Kamboja memastikan 150 atletnya tetap bertanding di SEA Games 2025 Thailand. Perang di perbatasan telah berdampak pada pesta olahraga Asia Tenggara itu.
09 Des 2025 11:50 WIB · Internasional
Cambodia's Ministry of Defense
PHNOM PENH, SELASA — Kamboja memastikan tujuh warganya tewas akibat serangan Thailand. Serangan dilancarkan sehari sebelum SEA Games 2025 dibuka di Chiang Mai, Thailand. Kamboja memangkas jumlah kontingennya ke pesta olahraga Asia Tenggara tersebut.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Letnan Jenderal Maly Socheata menyebut, Thailand menyerang pada 8-9 Desember 2025. Serangan masih terdengar pada Selasa (9/12/2025) menjelang pukul 06.00. Serangan Thailand menewaskan tujuh orang dan melukai 20 orang.
Thailand menggunakan sejumlah jet tempur dan pesawat nirawak untuk menyerang Kamboja pada Senin pagi sampai Selasa dini hari WIB. Bangkok menuding Phnom Penh melanggar deklarasi penghentian pertempuran yang diumumkan pada 26 Oktober 2025.
Serangan Senin itu, menurut Bangkok, merupakan tanggapan atas baku tembak pada Minggu. Insiden itu menewaskan seorang serdadu Thailand dan empat warga sipil Kamboja. ”Kami menggunakan serangan udara untuk mempertahankan diri,” kata Juru Bicara Angkatan Darat Thailand Winthai Suvaree.
Ia mengatakan, serangan hanya menyasar titik-titik militer Kamboja. Thailand tidak mengincar titik-titik di mana ada warga sipil. Pertempuran meluas di sepanjang perbatasan kedua negara. Thailand dan Kamboja berbagi perbatasan sepanjang 800 kilometer.
Kedua negara saling menyalahkan sebagai pembuat onar. Gara-gara konflik itu, 35.000 warga Thailand diungsikan. Sebelumnya, pada bulan Juli, Thailand dan Kamboja juga terlibat konflik yang mengakibatkan 43 orang tewas dan total 300.000 warga mengungsi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa segera meminta kedua belah pihak menahan diri dan mengedepankan diplomasi. Pemerintah Amerika Serikat mengimbau warganya berhati-hati apabila berada di Thailand ataupun Kamboja.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/a918206b3e0ee4acac1781296bb8e147-CAMBODIA_THAILAND_BORDER_CONFLICT_bus.jpg)
Meski pertempuran kembali meletus, Kamboja memastikan atletnya yang sudah berangkat ke Thailand akan tetap ikut SEA Games 2025. Kepastian tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Nasional Kamboja (NOCC) Vath Chamroeun dan Ketua Delegasi Olahraga Kamboja Nan Sok Isaou. Mereka menyampaikan hal itu dalam rapat perwakilan peserta SEA Games 2025, Senin siang, di Bangkok.
Kamboja mengirim atlet untuk cabang olahraga taekwondo, renang, jujitsu, senam, atletik, jet ski, e-sports, berkuda, kickboxing, anggar, dan triatlon. Sementara untuk sepak bola, petanque, gulat, karate, dan judo, mereka tidak mengirimkan atlet. Dari 333 orang, Kamboja hanya mengirim 150 atlet.
Chamroeun mengatakan, pembatalan itu demi alasan keamanan. ”Pengurangan atlet berarti lebih mudah bagi kami untuk menjaga kendali (keamanan). Keselamatan atlet adalah prioritas,” ujarnya.
”Kami menempatkan semua atlet dan ofisial Kamboja di hotel yang sama dengan penjagaan ketat,” ujar Ketua Delegasi Thailand Thana Chaiprasit kepada harian Khaosod, Selasa (9/12/2025).
Delegasi Kamboja diminta supaya tidak mengenakan jersei atau atribut kenegaraan mereka ketika keluar. Selain itu, warga Thailand juga diimbau tidak melakukan tindakan provokatif, misalnya melontarkan ejekan ataupun seruan mencemooh. ”Ayo kita tunjukkan masyarakat Thailand berlaku sportif,” kata Thana.
Tema SEA Games 2025 adalah ”We Are One” atau kita semua adalah satu. Tema ini mengajak warga ASEAN untuk kembali pada semangat persaudaraan. Walaupun ada persoalan, hal itu mesti diselesaikan dengan cara yang damai.
Pada Oktober 2025, Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), China, dan AS memediasi Kamboja dan Thailand. Presiden AS Donald Trump menjadi saksi penandatanganan perjanjian damai Kamboja-Thailand di sela-sela KTT ASEAN Kuala Lumpur, Malaysia.
Namun, pada 11 November, Thailand mengumumkan, mereka menangguhkan gencatan senjata. Seorang serdadu terluka parah akibat menginjak ranjau darat Kamboja.
Sebaliknya, Kamboja mengatakan tidak pernah menanam ranjau darat. Sejak itu, hubungan kedua negara bertetangga itu kembali merosot.
Ranjau itu adalah sisa dari perang saudara Kamboja, tetapi Thailand tidak percaya. Kamboja pun menuduh Thailand tidak mau memulangkan warga sipil yang mereka tangkap.
”Tidak ada yang bisa menyuruh kami berhenti membela diri. Kalau mau konflik ini selesai, suruh pihak penyerang kami berhenti menyerang,” kata Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul.
Sebaliknya, PM Kamboja Hun Manet menuduh Thailand mencari-cari alasan untuk menyerang warga Kamboja. ”Penurunan militer ini kedok Thailand untuk menguasai wilayah kami,” ujarnya.
Sengketa wilayah ini sudah berlangsung sejak 1907. Ketika itu, Perancis selaku penjajah Kamboja menetapkan peta negara. Thailand tidak menyetujui peta itu dan menganggap beberapa daerah di perbatasan sebagai bagian dari Kerajaan Thailand.
Thailand juga tidak menerima keputusan Mahkamah Internasional pada 1962 yang menetapkan bahwa gugatan Thailand atas wilayah itu tidak sah. Wilayah itu merupakan bagian dari Kerajaan Kamboja. Konflik juga pernah terjadi pada 2008 dan 2011.
Baik Thailand maupun Kamboja sama-sama mendekati AS. Thailand merupakan sekutu dekat AS. Adapun Kamboja berusaha mengambil hati Trump dengan menominasikannya supaya dianugerahi Nobel Perdamaian. Bahkan, Kamboja sampai mengadakan pawai untuk itu.
Konflik ini mengancam pariwisata kedua negara. November hingga Februari adalah musim dingin di negara-negara utara. Biasanya, warganya pergi berlibur ke negara-negara tropis.
Thailand dan Kamboja adalah negara tujuan wisata yang sangat populer. Jika konflik tidak segera diselesaikan, penyumbang devisa terbesar bagi kedua negara ini terancam tidak laku. Wisatawan tidak akan mau bepergian ke wilayah yang dilanda konflik. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti