Sejumlah kapal memilih tidak melintasi Selat Hormuz sama sekali karena meragukan pengamanan militer AS. Iran ancam menghentikan semua ekspor migas kawasan.
16 Jul 2026 15:00 WIB · Internasional
AP/NOPPADON WONGSUVAN
LONDON, KAMIS — Sejumlah perusahaan pelayaran memilih tidak menggunakan panduan militer Amerika Serikat untuk melintasi Selat Hormuz. Salah satu penyebabnya, mereka tak yakin AS memiliki kendali di jalur tersebut. Mereka memilih tak melintasi Selat Hormuz sama sekali.
Keraguan itu muncul setelah lima kapal diserang di perairan Oman sejak 7 Juli 2026. Serangan terjadi di sekitar jalur yang digunakan dalam skema transit dengan bantuan militer AS.
Tujuh sumber keamanan maritim dan industri pelayaran mengatakan, perusahaan-perusahaan pelayaran kini menghindari skema panduan tersebut karena mengkhawatirkan keselamatan awak kapal. ”AS tampaknya tidak memiliki kendali apa pun atas situasi tersebut,” kata seorang sumber industri pelayaran, dikutip Reuters, Kamis (16/7/2026).
Perusahaannya memilih tidak melintasi Selat Hormuz karena situasi keamanan terus memburuk. Perusahaan keamanan maritim Yunani, Diaplous, Selasa, menyatakan, tingkat ancaman di kawasan masih tinggi. Diaplous menyarankan operator pelayaran menghentikan perjalanan hingga Sabtu (18/7/2026).
Perusahaan keamanan maritim Yunani lainnya, MARISKS, menyampaikan peringatan serupa. ”Pada tahap ini, tidak ada jaminan pelayaran melalui Selat Hormuz dapat dilakukan dengan tingkat keselamatan yang dapat diterima,” demikian pernyataan MARISKS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/16/bdcea5f793fd6fa0686b98e2379b0649-APTOPIX_Iran_War_Strait_of_Hormuz.jpeg)
Selama puluhan tahun, kapal keluar-masuk Teluk melalui jalur aman di tengah Selat Hormuz. Jalur yang ditetapkan badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1968 itu dikenal sebagai Skema Pemisahan Alur Laut (Traffic Separation Scheme).
Sejak perang Iran pecah pada 28 Februari 2026, pasukan Iran dilaporkan telah menebar ranjau di kawasan tersebut. Kapal-kapal terpaksa menggunakan dua jalur sementara, yaitu jalur dekat pantai Iran atau Oman.
Namun, perusahaan pelayaran kini menilai jalur di sisi Oman juga semakin berbahaya. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Selasa (14/7/2026), mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak raksasa Uni Emirat Arab.
Berdasarkan analisis insiden dengan menggunakan data badan pelayaran PBB, lima kapal telah diserang di perairan Oman sejak 7 Juli. Kapal-kapal itu terdiri dari tiga kapal tanker minyak mentah raksasa, satu kapal tanker gas alam cair (LNG), dan satu kapal peti kemas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/14/354401b9f9056f07da98760000f6b93e-CORRECTION_Thailand_Sailors_139803801.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/d758a6dd58c0674a94529194269fcaa8-20260306_GKT_AFP_Hormuz.jpg)
Sejauh ini, lima sumber mengatakan, militer AS belum memberikan penjelasan yang memadai mengenai risiko yang dihadapi kapal-kapal yang menggunakan jalur Oman. ”Mereka menyatakan Selat Hormuz tidak ditutup dan tetap dapat digunakan,” kata seorang sumber keamanan maritim.
”Hal ini membuat para operator gugup dan tidak yakin. Meskipun mereka semua harus membuat penilaian risiko sendiri, situasi ini jelas tidak aman. Jadi, mengapa mengatakan selat itu terbuka?” katanya.
Pada Juni, militer AS dilaporkan membantu kapal-kapal melintasi Selat Hormuz. Operasi itu mencakup puluhan transfer minyak di laut. Pemindahan dilakukan secara rahasia dari satu kapal ke kapal lain. Operasi itu dilaporkan menggunakan pesawat nirawak (drone), drone laut, dan helikopter AS untuk memandu kapal tanker.
AS tampaknya tidak memiliki kendali apa pun atas situasi tersebut.
Skema tersebut bertujuan agar ekspor puluhan juta barel minyak dari kawasan Teluk dapat tetap mengalir. Hal ini untuk meredam gejolak harga minyak dan gas akibat perang. Gejolak harga disebut-sebut sebagai yang terbesar yang pernah terjadi.
Belum diketahui apakah lima kapal tersebut sedang mengikuti skema transit AS ketika diserang. ”Kemampuan Iran yang terus berlanjut untuk menyasar kapal-kapal yang berlayar melalui jalur Oman berarti solusi yang diusulkan pemerintahan Trump untuk menjaga kapal tetap bergerak kemungkinan tidak akan berhasil,” kata analis utama Timur Tengah perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt.
Pada Rabu (15/7/2026), IRGC mengancam akan menghentikan semua ekspor energi dari Timur Tengah. Ancaman diserukan setelah AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Iran dan AS juga terus saling serang untuk berebut kendali atas Selat Hormuz.
”Ekspor minyak dan gas dari kawasan akan berlaku untuk semua orang atau tidak untuk siapa pun,” demikian pernyataan IRGC.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/16/6e9e1c6b034ea9f9c0ed44cda570e048-wires_photo_7_.jpg)
Teheran mengisyaratkan kemungkinan menggunakan sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, untuk menutup Selat Bab el-Mandeb. Penutupan selat yang mengarah ke Laut Merah itu berpotensi membuka palagan baru melawan AS. Penutupan Selat Bab el-Mandeb akan memperparah gangguan pada distribusi minyak dan gas global.
Ancaman itu menambah kekhawatiran. Saat ini, sekitar sembilan kapal tanker gas alam cair (LNG) yang dioperasikan perusahaan Yunani telah memasuki Teluk Persia melalui Selat Hormuz untuk mengambil muatan. Namun, kapal-kapal yang masuk dalam sepekan terakhir kini tertahan karena kekhawatiran keamanan.
Akan tetapi, AS terus memberikan pesan berbeda. Seorang pejabat pertahanan AS yang tak disebutkan namanya mengatakan, lebih dari 100 kapal telah berkoordinasi langsung dengan militer AS untuk melintasi Selat Hormuz dalam sepekan terakhir. Lebih dari 300 kapal juga telah melintasi kawasan itu.
Menurut dia, angka tersebut menunjukkan upaya yang dipimpin AS berjalan meskipun volume pelayaran masih lebih rendah dibandingkan sebelum perang.
Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di Truth Social, Selasa, mengatakan, Selat Hormuz terbuka bagi semua lalu lintas kapal, kecuali Iran. Pada hari yang sama, AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran yang terkait dengan Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/16/d97f001015bb4d68c2456e5324442085-wires_photo_1_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/16/b10d8002ec7c7af6a525d7be367a6ded-wires_photo_3_.jpg)
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, mengatakan, Selat Hormuz tetap terbuka meskipun terjadi sejumlah serangan terhadap kapal komersial. ”Selat Hormuz terbuka dan minyak terus mengalir. Iran melakukan tindakan terorisme internasional dengan menembaki kapal-kapal komersial yang beroperasi secara damai, menyasar dan membunuh warga sipil yang tidak bersalah, dan Amerika Serikat merespons dengan tegas,” ujarnya.
Pekan lalu, Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS menaikkan tingkat risiko pelayaran di Selat Hormuz, dari substansial menjadi parah. Tingkatan itu hanya satu tahap di bawah kategori tertinggi, yaitu kritis. Kategori risiko dinaikkan setelah serangan terhadap tiga kapal tanker.
Angkatan Laut AS mengatakan akan berupaya memberikan peringatan kepada awak kapal. Namun, militer AS mungkin tidak dapat menyampaikan peringatan secara waktu nyata.
Eskalasi perang meluas ke fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk. Militer Iran, Kamis, mengklaim menyerang fasilitas militer AS di Jordania. ”Sebagai tanggapan atas agresi musuh, militer menargetkan sistem komunikasi dan fasilitas penyimpanan bahan bakar militer AS di Jordania dengan menggunakan pesawat nirawak bunuh diri atau kamikaze,” demikian pengumuman tentara Iran yang disiarkan televisi Pemerintah Iran, IRIB.
Belum ada keterangan dari AS ataupun Pemerintah Jordania mengenai klaim tersebut. Serangan dilancarkan setelah AS kembali meningkatkan operasi militernya terhadap Iran pada Kamis dini hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/16/a8c2c03312e95caca4051af410fb51b2-wires_photo_5_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/f798163dfcb952f50f2d60bb5978604d-20260409_H01_KID_Gencatan_Senjata_Perang_mumed.jpg)
Serangan AS ke Iran juga meluas, menjangkau wilayah di sekitar Teheran dan Provinsi Semnan di bagian utara. Semnan merupakan lokasi fasilitas produksi rudal balistik dan program antariksa Iran. Serangan terhadap daerah sekitar Teheran merupakan yang pertama dalam rangkaian pertempuran terbaru AS-Iran.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sasaran di Bahrain dan Kuwait. Saling serang selama beberapa hari terakhir semakin mengikis kesepakatan damai sementara yang sebelumnya menghentikan perang Iran.
Pejabat Iran menyatakan, gelombang baru serangan AS telah menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Trump kembali menyatakan, Iran ingin mencapai kesepakatan damai. Namun, ia tidak menjelaskan dasar pernyataannya.
Akibat eskalasi konflik, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di atas 85 dolar AS per barel pada Kamis. Harga itu 15 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, tetapi masih jauh di bawah puncaknya yang mendekati 120 dolar AS per barel. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji