Kala Kampung Pecinan Ketandan Membuka Diri  Selama Sepekan

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta di Kampung Pecinan Ketandan menjadi ajang untuk mengenalkan bermacam budaya Tionghoa kepada masyarakat.

28 Feb 2026 08:00 WIB · Nasional

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Oleh Ferganata Indra Riatmoko

Menjelang matahari terbenam, ratusan pengunjung berduyun-duyung datang ke Kampung Pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Mereka datang untuk merasakan atmosfer berbeda yang hanya berlangsung selama kurang lebih sepekan dalam satu tahun, yaitu Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY).

Kampung Pecinan Ketandan lokasinya hanya beberapa jengkal dari Jalan Malioboro, pusat kota Yogyakarta. Kegiatan ini kembali menjadi magnet bagi pengunjung yang hendak mengenal bermacam seluk-beluk budaya Tionghoa di kawasan itu.

Pengunjung mendatangi kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Pengunjung mendatangi kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.

Selama PBTY berlangsung, sejumlah rumah warga Tionghoa, yang biasanya hanya digunakan untuk tempat bisnis dan tertutup untuk orang asing, dibuka lebar-lebar bagi siapa pun yang hendak singgah. Mereka membuka diri dan meruntuhkan sekat sosial yang selama ini kerap dirasakan oleh sebagian masyarakat.

Saat hari biasa, Kampung Ketandan identik dengan kawasan bisnis yang didominasi oleh sejumlah toko emas. Letaknya yang berdekatan dengan Pasar Beringharjo membuat Ketandan terpatri sebagai salah satu kawasan bisnis tertua di Yogyakarta.

Sejumlah warga Tionghoa mengalihfungsikan rumah mereka untuk tempat penjualan makanan selama berlangsung  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Pengunjung membeli bermacam  pernak-pernik yang dijual dalam  kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.

Cheche, salah satu warga Tionghoa penghuni Ketandan, siang itu tengah asyik mengobrol dengan salah satu kerabatnya sembari menunggu pengunjung yang singgah ke rumahnya yang berarsitektur khas rumah pengusaha Tionghoa pada masa lalu. ”Rumah ini dibangun tahun 1791. Jauh sebelum Perang Diponegoro berlangsung,” tutur Cheche dengan nada bangga ke lawan bicaranya.

Sejumlah warga Tionghoa membuka akses rumah mereka bagi pengunjung ajang  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Sejumlah warga Tionghoa membuka akses rumah mereka bagi pengunjung ajang  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Sejumlah warga Tionghoa membuka akses rumah mereka bagi pengunjung ajang  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.

Rumah tersebut menjadi tempat tinggal sekaligus tempat usaha secara turun-temurun bagi Cheche dan keluarganya. Selama PBTY berlangsung, rumah pria tersebut dijadikan tempat berjualan bermacam kebaya dan tempat layanan jasa nujum.

Masih sederetan dengan rumah Cheche, beberapa rumah yang biasanya digunakan berjualan emas disulap menjadi tempat berjualan aneka makanan. Meja yang biasanya menjadi etalase emas berubah untuk menaruh makanan.

Ada juga rumah milik Kapiten Tan Jien Sing yang dijadikan museum tentang budaya peranakan yang menarik untuk dikunjungi. Rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1810.

Sejumlah warga Tionghoa mengalihfungsikan rumah mereka untuk tempat penjualan makanan selama berlangsung  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Sejumlah warga Tionghoa mengalihfungsikan rumah mereka untuk tempat penjualan makanan selama berlangsung  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Sejumlah warga Tionghoa mengalihfungsikan rumah mereka untuk tempat penjualan makanan selama berlangsung  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Sejumlah warga Tionghoa membuka akses rumah mereka bagi pengunjung ajang  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.

Kehadiran bermacam kuliner unik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung PBTY. Kuliner halal ataupun nonhalal tersedia di ajang ini di lokasi yang terpisah agar pengunjung tidak keliru membeli makanan.

Penjual makanan yang mengandung babi ditempatkan di area khusus dalam ajang  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Penjual makanan yang mengandung babi ditempatkan di area khusus dalam ajang  Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Warga menjual makanan khas Tionghoa, Bacang, dalam ajang Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Warga menjual bermacam makanan dalam ajang Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.

PBTY tahun ini merupakan yang ke-21 dan relatif unik karena berlangsung saat Ramadhan. Kegiatan tahunan yang berlangsung hingga 3 Maret 2026 itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya.

Warga menjual  bermacam  pernak-pernik  dalam  kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Atraksi Wayang Potehi menyemarakkan ajang Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.
Murid SD Eksperimental Mangunan bersiap menampilkan atraksi kesenian barongsai  dalam  kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di kawasan kampung pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tahunan itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya. PBTY pada tahun ini berlangsung hingga 3 Maret 2026.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ferganata Indra Riatmoko
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar