Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta di Kampung Pecinan Ketandan menjadi ajang untuk mengenalkan bermacam budaya Tionghoa kepada masyarakat.
28 Feb 2026 08:00 WIB · Nasional
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Menjelang matahari terbenam, ratusan pengunjung berduyun-duyung datang ke Kampung Pecinan Ketandan, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Mereka datang untuk merasakan atmosfer berbeda yang hanya berlangsung selama kurang lebih sepekan dalam satu tahun, yaitu Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY).
Kampung Pecinan Ketandan lokasinya hanya beberapa jengkal dari Jalan Malioboro, pusat kota Yogyakarta. Kegiatan ini kembali menjadi magnet bagi pengunjung yang hendak mengenal bermacam seluk-beluk budaya Tionghoa di kawasan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/7b650eaade132e0fff447709ac0a76ec-20260227DRA017.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/90d26cdfc45c02d0978c9136f9631f88-20260227DRA026.JPG)
Selama PBTY berlangsung, sejumlah rumah warga Tionghoa, yang biasanya hanya digunakan untuk tempat bisnis dan tertutup untuk orang asing, dibuka lebar-lebar bagi siapa pun yang hendak singgah. Mereka membuka diri dan meruntuhkan sekat sosial yang selama ini kerap dirasakan oleh sebagian masyarakat.
Saat hari biasa, Kampung Ketandan identik dengan kawasan bisnis yang didominasi oleh sejumlah toko emas. Letaknya yang berdekatan dengan Pasar Beringharjo membuat Ketandan terpatri sebagai salah satu kawasan bisnis tertua di Yogyakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/bc52c2ff9444fa1dc5278dff3a057e88-20260227DRA024.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/db3d71d77f6a5fd6e343f7a363a83968-20260227DRA019.JPG)
Cheche, salah satu warga Tionghoa penghuni Ketandan, siang itu tengah asyik mengobrol dengan salah satu kerabatnya sembari menunggu pengunjung yang singgah ke rumahnya yang berarsitektur khas rumah pengusaha Tionghoa pada masa lalu. ”Rumah ini dibangun tahun 1791. Jauh sebelum Perang Diponegoro berlangsung,” tutur Cheche dengan nada bangga ke lawan bicaranya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/5f80c53c458fc93808d3e35150038ffd-20260227DRA006.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/a44318275875802c13e2e8a0a896ad3a-20260227DRA005.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/b9ec1d54aa0e595ed874fcf4f7f5d511-20260227DRA008.JPG)
Rumah tersebut menjadi tempat tinggal sekaligus tempat usaha secara turun-temurun bagi Cheche dan keluarganya. Selama PBTY berlangsung, rumah pria tersebut dijadikan tempat berjualan bermacam kebaya dan tempat layanan jasa nujum.
Masih sederetan dengan rumah Cheche, beberapa rumah yang biasanya digunakan berjualan emas disulap menjadi tempat berjualan aneka makanan. Meja yang biasanya menjadi etalase emas berubah untuk menaruh makanan.
Ada juga rumah milik Kapiten Tan Jien Sing yang dijadikan museum tentang budaya peranakan yang menarik untuk dikunjungi. Rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1810.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/1ca1642ce84e5d3d8048aeeece8a588a-20260227DRA032.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/1bf1a1397ab4769f107b43bf02e6aaa3-20260227DRA035.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/ef78c06802c29990f892ea6fcd717536-20260227DRA036.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/4b51651e5e071a71dff6b6500696e6f2-20260227DRA029.JPG)
Kehadiran bermacam kuliner unik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung PBTY. Kuliner halal ataupun nonhalal tersedia di ajang ini di lokasi yang terpisah agar pengunjung tidak keliru membeli makanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/0a2f4d914c9b0abb03a2d4b2c4d9f781-20260227DRA004.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/d52163a02bf5a160780e1cd4add39879-20260227DRA002.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/55feefec22dc8fbeae9b45dc2bfa321e-20260227DRA014.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/ace5221a054417d6cddefa2c5d5d21a9-20260227DRA010.JPG)
PBTY tahun ini merupakan yang ke-21 dan relatif unik karena berlangsung saat Ramadhan. Kegiatan tahunan yang berlangsung hingga 3 Maret 2026 itu kembali digelar untuk mengenalkan beragam tradisi Tionghoa sekaligus sebagai ajang pertemuan lintas budaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/46bd730d4a77cde0768ee86a273e09af-20260227DRA016.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/6cafcdea9cb7660d0de68bbd00822381-20260227DRA030.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/725bfcb11f087e6dfdac9e26c887f930-20260227DRA039.JPG)
Penulis:
Ferganata Indra RiatmokoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar