Juventus Vs Inter Milan, Kembalinya Musuh Lama Christian Chivu

Pertarungan dua bek tengah Serie A era 2000-an belum sepenuhnya usai. Chivu dan Igor Tudor melanjutkan persaingan mereka di lapangan hijau sebagai pelatih.

13 Sep 2025 07:44 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

TURIN, SABTU – Ke mana pun Christian Chivu melangkah, di sana selalu ada Igor Tudor. Setelah pensiun, dua bek tangguh Serie A pada awal milenium ketiga itu kembali terlibat persaingan sebagai pelatih. Tudor, musuh lama Chivu, berupaya memperbaiki rekor pertemuan saat Juventus menjamu Inter Milan di Stadion Allianz, Turin, Sabtu (13/9/2025) pukul 23.00 WIB.

Chivu punya rekor pertemuan yang lebih baik dibandingkan Tudor. Keduanya pernah satu kali berhadapan sebagai pelatih pada April 2025. Chivu saat itu masih membesut Parma, sementara Tudor sudah mendapat kepercayaan menangani Juventus. Pertemuan perdana dua mantan bek itu sebagai pelatih berakhir dengan senyum Chivu yang membawa Parma menang tipis 1-0 atas Juventus. Kemenangan tersebut turut berperan penting menyelamatkan Parma dari jurang degradasi.

Pertarungan dua pelatih top Serie A itu merupakan ekstensa rivalitas mereka semasa aktif bermain. Sama-sama berposisi bek tengah, Chivu tercatat sudah empat kali berjibaku melawan Tudor di atas lapangan. Pertemuan pertama di antara keduanya berakhir imbang, ketika Roma ditahan Juventus 2-2 pada musim 2003-2004.

Pada pertemuan kedua di musim itu, Chivu mampu membawa Roma unggul 4-0 di markas sendiri, Stadion Olimpico, Roma. Musim berikutnya, Tudor dipinjamkan ke Siena. Pemain berpaspor Kroasia itu menjadi bagian dari kemenangan impresif 2-0 Siena saat bertandang ke Roma.

Pertemuan keempat atau terakhir di antara keduanya sebagai pemain terjadi pada musim 2005-2006, saat itu Tudor masih menjalani masa peminjaman di Siena. Malang bagi Tudor, Chivu kembali mengungguli dirinya dengan membawa Roma menang 2-0 dalam pertemuan itu.

Quote

Inter adalah tim yang hebat. Mereka memiliki pemain-pemain yang sudah matang dan berpengalaman.

Inter Milan's new coach Cristian Chivu speaks to the media at his introductory soccer news conference in Los Angeles, Saturday, June 14, 2025. (AP Photo/Greg Beacham)

Kemenangan pada pertemuan perdana mereka sebagai pelatih kian meneguhkan hegemoni Chivu atas Tudor. Berkali-kali mempecundangi Tudor sebagai pemain, Chivu ternyata masih unggul dalam urusan meramu taktik. Tidak ayal Derbi d’Italia antara Juventus dan Inter adalah panggung yang sempurna bagi Tudor membalas kekalahannya dari Chivu. Tekad itu juga disampaikan Tudor dalam sesi konferensi pers jelang laga.

”Inter adalah tim yang hebat. Mereka memiliki pemain-pemain yang sudah matang dan berpengalaman. Kami akan bicara, kami ingin fokus pada kekuatan kami dan kemudian memperbaiki kelemahan kami. Pada akhirnya, kita lihat siapa yang lebih baik,” ujar Tudor, dikutip dari Football Italia, Jumat (12/9/2025).

Menjaga kesempurnaan

Meski punya rekor pertemuan yang lebih buruk, Tudor mampu membawa Juventus menjaga kesempurnaan hingga pekan kedua Serie A. ”Si Nyonya Tua” memetik dua kemenangan beruntun tanpa sekali pun kebobolan dan mencetak tiga gol.

Situasi sebaliknya dialami Chivu yang baru saja menelan kekalahan pertama musim ini di markas sendiri dari Udinese. Inter gagal mempertahankan awal musim yang impresif saat menang telak lima gol tanpa balas kontra Torino pada laga pembuka Serie A.

Walau sudah merasakan kekalahan di pekan kedua, Chivu tidak terlalu mempermasalahkannya. Baginya, berkompetisi di liga sama seperti berlari maraton yang butuh konsistensi serta ketahanan hingga akhir.

”Kami tahu bagaimana musim ini berjalan, menang dan kalah, kapan pun tidak masalah. Ini (Serie A, layaknya) maraton. Ada 38 pertandingan. Kami semua tahu pentingnya pertandingan melawan Juventus. Kami harus menerima kenyataan bahwa ketika keadaan tidak berjalan baik, kami harus bangkit dan bekerja keras karena kami perlu belajar dari kesalahan dan melangkah maju dengan mentalitas, kepribadian, serta keberanian yang tepat. Inilah cara kami berkembang,” tutur Chivu, dikutip dari laman Inter.

Juventus' Croatian head coach Igor Tudor gestures during the FIFA Club World Cup 2025 Group G football match between Italy's Juventus and UAE's Al Ain FC at the Audi Field stadium Washington, DC, on June 18, 2025. (Photo by ROBERTO SCHMIDT / AFP)

Hasil inkonsisten di awal musim menunjukkan Chivu masih perlu waktu untuk menyempurnakan warisan Simone Inzaghi. Transisi kepelatihan memang berjalan mulus karena mereka terbiasa dengan sistem tiga bek. Namun, pakem permainan Chivu dan Inzaghi cukup berbeda dalam beberapa aspek. Inzaghi cenderung gemar mendominasi penguasaan bola yang diimbangi dengan pertahanan solid. Sementara Chivu menunjukkan gelagat menjadikan Inter tim yang bermain lebih vertikal dan tidak bisa diprediksi.

Gaya bermain itu akan menjadi ancaman bagi pertahanan kokoh Juventus yang digalang oleh bek Gleison Bremer. Bek asal Brasil itu sangat penting bagi Tudor dalam banyak hal. Ia bisa menjadi teladan sebagai pemain maupun pemimpin. Karisma dari pemain seperti Bremer begitu dibutuhkan Juventus untuk mengontrol tim.

Jika Tudor punya Bremer, Chivu punya bek tangguh serupa dalam diri Manuel Akanji. Pemain timnas Swiss yang baru pindah dari Manchester City itu hampir dipastikan bisa menjalani debutnya saat menghadapi Juventus. Kehadiran Akanji menjadi angin segar bagi pertahanan Inter yang mulai merapuh saat kalah dari Udinese.

”Akanji adalah pemain penting dengan nilai dan reputasi internasional. Penting bagi semua pemain untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan kami. Para pemain yang saya miliki adalah yang terbaik dan saya puas dengan mereka. Akanji siap bermain,” kata Chivu.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul