Pelatih kiper Sjoerd Woudenberg perkenalkan inovasi latihan bagi kiper-kiper timnas Indonesia. Metode itu telah terbukti tingkatkan prestasi timnas Swiss.
04 Jun 2025 12:09 WIB · Olahraga
Memiliki lima kiper berkualitas yang mengikuti pemusatan latihan jelang duel kontra China dan Jepang tidak membuat Sjoerd Woudenberg, pelatih kiper timnas Indonesia, santai dan berpuas diri. Mantan pelatih penjaga gawang Dewa United itu justru menghadirkan inovasi-inovasi yang baru tersaji di Indonesia, bahkan Asia Tenggara, demi meningkatkan level penjaga pertahanan terakhir skuad ”Garuda”.
Pada sesi latihan terbuka, Senin (2/6/2025), di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Woudenberg dibantu asistennya, Damian van Rensburg. Pemusatan latihan Juni ini adalah kesempatan pertama Van Rensburg, yang berasal dari Afrika Selatan, bekerja sama di timnas Indonesia. Sebelumnya, mereka diboyong Jan Olde Riekerink untuk melatih kiper-kiper Dewa United sejak 2023.
Woudenberg mengasuh kiper tim utama, sedangkan Van Rensburg bertanggung jawab untuk kiper tim Elite Pro Academy Dewa. Ketika Woudenberg diajak Pelatih Indonesia Patrick Kluivert melatih kiper tim Garuda, Van Rensburg menjadi suksesi di tim utama ”Banten Warriors”, julukan Dewa. Per Juni ini, ketika Dewa telah merampungkan musim 2024-2025, mereka kembali bersama di timnas Indonesia.
Woudenberg dan Van Rensburg memperkenalkan teknologi-teknologi baru untuk latihan kiper-kiper Indonesia. Ia menggunakan enam mannequin balon sebagai lawan tiruan untuk latihan simulasi menghadapi serangan lawan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/02/7eda1b2512dc3df3194f45209db64958-20250602YGA16.jpg)
Tak ketinggalan, Woudenberg juga selalu memegang perisai berwarna putih untuk menjadi pemantul bola demi menghadirkan sensasi arah tembakan yang variatif. Bola yang dipantulkan Woudenberg dengan perisai itu memiliki laju setara sepakan keras pemain depan lawan.
Bahkan, ketika bola memantul permukaan lapangan, arah bola semakin tidak beraturan. Situasi itu tentu amat penting untuk melatih refleks dan kecakapan kiper untuk membaca arah bola demi menghalau bola tidak masuk ke gawangnya.
Demi meningkatkan fokus dan visi antisipasi kiper, Woudenberg juga menginstruksikan kiper Emil Audero untuk mengenakan kacamata khusus. Kacamata itu memiliki penutup berwarna hitam yang berukuran setengah dari ukuran lensa di kedua sisi mata. Bahan plastik berwarna itu menutup daya jangkau kiper di bagian terluar pandangan kiper.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/04/27c7dece-160e-4bb3-8054-cd88800faf91_png.png)
Teknologi latihan mutakhir yang diterapkan Woudenberg tidak terlihat selama timnas Indonesia masih diasuh Shin Tae-yong.
Hal itu dilakukan untuk melatih fokus kiper seiring jarak pandang yang terbatas. Dengan alat itu, kiper juga dilatih agar cepat menentukan reaksi selanjutnya menghalau bola.
Kacamata khusus itu juga untuk meningkatkan kemampuan kiper memahami lingkungan sekitar sehingga diharapkan mampu menentukan posisi yang tepat untuk menghadapi obyek (bola) dan pemain lain di sekitarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/685abbe26530b2aeed7fbe68bc2a6abd-20250602YGA20.jpg)
Sayangnya, kacamata khusus itu hanya digunakan Emil yang berpeluang menjadi kiper utama pada laga melawan China, Kamis (5/6/2026) pukul 20.45 WIB, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Kiper-kiper pelapis, seperti Ernando Ari, Nadeo Argawinata, dan Reza Arya, belum menggunakan kacamata khusus itu.
Berdasarkan penelusuran Kompas, kacamata khusus yang digunakan Emil, kiper Palermo yang dipinjam dari Como, merupakan produk keluaran Swivel Vision yang berasal dari Amerika Serikat. Di laman resmi Swivel Vision, harga kacamata itu 45 dollar AS atau sekitar (Rp 733.000).
Swivel Vision telah digunakan Manuel Neuer di Bayern Muenchen sejak musim 2023-2024 lalu. Tim-tim Liga AS, salah satunya Philadelphia Union, juga mengenakan kacamata khusus itu.
Sejatinya, kacamata khusus untuk latihan olahraga tim itu dikeluarkan pertama kali oleh perusahaan Vision Up asal Jepang pada awal dekade 2010-an. Menyusul Vision Up, Senaptec dari AS juga mengeluarkan kacamata khusus itu. Dari sisi harga, kacamata buatan Swivel Vision paling terjangkau karena bahan kacamata yang belum secanggih Vision Up dan Senaptec.
Selain alat untuk menu latihan, Woudenberg juga menggunakan drone untuk melakukan perekaman latihan anak-anak asuhannya. Penggunaan drone itu bertujuan untuk mendapatkan analisis udara yang amat penting untuk memantau penempatan posisi, pengambilan keputusan, serta ketepatan teknik jatuh saat hendak menghalau bola.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/bc64380b35fab6b0728801380c571dfe-IMG_3433.jpeg)
Kecermatan analisis detail itu tidak bisa didapatkan jika pelatih kiper hanya melakukan pengamatan langsung di lapangan atau merekam latihan dengan kamera biasa. Sebelum di timnas Indonesia, Woudenberg dan Van Rensburg juga rutin melakukan rekaman udara ketika melatih kiper-kiper Dewa.
Metode latihan yang dilakukan Woudenberg menunjukkan performa yang baik bagi kiper utama Dewa, Sonny Stevens. Kiper asal Belanda itu mencatatkan jumlah laga nirbobol terbanyak di BRI Liga 1 Indonesia musim 2024-2025 dengan 14 laga dilalui tanpa kemasukan.
Tingkat penyelamatan Stevens pun mencapai 80 persen dari total tembakan yang dihadapinya per laga. Persentase itu meningkat dibandingkan 75 persen pada musim 2023-2024.
Emil menilai metode latihan yang diberikan Woudenberg dan Van Renburg memberikan manfaat bagi dirinya dan kiper skuad Garuda lainnya. ”Saya melihat kami semua fokus untuk berlatih dengan kemampuan terbaik. Saya merasakan adanya peningkatan yang kami alami sejak menjalani pemusatan latihan di Bali,” ucap Emil.
Woudenberg pun puas dengan performa latihan lima kipernya dalam satu pekan terakhir. Sebagai catatan, Maarten Paes, kiper utama Indonesia, baru bergabung latihan pada Selasa (3/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/02/5a00135e74389be413c5674cb12f9035-cropped_image.jpg)
”Saya bangga dengan grup kiper ini. Mereka saling mendorong satu sama lain untuk meningkatkan level setiap hari! Bersiap hadapi laga mendatang,” tulis Woudenberg dalam takarir di foto bersama lima kiper Indonesia dan Van Rensburg yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Selasa malam.
Teknologi latihan mutakhir yang diterapkan Woudenberg tidak terlihat selama timnas Indonesia masih diasuh Shin Tae-yong. Di era Shin, latihan kiper yang terpisah masih menggunakan metode konvensional. Belum ada metode latihan seperti yang diperkenalkan Woudenberg yang sejatinya telah jamak diadopsi di klub dan timnas negara-negara Eropa.
Selain Bayern Muenchen, Liverpool bersama Arne Slot juga menerapkan latihan kiper dengan kacamata khusus. Fabian Otte, pelatih kiper Liverpool yang datang pada musim panas 2024, menerapkan konsep latihan itu sejak ”Si Merah” menjalani pemusatan latihan di AS, Juli tahun lalu.
Terlepas dari dua tim raksasa tersebut, metode latihan yang digunakan Woudenberg di timnas Indonesia dengan drone, perisai, dan kacamata khusus pertama kali, diterapkan secara rutin oleh timnas Swiss. Pelatih kiper Swiss, Patrick Foletti, telah membimbing kiper-kiper terbaik Swiss, salah satunya Yann Sommer, dengan teknologi latihan itu sejak 2017.
Metode latihan itu dilakukan Foletti ketika skuad Swiss memiliki waktu pemusatan latihan panjang, misalnya ketika menghadapi turnamen besar, seperti Piala Eropa dan Piala Dunia. Sejak Foletti melatih kiper-kiper Swiss per 2011, performa tim berjuluk ”Nati” itu amat baik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/30/b915b4cf-bff2-4455-879a-607b26438673_jpg.jpg)
Mereka selalu mampu menembus babak 16 besar tiga edisi Piala Dunia terakhir. Swiss juga lolos ke fase gugur tiga edisi Piala Eropa terakhir, termasuk pada 2020 dan 2024, menembus perempat final yang menjadi capaian terbaik mereka.
”Metode latihan itu berawal dari ide untuk menempatkan kiper pada situasi yang sama (dengan laga) dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan, pilihan, dan intervensi mereka,” ucap Felotti, yang juga anggota grup penasihat pengembangan kiper UEFA, tentang metode latihannya kepada Blick medio 2021.
Metode latihan kiper yang dibawa rezim Kluivert diharapkan dapat pula membantu Indonesia mencapai mimpi terbesar, yaitu lolos ke Piala Dunia 2026.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari