Indonesia memiliki juara tenis WTA Tour. Janice Tjen meraih gelar pertama WTA Tour dengan menjuarai WTA 250 Chennai.
02 Nov 2025 23:40 WIB · Olahraga
AP
CHENNAI, MINGGU — Janice Tjen menambah data prestasi yang diraihnya pada 2025 di arena tenis profesional ketika menjuarai WTA 250 Chennai. Gelar itu menjadi gambaran perkembangan yang dilalui Janice sekaligus bekal untuk terus melangkah lebih tinggi.
Petenis putri Indonesia itu menjadi juara setelah mengalahkan Kimberly Birrell (Australia) dalam final yang berlangsung di lapangan keras SDAT Tennis Stadium, Chennai, India, Minggu (2/11/2025) malam WIB. Janice menang dengan skor 6-4, 6-3.
”Terima kasih kepada pelatih saya yang selalu mendampingi. Saya bermain semakin baik dari babak ke babak dan hari ini telah berusaha semakin baik dari sebelumnya,” kata Janice yang didampingi pelatihnya, Chris Bint, dan petenis Indonesia lainnya, Aldila Sutjiadi, di pinggir lapangan.
Bersama Aldila, Janice juga tampil pada final ganda putri yang berlangsung 30 menit setelah acara pemberian penghargaan untuk juara dan finalis tunggal putri. Janice/Aldila berhadapan dengan pasangan beda negara yang berpengalaman tampil dalam persaingan WTA Tour, Storm Hunter/Monica Niculescu (Australia/Romania).
Gelar di Chennai didapat Janice pada final kedua dari WTA 250, level terendah dalam struktur WTA Tour. Dia kalah pada final pertamanya dalam level tersebut, yaitu di Sao Paulo, Brasil, pada September.
Penampilannya di Sao Paulo terjadi berselang sekitar tiga pekan setelah menjalani debut di ajang Grand Slam, yaitu Amerika Serikat Terbuka. Janice tampil melalui jalur kualifikasi dan bertahan hingga babak kedua (kalah dari Emma Raducanu).
Janice mendapat tiket kualifikasi berkat perjalanan gemilang selama setahun sebelumnya pada turnamen profesional World Tour Tennis (WTT) yang dikelola Federasi Tenis Internasional (ITF).
Setelah lulus kuliah di Universitas Pepperdine, AS, yang menjadi jalurnya untuk mengasah kemampuan sebagai petenis, Janice kembali ke persaingan profesional. Seandainya tak mengikuti masukan pelatihnya di universitas dan saran dari Aldila untuk kembali ke tenis profesional, Janice mungkin tak akan menjuarai 13 dari 16 final turnamen WTT dalam setahun yang kemudian membawanya ke Flushing Meadows, New York, untuk mengikuti AS Terbuka.
Dari panggung Grand Slam itulah, Janice memasuki pintu untuk bertanding dalam rangkaian turnamen WTA Tour seperti di Chennai. Setelah bersaing di WTT tanpa ranking dunia pada Juni 2024, Janice akan menempati ranking 60 besar dunia, naik dari posisi ke-82, pada awal pekan ini.
Sebelum Janice, tak banyak petenis putri Indonesia yang bisa meraih gelar turnamen WTA Tour, terutama pada nomor tunggal. Pada 2001, ada Angelique Widjaja yang menjuarai WTA Bali Tier III atau setara WTA 250 pada saat ini.
Dalam persaingan nomor ganda, hasil yang didapat putri-putri Indonesia lebih baik. Yayuk Basuki menjadi juara WTA Tier I (setara WTA 1000) Kanada bersama Caroline Vis (Belanda) pada 1997. Mereka juga menjuarai WTA Tier II Dubai pada 2001 yang selevel dengan WTA 500.
Wynne Prakusya pun memiliki gelar juara ganda putri pada level WTA 500, yaitu dari WTA San Jose yang terakhir kali diselenggarakan pada 2022. Wynne juara pada 2001 saat berpasangan dengan Janet Lee (Taiwan).
Adapun hasil terbaik Angelique dari persaingan ganda adalah saat mencapai final WTA Tier I Kanada pada 2003. Berpasangan dengan Maria Vento-Kabchi (Venezuel), Angelique kalah dari Martina Navratilova/Svetlana Kuznetsova.
Meski menang straight sets, Janice menjalani laga ketat saat melawan Birrell dalam pertandingan selama dua jam. Janice langsung unggul ketika mematahkan servis Birrell pada gim pembuka. Namun, setelah melewati tiga gim, dia tak lagi mudah menambah keunggulan.
Saat Janice memegang servis pada gim keempat, Birrell mendapat tujuh kesempatan untuk mematahkan servis petenis Indonesia berusia 23 tahun tersebut. Terjadi 13 deuce pada gim ini karena Janice dan Birrell berulang kali gagal memanfaatkan kesempatan saat unggul.
Setiap keunggulan selalu diiringi unforced error pada perebutan poin berikutnya. Janice akhirnya mempertahankan servisnya, unggul 3-1, melalui winner dari forehand silang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/8a34d168c230f362a4caf81165083784-3e949706d74548e0981ba27e71f80940_0_5cdb3e9676734f69a8db5341334ebbc8.jpg)
Kimberly adalah petenis yang bisa mengubah keadaan kapan pun. Maka, saya berusaha tampil sebaik mungkin.
Kesalahan beruntun kedua petenis pada gim tersebut menjadi bagian dari 24 unforced error Janice dan 27 yang dilakukan Birrell pada set pertama. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan winner yang mereka buat, yaitu 14 dari Janice dan 11 dari Birrell.
Situasi pada awal set kedua sama seperti set pembuka ketika Janice mematahkan servis Birrell pada gim pertama. Kali ini, Janice bisa langsung menjauh, unggul 4-0, karena terbantu buruknya servis Birrell. Finalis ganda campuran Australia Terbuka 2025 itu (bersama John-Patrick Smith) membuat dua double fault pada gim ketiga hingga Janice mematahkan servis lawan untuk kedua kalinya.
Namun, Birrell hampir mengulang apa yang dilakukannya saat semifinal, yaitu menang tiga set setelah tertinggal 0-5 pada set penentuan. Dia mendekati Janice hingga skor berubah menjadi 4-3.
Teringat apa yang dilakukan Birrell di semifinal, Janice mencoba bermain lebih agresif termasuk dalam posisi menerima servis. Taktik ini membuahkan hasil ketika dia mematahkan servis lawan pada gim kesembilan yang menentukan kemenangannya.
”Kimberly adalah petenis yang bisa mengubah keadaan kapan pun. Maka, saya berusaha tampil sebaik mungkin,” kata Janice.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/05/3f8372ea00a121e183769334087e9cd9-cropped_image.jpg)
Jika bisa menambah gelar di Chennai dari nomor ganda bersama Aldila, Janice akan menambah gelar ganda dari level WTA 250 setelah bermain bersama petenis Polandia, Kataryzna Piter, di WTA Guangzhou. Adapun Aldila bisa menambah lima gelar dari level tersebut.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan