” ujar kapten Pertamina Enduro Tisya Amallya Putri.
Seperti yang disampaikan Tisya, jalan Pertamina Enduro untuk meraih gelar juara tidak mulus. Meski menjadi tim pertama yang memastikan tiket ke final, Pertamina Enduro menelan tiga kekalahan pada babak final four. Dua di antaranya dari tim yang tersingkir dari perburuan gelar, Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia dan Jakarta Electric PLN.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/10/f2257fad-80b8-4e85-985d-0df3a80c1a1b_jpg.jpg)
Kami terbiasa evaluasi buat pertandingan selanjutnya, melupakan hasil buruk yang sudah terjadi, fokus sama yang dihadapi saat ini.
Pada babak reguler, perjalanan mereka lebih berliku. Tisya dan kawan-kawan tidak tampil meyakinkan dengan menelan dua kekalahan beruntun pada pekan pertama. Namun, mereka bisa tancap gas pada pekan penentuan ke final four dan akhirnya finis pada posisi kedua klasemen musim reguler.
Meski berakhir cepat, 1 jam 27 menit, pertandingan final melawan Popsivo pun tidak berjalan mudah bagi Pertamina Enduro. Apalagi pada dua set awal, Popsivo juga memaksa Pertamina Enduro bermain reli untuk berebut poin. Kejar-mengejar poin tak terhindarkan.
”Namun, kami lebih bisa mengantisipasi. Kami terbiasa evaluasi buat pertandingan selanjutnya, melupakan hasil buruk yang sudah terjadi, fokus sama yang dihadapi saat ini. Ini jadi kunci kami bisa melewati momen sulit,” ucap Tisya yang akhirnya meraih gelar juara pertamanya di Proliga.
Dengan kemenangan atas Popsivo Polwan, Pertamina Enduro meraih kejayaan lagi di kompetisi bola voli kasta tertinggi di Indonesia itu. Pertamina Enduro sudah paceklik gelar sejak terakhir mengangkat trofi Proliga 2018.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/10/d91df397-6b63-4014-be96-e1a38348c176_jpg.jpg)
Sebenarnya, kesempatan untuk menjuarai Proliga datang lagi setahun kemudian. Pada Proliga 2019, Pertamina Enduro yang masih menggunakan nama Jakarta Pertamina Energi melaju ke final dan berhadapan dengan Popsivo Polwan. Namun, harapan Pertamina untuk mempertahankan gelar buyar.
Saat itu, Pertamina kalah 2-3 (25-15, 22-25, 25-21, 23-25, 12-15) dari Popsivo. Mereka kemudian baru ke final lagi pada 2023, tetapi kembali menelan kekalahan.
Artinya, kemenangan atas Popsivo Polwan pada Proliga 2025 ini membalas ”dendam” enam tahun silam sekaligus membasuh kerinduan akan gelar juara. Kini, Pertamina Enduro mengoleksi tiga gelar juara yang dimulai pada Proliga 2014.
Pelatih Pertamina Enduro Bulent Karslioglu mengatakan, kemenangan pada partai final itu memang layak diraih oleh timnya. Apalagi, Bulent menilai bahwa anak-anak asuhannya memang berkemampuan untuk mengalahkan Popsivo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/10/1796be89-a48f-4111-9cbc-5b7f52979c80_jpg.jpg)
Bulent memberi contoh pertemuan dengan Popsivo pada musim reguler, tepatnya pada pekan ketujuh. Pertamina Enduro menjadi satu-satunya tim yang mampu mengalahkan Popsivo dengan skor 3-1 (32-20, 16-25, 25-16, 25-18). Akibat aksi tim dengan nama pendek JPE ini, rekor kemenangan Popsivo terhenti.
JPE berhasil memetik satu kemenangan lagi atas Popsivo saat kedua tim berhadapan pada babak final four. Tisya dan kawan-kawan menang pada pekan kedua dengan skor 3-1 (25-17, 25-22, 19-15, 25-17).
Apabila dilihat dari hasil pertemuan sebelumnya ketika JPE menang, baru kali ini mereka bisa menang telak 3-0. ”Sebelum laga, kami dari tim kepelatihan menulis di buku soal skor 3-0 (yang kami harapkan). Kami meyakininya karena kami tahu kami punya kekuatan untuk itu,” tutur Bulent.
Dalam aspek serangan, Popsivo unggul tipis dari JPE dengan meraih 41 poin dari pukulan keras. JPE, yang serangannya dimotori Junaida Santi, Jordan Thompson, dan Yana Scherban, meraup 40 poin. Kendati jumlah poin lebih sedikit, JPE lebih efektif karena meraihnya dengan upaya lebih sedikit, yakni 83 spike. Adapun Popsivo mencatatkan 100 spike.
Baru pada aspek pertahanan, JPE yang unggul dengan raihan 8 poin dari upaya 23 kali blok. Empat di antaranya dilakukan Thompson dan menyumbang 3 poin. Sementara itu, Popsivo melakukan 20 kali blok dan hanya menghasilkan 3 poin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/10/70acbcba-3b3c-4d87-a973-524882351e8c_jpg.jpg)
Kata Bulent, hasil gemilang pada partai final itu bukan proses semalam. Itu merupakan hasil latihan berbulan-bulan, menyasar aspek-aspek fundamental dalam permainan bola voli, dan didukung soliditas tim yang kuat.
”Saya sudah bilang sejak putaran pertama, target saya adalah berada di final. Ketika sudah di final, target selanjutnya adalah juara. Selama enam bulan ini, kami menyiapkan diri untuk target tersebut, untuk bermain di final ini. Bermain sebagai tim, secara bersama-sama, bukan individu per individu pemain,” ujarnya lagi.
Chef de Mission JPE Werry Prayogi mengatakan, persiapan matang sudah dilakukan sebelum kompetisi dimulai. Mereka telah memutuskan untuk membangun skuad yang bagus sejak awal, termasuk dengan merekrut pemain lokal yang apik.
Baru ketika menjelang final four, Pertamina Enduro mulai menambah kekuatan tim dengan mendatangkan pemain bintang dunia Jordan Thompson. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 bersama tim putri Amerika Serikat ini sengaja direkrut untuk bisa membawa tim memenuhi target juara.
”Aura tim menjadi positif dengan kehadiran pemain dunia seperti Thompson. Tekanan sebenarnya menguat setelah sampai empat besar, tetapi begitu masuk Thompson, semua jadi lebih percaya diri,” kata Werry.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/10/29daf589-bf35-4169-84a9-e0c9c81241e4_jpg.jpg)
Di sisi lain, kemenangan JPE jadi pukulan telak bagi Popsivo yang merupakan juara musim reguler. Kesedihan pun terekam di wajah para pemain dan pelatih klub milik Polri tersebut.
Pelatih Popsivo Gerardo Daglio bahkan hanya bisa menyaksikan seremoni penyerahan medali dari sisi lapangan. Daglio bersandar pada tiang sembari dihibur anggota staf kepelatihannya.
”Saya bangga dengan semua yang telah kami lakukan. Tapi, dalam bola voli, tidak cukup untuk bermain bagus. Anda harus bermain dengan cara yang lebih bagus dari yang lain. Jika tidak, Anda akan kalah,” ujar pelatih asal Argentina ini.
”Kami berusaha untuk tidak kalah. Tapi final adalah final. Apa saja bisa terjadi,” ucapnya lagi.
Dengan hasil itu, Popsivo kembali harus menanti untuk bisa mencicipi lagi gelar juara Proliga. Sudah enam tahun berlalu sejak Popsivo meraih gelar juara Proliga 2019.
Pada musim-musim setelahnya, mereka maksimal hanya bisa mencapai final four, tetapi kesulitan menembus partai final. Saat kesempatan melaju ke final datang pada musim ini, gelar juara masih belum bisa jadi milik mereka.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji