GLOBAL SUMUD FLOTILLA 2.0

Kami Pulang dengan Suara Lantang

Sembilan WNI yang menjadi sukarelawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla kembali ke Indonesia. Mereka mengaku disiksa Israel.

25 Mei 2026 06:31 WIB · Internasional

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Oleh Adryan Yoga Paramadwya

Sorak ”Free Palestine” menggema di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026) sore. Di antara kerumunan keluarga dan aktivis yang membawa bendera Palestina, sembilan warga negara Indonesia (WNI) akhirnya kembali menginjak Tanah Air setelah melewati pusaran ketegangan di perairan menuju Gaza.

Mereka adalah bagian dari misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, armada sipil internasional yang berlayar membawa bantuan untuk warga Palestina. Namun, perjalanan itu terhenti ketika kapal-kapal yang mereka tumpangi dicegat militer Israel di perairan internasional pada 18 Mei lalu. Para sukarelawan dari sejumlah negara kemudian ditahan, termasuk sembilan WNI yang ikut dalam pelayaran tersebut.

<p>Jurnalis <em>Republika</em>, Thoudy Badai, mencium ibunya setelah tiba di Tanah Air. <strong>(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)</strong></p><p>Jurnalis <em>Tempo</em>, Andre Prasetyo, menunjukkan bekas luka di tangannya. <strong>(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)</strong></p><p>Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah AK Alsattari, memeluk Hendro Prasetyo. <strong>(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)</strong></p>

Jurnalis Republika, Thoudy Badai, mencium ibunya setelah tiba di Tanah Air. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Jurnalis Tempo, Andre Prasetyo, menunjukkan bekas luka di tangannya. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah AK Alsattari, memeluk Hendro Prasetyo. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Menjelang petang, rombongan WNI tiba melalui area kedatangan internasional Terminal 3. Wajah-wajah lelah terlihat bercampur lega. Sebagian langsung disambut pelukan keluarga yang sejak beberapa hari terakhir menanti kabar kepastian kepulangan mereka.

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, pembebasan dan pemulangan mereka hasil koordinasi intensif pemerintah secara berlapis. Pemerintah RI mengupayakan serangkaian langkah diplomatik melalui lima perwakilan RI di kawasan strategis bersama negara-negara sahabat, Global Sumud Flotilla, dan Global Peace Convoy Indonesia.

Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan sambutan saat mendampingi kepulangan WNI sukarelawan Global Sumud Flotilla di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026). Sembilan WNI yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla tiba di Indonesia setelah diterbangkan dari Istanbul, Turki. Mereka sempat ditahan militer Israel setelah berusaha menembus blokade Gaza.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
24-05-2026
Quote

”Kami mengucapkan terima kasih atas Pemerintah Turki, Jordania, dan Mesir yang juga membantu. Secara khusus, Pemerintah Turki yang membantu penjemputan mereka,” kata Sugiono.

Menteri Luar Negeri Sugiono (kanan) berbincang dengan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah AK Alsattari, saat menyambut kepulangan WNI sukarelawan Global Sumud Flotilla.
Anak dari sukarelawan Global Sumud Flotilla, Ronggo Wirasanu, menanti kepulangan ayahnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Steering Committee Global Sumud Flotilla, Maimon Herawati (kanan), menyampaikan keterangan pers.

Di tengah suasana penyambutan, pemerintah kembali mengecam pencegatan terhadap kapal bantuan sipil tersebut. Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan tindakan Israel terhadap armada kemanusiaan itu tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan hukum internasional.

Sembilan WNI yang pulang terdiri atas sukarelawan kemanusiaan dan jurnalis yang berlayar menggunakan beberapa kapal armada Global Sumud Flotilla. Mereka, antara lain, berasal dari jaringan Global Peace Convoy Indonesia, lembaga kemanusiaan, dan media nasional.

<p>Hendro Prasetyo disambut rekan-rekannya saat tiba di Tanah Air. <strong>(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)</strong></p><p>Wartawan bersiap mewawancarai Rahendro Herubowo. <strong>(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)</strong></p><p>Asad Aras disambut keluarganya saat tiba di Tanah Air. <strong>(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)</strong></p>

Hendro Prasetyo disambut rekan-rekannya saat tiba di Tanah Air. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Wartawan bersiap mewawancarai Rahendro Herubowo. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Asad Aras disambut keluarganya saat tiba di Tanah Air. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)

Beberapa sukarelawan sebelumnya juga mengaku mengalami perlakuan kasar selama masa penahanan. Mereka mengalami kekerasan fisik hingga penyetruman saat berada dalam tahanan. Pemerintah menyatakan sejumlah WNI yang mengalami trauma fisik akan mendapatkan penanganan lebih lanjut setelah tiba di Indonesia.

Di balik hiruk-pikuk bandara, para sukarelawan berjalan sambil melambaikan tangan kepada para penyambut yang terus meneriakkan dukungan untuk Palestina. Meski perjalanan mereka berakhir dengan penahanan, suara mereka untuk Palestina justru kian lantang.

Sukarelawan Global Sumud Flotilla, Andre Prasetyo, Bambang Noroyono, Thoudy Badai, dan Hendro Prasetyo (dari kiri ke kanan), menyapa wartawan.
Hendro Prasetyo disambut rekan sesama aktivis kemanusiaan.
Ronggo Wirasanu memeluk rekannya setelah tiba di Tanah Air.
Jurnalis <em>Republika</em>, Bambang Noroyono (kanan), tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adryan Yoga Paramadwya
 | 

Editor:

Yovita Arika