Para pebulu tangkis muda Indonesia lolos ke perempat final Kejuaraan Asia Yunior Beregu Campuran sebagai juara grup. Tantangan berikutnya datang dari Korea Selatan.
20 Jul 2025 20:13 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Bersaing dengan sistem relay point, setiap tim memiliki peluang berimbang untuk menang dalam Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Yunior Beregu. Setiap poin akan sangat berarti bagi diri sendiri, rekan mereka, dan untuk tim.
Hal itu diingatkan Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian menjelang pertemuan Indonesia dengan Korea Selatan dalam perempat final yang akan berlangsung di GOR Manahan, Solo, Jawa Tengah, Senin (21/7/2025). Pertemuan Indonesia dan Korea Selatan menjadi salah satu perempat final kejuaraan bagi atlet berusia 18 tahun ke bawah ini berdasarkan undian yang diselenggarakan Minggu.
Perempat finalis adalah delapan tim yang menempati peringkat dua besar pada empat grup di fase penyisihan yang berlangsung 18-20 Juli. Indonesia menjadi juara Grup B diikuti Malaysia pada peringkat kedua. Dalam penentuan juara grup, Minggu, Indonesia mengalahkan Malaysia dengan skor 110-92.
Jika menang atas Korea Selatan, yang mengalahkan Indonesia pada semifinal 2024, tim ”Merah Putih” akan berjumpa Thailand atau Hong Kong. Perempat final lainnya mempertemukan Malaysia dengan China serta Jepang dan India.
”Kekuatan Indonesia dan Korea cukup seimbang. Seperti yang selalu saya sampaikan pada atlet, mereka harus mengeluarkan kemampuan terbaik. Mereka juga tidak boleh lengah karena dalam relay point, keunggulan satu atau dua poin akan sangat berarti untuk rekan satu tim yang akan bertanding selanjutnya,” tutur Eng Hian.
Untuk pertama kali sejak digelar pada 2006, Kejuaraan Asia Yunior Beregu Campuran menggunakan sistem relay point seperti yang diterapkan dalam ajang serupa untuk level dunia pada 2024 di Nanchang, China. Saat itu, Indonesia menjadi juara dunia setelah mengalahkan China di final.
Sistem ini terdiri atas lima nomor yang digelar dalam dua putaran pada setiap pertandingan sejak fase penyisihan grup hingga final. Dengan demikian, pertemuan di antara dua tim terdiri atas 10 partai.
Setiap partai berakhir jika salah satu pemain memperoleh poin kelipatan 11, yaitu 11, 22, 33, dan seterusnya hingga salah satu tim mencapai 110 poin. Dengan format ini, setiap pemain saling bergantung pada rekan-rekan mereka.
Sistem ini serupa dengan nomor estafet yang berlaku dalam lomba lari dan renang. Pemenang adalah tim yang unggul berdasarkan total waktu tercepat.
Kami berusaha bermain tenang dan fokus untuk bisa kembali unggul dan akhirnya bisa melakukan hal itu.
Atlet yang unggul atas lawan belum tentu bisa mengantarkan timya unggul/menang, demikian pula sebaliknya. Salah satu momen yang menggambarkan hal itu terjadi ketika Indonesia berhadapan dengan Malaysia.
Ganda campuran Indonesia, Theodorus Steve Kurniawan/Luna Rianty Saffana, sebenarnya kalah 11-14 saat melawan Loh Ziheng/Noraqilah Maisarah. Namun, mereka membuat Indonesia unggul 44-43 pada partai keempat karena meraih poin kelipatan 11 terlebih dulu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/27/2f1a50106a1aad398393b7e38dfc6fdd-WhatsApp_Image_2025_04_27_at_18.52.28.jpeg)
Faktor ini tak lepas dari akumulasi keunggulan Indonesia, 33-29, dari tiga partai sebelumnya melalui Mohammad Zaki Ubaidillah (tunggal putra), Rinjani Kwinara Nastine/Riska Anggraini (ganda putri), dan Thalita Ramadhani Wiryawan (tunggal putri).
Ganda putra Indonesia, Ikhsan Lintang Pramudya/Devin Artha Wahyudi, mengutarakan, bermain dengan sistem relay point membuat mereka tegang. Apalagi, saat Ikhsan/Devin bermain pada partai kelima, Indonesia hanya unggul 44-43 dari hasil empat partai sebelumnya.
”Kami berusaha bermain tenang dan fokus untuk bisa kembali unggul dan akhirnya bisa melakukan hal itu. Saat bermain pada putaran kedua (partai kesepuluh), kami lebih optimistis karena tim sudah unggul cukup jauh,” kata Ikhsan.
Devin mengutarakan, jika diturunkan di perempat final, dia dan partnernya harus lebih cepat beradaptasi dengan suasana sejak perebutan poin pertama, apalagi jika dipercaya bermain dalam dua nomor seperti melawan Malaysia. Selain bersama Ikhsan, Devin bermain dalam ganda campuran bersama Rinjani. Devin pun harus beradaptasi dengan cepat dalam pola permainan berbeda ketika tampil bermain ganda campuran dan putra dalam dua partai beruntun, pada partai kesembilan dan 10.
Tunggal putri Thalita Ramadhani Wiryawan juga bertekad bermain lebih baik dan tanpa beban jika dipercaya turun di perempat final. Tunggal putri peringkat kesembilan dunia yunior itu mengatakan, dia masih diliputi rasa tegang saat tampil pada putaran pertama melawan Malaysia. ”Di pertandingan kedua, saya sudah bisa menikmati pertandingan,” katanya.
Thalita menjadi salah satu anggota tim Indonesia yang menempati peringkat 10 besar dunia. Selain itu, ada Zaki yang merupakan tunggal putra nomor satu dunia dan Rinjani (peringkat kesembilan ganda putri), dua pemain yang membela Indonesia saat menjadi juara dunia yunior beregu 2024.
Hal itu berbeda dengan Korea Selatan yang akan dihadapi Indonesia mulai pukul 09.00 WIB. Tak ada satu pun di antara skuad mereka yang menempati peringkat 10 besar. Meskipun demikian, seperti dikatakan Eng Hian, Zaki dan kawan-kawan tak boleh lengah, termasuk jika mereka unggul.
Dari final turnamen Jepang Terbuka BWF World Tour Super 750, kemenangan atas Wang Zhi Yi dengan skor 21-12, 21-10 menjadi gelar juara yang keenam bagi An Se-young pada 2025. Tunggal putri Korea Selatan itu mengumpulkan gelar juara tersebut dari tujuh turnamen, termasuk dari tiga turnamen Super 1000, yaitu Malaysia Terbuka, All England, dan Indonesia Terbuka.
Satu-satunya turnamen yang gagal dijuarai adalah Singapura Terbuka ketika tunggal putri peringkat teratas dunia itu kalah dari Chen Yu Fei pada perempat final. Pemain China itu menjadi satu-satunya pemain yang bisa mengalahkan An pada tahun ini dari 38 pertandingan.
”Setelah Indonesia Terbuka, saya bekerja keras memperbaiki semua kekurangan. Saya membayangkan performa seperti apa yang bisa memberi hasil lebih baik, termasuk untuk final hari ini. Saya senang akhirnya bisa mendapat hasil baik berkat permainan yang berkembang,” ujar An dalam laman resmi BWF.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/20/2a318283-afa9-4047-b9a5-039c5252559f_jpg.jpg)
Selain dari An, Korea Selatan mendapat gelar juara Jepang Terbuka dari ganda putra, Seo Seung-jae/Ki Won-ho. Mereka mengalahkan pasangan nomor satu dunia asal Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izuddin, dengan skor 21-16, 21-17.
Sementara pemain-pemain China menjuarai tiga nomor lain. Mereka adalah Shi Yu Qi (tunggal putra) serta juara bertahan Liu Sheng Shu/Tan Ning (ganda putri) dan Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin (ganda campuran).
Adapun hasil terbaik Indonesia adalah perempat final yang dicapai Putri Kusuma Wardani, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari, dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.
Persaingan mereka pada turnamen BWF World Tour akan berlanjut ke level Super 1000 keempat pada tahun ini, yaitu China Terbuka di Changzhou, 22-27 Juli. Indonesia memiliki 13 wakil dalam lima nomor yang juga bermain di Jepang Terbuka.
Hasil Indonesia versus Malaysia
1. Tungga putra: Mohammad Zaki Ubaidillah-Kong Wei Xiang 11-5
2. Ganda putri: Rinjani Kwinara Nastine/Riska Anggraini-Low Zi Yu/Dania Sofea 20-22 (Rinjani/Riska kalah 9-17)
3. Tunggal putri: Thalita Ramadhani Wiryawan-Oo Shan Zi 33-29 (Thalita menang 13-7)
4. Ganda campuran: Theodorus Steve Kurniawan/Luna Rianty Saffana-Loh Ziheng/Noraqilah Maisarah 44-43 (Theodorus/Luna kalah 11-14)
5. Ganda putra: Ikhsan Lintang Pramudya/Devin Artha Wahyudi- Loh/Tan Zhi Yang 55-52 (Ikhsan/Devin menang 11-9)
6. Zaki-Lim Boon Le 66-60 (Zaki menang 11-8)
7. Rinjani/Riska-Low/Sofea 77-67 (Rinjani/Riska menang 11-7)
8. Thalita-Eng Ler Qi 88-73 (Thalita menang 11-6)
9. Devin/Rinjani-Datu Anif Isaac//Sofea 99-81 (Devin/Rinjani menang 11-8)
10. Ikhsan/Devin-Irfan M Shazmir/Ahmad Redzuan 110-92 (skor kedua pasangan imbang 11-11)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto