Banyak keuntungan bagi Kanada dan Swiss jika tampil di Vancouver dalam laga 32 besar. Namun, mereka harus memenangi laga terakhir grup di Vancouver terlebih dulu.
23 Jun 2026 13:28 WIB · Olahraga
Getty Images via AFP
VANCOUVER, SENIN — Duel Kanada versus Swiss akan menentukan juara Grup B Piala Dunia 2026 sekaligus tim mana yang akan bermain di Vancouver. Tuan rumah Kanada berharap bisa kembali tampil di kandang sendiri, sementara Swiss mengincar keuntungan jadwal dan status lawan di Vancouver.
Laga terakhir babak grup itu bertajuk ”perebutan tanah Vancouver”. Kedua tim itu akan bertemu di Stadion BC Place, Vancouver, Kanada, Kamis (25/6/2026) pukul 02.00 WIB, untuk mempertahankan tempat yang sama dalam babak 32 besar. Juara grup akan kembali berlaga di stadion itu.
Kanada dan Swiss sama-sama mengoleksi empat poin. Dengan keunggulan selisih gol, Kanada hanya perlu terhindar dari kekalahan untuk menjadi juara grup. Sementara Swiss yang saat ini menempati peringkat kedua wajib menang di depan puluhan ribu pendukung lawan.
Bagi Kanada, laga itu sangat penting untuk mempertahankan keuntungan kandang. ”Itu akan menjadi keuntungan besar. Pada laga terakhir, dukungan di Vancouver luar biasa. Teriakan penonton, lagu kebangsaan, semuanya, membuat saya merinding,” kata pemain sayap Kanada, Liam Millar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/4eae389d5a4fc8b1e79d51ecc8947f28-1000243087.jpg)
Skuad Kanada pasti mencurahkan segalanya untuk bisa tampil di kandang sendiri. Sebab, jika kalah, mereka hampir pasti akan menjadi tim peringkat kedua grup dan harus tampil di Stadion SoFi, Inglewood, California, Amerika Serikat. Mereka terpaksa harus menyeberang ke negara tetangga.
Kanada selalu memainkan laga di tanah sendiri sejak laga pembuka grup. Mereka tidak mengalami kesulitan seperti tim-tim lain yang harus bepergian jarak jauh untuk bertanding. Alphonso Davies dan rekan-rekan pun memiliki waktu lebih banyak untuk pemulihan fisik dan mental.
”Tanah impian” itu tidak akan diraih dengan mudah oleh Kanada. Ujian berat sudah menanti tim asuhan Pelatih Jesse Marsch. Swiss merupakan tim terkuat yang akan dihadapi Kanada di babak grup. Swiss berkunjung ke Vancouver setelah menang 4-1 atas Bosnia-Herzegovina.
Pengalaman kedua tim itu bagaikan bumi dan langit. Saat Kanada baru saja meraih kemenangan pertama di Piala Dunia pada Jumat lalu, Swiss sudah menjadi langganan babak gugur dalam turnamen paling bergengsi di kolong langit itu. Swiss kembali datang dengan figur veteran, seperti gelandang Granit Xhaka.
Swiss tidak memiliki urgensi tampil lagi di Vancouver. Namun, mereka membutuhkan keuntungan jadwal dan calon lawan yang bisa didapatkan juara grup. Pemenang Grup B akan mendapatkan waktu istirahat tujuh hari sebelum tampil di 32 besar, sementara runner-up hanya diberikan tiga hari jeda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/c5a82eda1c10f808e4247c898bdd7e92-wires_photo_28_.jpg)
Jeda panjang itu sangat krusial untuk kedua tim. Swiss yang banyak diisi pemain veteran pasti membutuhkan waktu pemulihan lebih panjang demi tampil maksimal. Adapun Kanada sedang berjibaku dengan banyaknya pemain yang cedera. Davies, bintang Kanada yang mengalami masalah kebugaran, akan ikut terbantu.
Terakhir dan tidak kalah penting adalah kekuatan calon lawan. Juara Grup B akan berhadapan dengan peringkat ketiga di antara Grup E, F, G, I, atau J. Sementara peringkat kedua Grup B akan dihadapkan dengan peringkat kedua Grup A yang saat ini ditempati tim kuda hitam, Korea Selatan.
Xhaka, kapten Swiss, berkata, skuad mereka lebih lengkap saat ini. Ada banyak pemain yang bisa menjadi pembeda, salah satunya gelandang berusia 20 tahun, Johan Manzambi, yang bersinar di laga versus Bosnia-Herzegovina. ”Dengan skuad sekarang, persaingan jadi lebih kompetitif. Semua pemain harus selalu siap,” ujarnya.
Di sisi lain, Kanada tidak pernah gentar ketika tampil di depan publik sendiri. Qatar, kalah 0-6 di laga kedua grup, menjadi korban terbaru mereka. Sistem agresif dan intens ala Marsch membuat permainan Kanada tampak hidup. Senjata utama mereka adalah tekanan tinggi dan transisi secepat kilat.
Wajar jika Kanada tidak ingin hanya sekadar imbang di laga nanti. ”Kami akan selalu mengincar kemenangan dalam setiap laga. Kami bermain di depan para pendukung sendiri. Mereka ingin melihat kami bermain menyerang. Jadi, kami akan tetap menampilkan itu,” kata bek Kanada, Derek Cornelius.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/c3f18f7c5fd28438adc471c775baedbc-Canada_v_Qatar__Group_B_FIFA_World_Cup_2026_2_.jpg)
Marsch hanya perlu khawatir dengan kondisi skuad saat ini. Gelandang andalan mereka, Ismael Kone, dipastikan absen di sisa turnamen karena menderita patah kaki. Padahal, Kone merupakan roh utama Kanada dalam transisi di sisi ofensif dan defensif.
Kanada dan Swiss hampir pasti menjadi dua tim dari Grup B yang lolos ke babak gugur. Sebab, Bosnia-Herzegovina dan Qatar baru mengoleksi satu poin. Meskipun begitu, Kanada dan Swiss bisa saja terpeleset dan jatuh ke peringkat ketiga jika kalah telak. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan