Sepuluh kapal dari Global Sumud Flotilla tertahan di Italia. Dua warga Indonesia ikut tertahan, tetapi mereka masih terus berusaha mencapai Gaza.
03 Okt 2025 05:30 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Dua pegiat kemanusiaan asal Indonesia masih bertahan di Sisilia, Italia. Mereka menunggu kesempatan melanjutkan pelayaran bersama Global Sumud Flotilla untuk membawa bantuan sosial bagi warga Jalur Gaza di Palestina.
Para pegiat itu adalah Wanda Hamidah dan Muhammad Fatur Rohman. Fatur berasal dari Aqsa Working Group. ”Kami tertahan di Sisilia, Italia, karena masalah teknis kapal,” kata Wanda ketika dihubungi dari Jakarta, Kamis (2/10/2025) malam.
Wanda mengungkapkan, ia dan Fatur sudah dua pekan berada di Sisilia. Sepuluh kapal Global Sumud Flotilla (GSF) yang awalnya berlayar dari Tunisia terpaksa bersandar di Sisilia karena persoalan teknis. Kapal-kapal itu dianggap terlalu tua sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Gaza.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/02/fdeba899-2448-415e-87ca-8e1631eefb01_jpg.jpg)
Di kapal-kapal itu masih ada aneka bantuan untuk warga Gaza. Ada makanan, obat-obatan, tabung oksigen, dan alat-alat kesehatan.
Wanda mengatakan, kemungkinan besar, bantuan itu akan disumbangkan ke warga Sisilia yang membutuhkan apabila para pegiat tidak kunjung mendapat kapal yang bisa mengangkut mereka ke Gaza.
”Rasanya patah hati, tapi mau bagaimana lagi. Kami harus mencari kapal sendiri. Rebutan seperti kalau mau naik bus Kopaja,” kata Wanda.
Rasanya patah hati, tapi mau bagaimana lagi. Kami harus mencari kapal sendiri. Rebutan seperti kalau mau naik bus Kopaja.
Wanda awalnya terbang ke Tunisia bersama rombongan Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) yang berjumlah 33 orang. Di Tunisia, mereka tertahan cukup lama karena mereka harus memastikan jalur pelayaran aman.
Di samping itu, ada dua kali ”serangan” pesawat nirawak Israel. Selama berada di Tunisia, GSF melaporkan, dua kali pesawat nirawak Israel mengganggu mereka. Pesawat-pesawat nirawak itu menjatuhkan bermacam benda tidak dikenal di atas kapal-kapal GSF dengan tujuan menakut-nakuti awaknya supaya membatalkan pelayaran ke Gaza.
Melihat keadaan yang tidak kunjung kondusif untuk berlayar itu, IGPC memutuskan mundur. Dari Tunisia, hampir semua rombongan pulang ke Tanah Air. Hanya Wanda dan Fatur yang memutuskan bertahan.
Ia bersama Fatur serabutan mencari kapal yang bisa membawa mereka ke Gaza. Akhirnya, mereka bisa ikut di kapal bernama Kaiser.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/26/db4de773-5af0-4860-b392-2610eef4cfab_jpg.jpg)
Namun, ketika singgah di Sisilia, 10 kapal, termasuk Kaiser yang ditumpangi Wanda dan Fatur dinyatakan tidak layak untuk melanjutkan perjalanan. Hingga berita disusun, Wanda, Fatur, dan tujuh pegiat lintas negara masih mencari-cari kapal lain yang bisa ditumpangi ke Gaza.
Wanda mengatakan, kemungkinan besar, jika tidak bisa ke Gaza, ia akan pulang ke Indonesia. ”Ini pelajaran bagi saya dan mungkin Indonesia secara umum. Nanti, di rombongan GSF berikutnya, kita harus menyiapkan kapal sendiri supaya tidak tergantung negara lain,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan alat pelacak di armada kapal kemanusiaan Sumud atau GSF, satu kapal masih berlayar dan memasuki perairan Jalur Gaza, Palestina. Kapal-kapal GSF yang lain dicegat dan ditahan oleh armada angkatan laut Israel.
Pelacak itu dipantau salah satunya oleh media Newsweek pada Kamis (2/10/2025) pukul 17.08. Akan tetapi, ketika Kompas mengecek laman dan aplikasi pelacakan GSF tersebut, tidak bisa diakses karena galat (error). Militer Israel juga belum memberi keterangan mengenai hal tersebut walaupun sudah dikontak oleh berbagai media internasional.
Melansir majalah Newsweek, kapal layar yang berhasil lolos itu bernama Mikeno. Dalam posisi terakhir, sebelum laman pelacalan galat, Mikeno bergerak dan masuk ke perairan Gaza. Akan tetapi, tidak jelas apabila Mikeno berlayar sendiri atau digiring oleh kapal militer Israel ke perairan itu.
Wartawan Israel, Or Heller, mengatakan via X bahwa kecil kemungkinan Mikeno benar-benar memasuki perairan Gaza. Menurut informasi yang diterima oleh media-media arus utama Israel, hingga kini, militer mencegat semua kapal di armada GSF dan tidak satu kapal pun yang lolos.
”Sepertinya, video yang beredar setelah pencegatan kapal-kapal itu aslinya direkam sebelum intervensi militer,” cuit Heller.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/e22a44652f97515e443b0f45d697ef36-wires_photo_6.jpg)
Namun, tidak lama setelah itu, salah satu akun GSF di X menyatakan masih ada 30 kapal yang berlayar menuju Gaza. Mereka berada di jarak 46 mil laut dari pesisir Palestina. Cuitan itu diunggah pada pukul 03.20 waktu setempat.
Sebagai konteks, kapal-kapal militer Israel mencegat armada GSF pada Rabu (1/10/2025) pukul 20.30 waktu lokal. Militer Israel menahan antara lain pegiat mitigasi iklim Greta Thunberg dan pegiat hak asasi kemanusiaan asal Afrika Selatan, Mandla Mandela yang merupakan cucu Nelson Mandela.
Semua orang yang ditahan itu dikabarkan sehat dan akan dideportasi oleh Israel. Militer Israel mengatakan, kapal-kapal sipil dilarang mendekati perairan Gaza karena merupakan zona aktif peperangan. Zona aktif itu adalah 150 mil laut dari pesisir Gaza.
”Militer Israel mencegat 13 kapal berpenumpang total 200 orang. Jumlah kapal dalam armada kami ada 46. Selain 13 unit yang dicegat, sisanya masih berlayar menjalankan misi kemanusiaan,” kata salah satu juru bicara GSF Saif Abukeshek melalui akun Instagram.
Selama ini, militer Israel mengatakan bahwa GSF berisi orang-orang yang mendukung Hamas. Mereka juga berusaha merendahkan reputasi GSF dengan menuduh para pesertanya adalah penggila swafoto yang mau berbuat ekstrem demi konten di media sosial.
”Di zaman sekarang, kalau sekadar mau selfie untuk heboh itu gampang sekali. Tidak perlu bergabung dengan misi kemanusiaan ke Gaza,” balas Thunberg terhadap tuduhan Israel itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/04/1fd38aeff12be9ba1e039d0cc98ed3a8-AP25243567333210.jpg)
Pencegatan armada GSF dikecam oleh beragai negara. Meskipun begitu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengajak masyarakat untuk berpikir realistis dan mencari alternatif lain dalam menyalurkan bantuan kepada warga Gaza.
Thunberg, misalnya, sudah dua kali dicegat dan ditahan oleh militer Israel dalam misi GSF. Thunberg kemudian dideportasi ke tanah airnya, Swedia.
Misi GSF pada Juni dan Juli lalu juga gagal akibat dicegat oleh militer Israel. ”Kalau terus begini, bisa-bisa misi GSF malah lebih banyak merugikan warga Palestina. Pasti ada cara lain kita bisa membantu warga Gaza,” kata Meloni.
Armada GSF terdiri dari kapal-kapal yang berlayar dari berbagai negara di Eropa, antara lain Spanyol dan Italia. Sebelum menuju ke Gaza, mereka berkumpul dulu selama 10 hari di pelabuhan Tunisia.
Militer Israel juga membajak frekuensi radio GSF. Mereka memutar lagu-lagu dari grup musik pop Swedia, ABBA, sehingga sesama kapal GSF tidak bisa berkomunikasi. Meskipun begitu, armada GSF tidak gentar dan memutuskan tetap berlayar sampai dicegat pada Rabu.
Menurut pengakuan para pegiat yang dicegat dan ditangkap itu, militer Israel menyemprot kapal-kapal GSF dengan meriam air. Ada pula kapal yang ditembaki ”air sigung”, yaitu campuran air dengan zat kimia sangat bau tetapi tidak berbahaya. Tujuannya supaya orang-orang yang terkena siraman air sigung ini mual-mual dan muntah sehingga tidak melawan ketika ditangkap.
Di Italia, rakyat di berbagai kota berunjuk rasa sebagai bentuk solidaritas kepada rakyat Palestina dan GSF. Di Napoli, para pengunjuk rasa menghalangi jalur kereta api selama satu jam sebelum polisi turun tangan dan membubarkan mereka dari stasiun.
Serikat-serikat pekerja di Italia mengimbau anggota mereka untuk melakukan unjuk rasa lebih besar pada Jumat (3/10/2025). Anggapan mereka, hanya dengan cara itu mereka bisa menyerukan kepada Pemerintah Italia agar lebih keras menekan Israel menghentikan serangan ke Gaza.
Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez membela GSF. ”Mereka bukan kelompok teroris. Mereka menjalankan misi kemanusiaan. Harap Perdana Menteri (Israel Benjamin) Netanyahu juga melihat dengan cara itu. Armada GSF tidak mengancam siapa pun,” ujarnya.
Presiden Kolombia Gustavo Petro mengambil langkah lebih tegas. Selain mengecam pencegatan GSF, Bogota menangguhkan hubungan diplomatik dengan Tel Aviv. Semua diplomat Israel diusir dari Kolombia. Petro juga membatalkan perjanjian perdagangan bebas dengan Israel yang ditandatangani pada 2020.
Pekan lalu, ketika menghadiri rangkaian Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Petro terkena skandal diplomatik sehingga visanya dicabut oleh Presiden AS Donald Trump. Di sela-sela mengikuti Sidang Majelis Umum PBB, Petro turun ke jalan guna terlibat dalam unjuk rasa pro-Palestina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/30/3e54f2f5316c129805ccb3cf447cc7f4-wires_photo_15.jpg)
Saat memberi pidato, Petro menyerukan agar para tentara AS memberontak dan melawan pemerintah sendiri supaya tekanan penghentian genosida di Palestina segera terwujud. Ucapan Petro itu oleh Trump dianggap sebagai ujaran kebencian dan hasutan mengajak makar.
Di Irlandia, melansir BBC, Wakil PM Simon Harris meminta Israel mematuhi hukum internasional dan segera membebaskan para pegiat yang ditahan. Ada tujuh warga Irlandia yang ditahan karena berlayar bersama GSF. Beberapa di antara mereka adalah anggota parlemen Irlandia.
Dari Tanah Air, Wakil Ketua Komisi DPR Sukamta mengecam keras pencegatan dan penangkapan yang dilakukan pasukan Israel terhadap aktivis internasional yang membawa bantuan kemanusian.
”Misi Global Sumud Flotila adalah misi kemanusiaan, wujud solidaritas masyarakat dunia untuk membantu warga Gaza yang mengalami genosida yang kondisinya saat ini sangat buruk karena tidak ada makanan, minuman, serta tidak ada tempat tinggal selama hampir 2 tahun,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/13/b7acb641db41584a3d9f23f016b58103-FAK_6348.jpg)
Menurut Sukamta, Israel terang-terangan melanggar hukum humaniter internasional, menghina nilai-nilai kemanusiaan. ”Ini jelas tindakan yang sangat keji,” ujar Wakil Ketua Fraksi PKS itu.
Sukamta berharap Pemerintah Indonesia bisa segera melakukan tindakan nyata bersama dengan berbagai negara dunia untuk menekan Israel supaya membuka blokade dan membiarkan bantuan kemanusiaan sampai ke Gaza.
”Tekanan secara diplomatik, ekonomi dan militer harus dilakukan. Saya berharap negara-negara yang punya hubungan dengan Israel segera melakukan pemutusan hubungan diplomatik, melakukan embargo ekonomi dan menghentikan bantuan militer. Ini langkah nyata untuk memberikan tekanan yang lebih kuat ke Israel,” katanya dalam rilis yang diterima Harian Kompas, Kamis malam.
Lebih lanjut Wakil Ketua Fraksi PKS ini berharap Pemerintah RI terus memberikan bantuan kemanusiaan ke Palestina, terutama melalui jalur udara sebagaimana telah dilakukan beberapa waktu yang lalu.
GSF membawa bantuan makanan dan obat-obatan untuk warga Gaza. Warga sipil di sana berada dalam bencana kelaparan akut. Militer Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata untuk mengusir warga Gaza dari kampung halaman supaya bisa digusur.
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Netanyahu menyangkal bahwa warga Gaza kelaparan. Ia berdalih, militer Israel menyalurkan 2 ton bantuan pangan ke Gaza, tetapi sebanyak 85 persen dijarah oleh Hamas.
Israel memang menyalurkan bantuan di Gaza melalui Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humaitarian Fund/GHF). Akan tetapi, metode ini dikecam oleh PBB, Komisi Palang Merah Internasional, dan berbagai lembaga penegakan hak asasi manusia.
GHF hanya mengoperasikan empat posko yang buka satu jam setiap hari. Warga Gaza harus berjalan jauh demi mencapai posko GHF, mereka banyak yang jatuh sakit akibat kepanasan dan kelelahan. Bahkan, ada yang meninggal gara-gara itu.
Militer Israel dan kontraktor keamanan dari AS juga kerap melepas tembakan ke warga yag mengantre di posko GHF. Mereka berdalih, antrea terlalu ramai dan warga mulai tidak tertib. Menurut PBB, 519 orang tewas di sekitar lokasi posko GHF. (AP/AFP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Irene SarwindaningrumPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase