Arne Slot tidak hanya harus menghadapi krisis terbesar Liverpool musim ini, tetapi juga trauma tim pada musim lalu. Banyak pertanyaan yang harus segera dijawab Slot.
17 Mar 2025 18:56 WIB · Olahraga
Liverpool masih menatap capaian treble winners atau tiga gelar juara pada awal pekan lalu. Tidak sampai seminggu, Mohamed Salah dan rekan-rekan hanya menyisakan satu gelar untuk diraih. Mereka bahkan kehilangan salah satu gelar dengan penampilan terburuk. Ada apa dengan Liverpool?
Pertanyaan itu menyerbu Pelatih Kepala Arne Slot seusai final Piala Liga Inggris di Stadion Wembley, London, Inggris, pada Senin (17/3/2025) dini hari WIB. Liverpool tampil di bawah standar dalam segala aspek, sampai kekalahan tipis 1-2 dari Newcastle United terlihat begitu positif.
”Si Merah”, julukan Liverpool, bisa dan pantas kalah lebih besar. ”Itu adalah salah satu penampilan terburuk Liverpool dalam laga final. Mereka tidak mampu mengimbangi intensitas lawan, khususnya dari segi fisik,” kata bek legendaris Liverpool era 2000-an, Jamie Carragher, kepada Sky Sports.
Banyak spekulasi soal antiklimaks Liverpool. Salah satunya kelelahan. Mereka baru saja melewati pertarungan 120 menit plus adu penalti versus Paris Saint-Germain di babak 16 besar Liga Champions pada Rabu dini hari. Dalam babak tambahan waktu, mereka tampak sudah kehabisan tenaga.
Slot sering dipuji sebagai pelatih dengan manajemen menit bermain terbaik. Namun, hal itu tidak terpancar selama sepekan terakhir. Dia menurunkan starter nyaris sama di laga versus PSG dan Newcastle. Hanya Trent Alexander-Arnold, selain kiper, yang dirotasi. Itu pun karena cedera.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/0b951b07-bde4-47bf-a9ba-876a9d98fe3a_jpg.jpg)
”Lapangan Wembley itu besar, sangat melelahkan. Jika berlanjut ke tambahan waktu, saya akan terkejut jika Liverpool bisa bertahan. Itu karena faktor laga sebelumnya (versus PSG). Apalagi, mereka kalah di laga itu,” ujar mantan pemain tim nasional Inggris, Paul Merson.
Sebagai catatan, Stadion Wembley memiliki panjang 105 meter dan lebar 69 meter. Lapangan tersebut lebih luas dibandingkan kandang Liverpool (101 meter x 68 meter), Stadion Anfield, yang digunakan untuk pertandingan versus PSG.
Meskipun begitu, Slot menepis spekulasi itu. Menurut dia, laga versus Newcastle bukan tentang tim mana yang berlari lebih banyak. Stamina pemain tidak berperan besar. Laga ditentukan dari duel perebutan bola, terutama duel udara, karena Newcastle sering memaksakan situasi itu terjadi.
Slot berkata, Newcastle merupakan tim yang lebih kuat dalam duel udara. Jika ada sepuluh kali pertarungan di udara, tim lawan akan menang sembilan kali. Ucapan itu agak hiperbola, tetapi Newcastle memang mendominasi bola atas selama final dengan kemenangan duel udara 68 persen.
Jika dilihat ke belakang, pernyataan Slot bisa diperdebatkan. Liverpool sudah bertemu Newcastle dua kali sebelumnya. Mereka selalu bisa mengatasi duel di tanah ataupun udara. Terakhir kali di Anfield, akhir Februari, Liverpool bahkan mendominasi kemenangan dalam duel udara hingga 64 persen.
Lantas, masalah Liverpool itu kelelahan fisik atau gaya main lawan? Kedua hal itu bisa berpengaruh, tetapi sebenarnya ada problem yang lebih besar. Tim asuhan Slot terlihat belum pulih sepenuhnya dari kekalahan adu penalti versus PSG. Mereka mengalami kelelahan mental.
Di sisi lain, skuad Newcastle datang dengan ambisi mengakhiri paceklik gelar selama tujuh dekade. Bruno Guimaraes dan rekan-rekan ingin membayar kekalahan di partai puncak pada dua tahun silam, dalam kompetisi dan di tempat yang sama. Itu yang membuat mata mereka ”menyala” di setiap duel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/17/6ba74efe0db7aeee601ddbf7c9ff108d-wires_photo_18_.jpg)
Secara mental, selalu sulit untuk menilai. Tetapi, jika Anda melihat hasil dan performa (hari ini), Anda mungkin bisa merasakan itu (persoalan mentalitas) mungkin berdampak kepada kami.
Para pemain Newcastle lebih ingin menang. Hal itu tecermin dari selebrasi ekspresif setiap memenangi duel. Mereka berkali-kali meninju udara, seperti mencetak gol, setelah merebut kembali bola. Gairah itu terhubung dengan puluhan ribu pendukung yang hadir.
Salah, bukti lainnya. Sang ”Raja Mesir” yang selalu diandalkan sepanjang musim tidak berkutik sepanjang laga. Menurut Opta, untuk pertama kalinya di Liverpool, Salah tidak menghasilkan tembakan atau menciptakan peluang saat laga berlangsung lebih dari 90 menit.
Antiklimaks Salah bisa dimaklumi jika melihat apa yang terjadi pada beberapa hari sebelumnya. Dia begitu kecewa setelah pemain Si Merah lainnya, Darwin Nunez dan Curtis Jones, gagal mengeksekusi penalti ke gawang PSG. Salah tertunduk sambil jongkok, memisahkan diri dari pemain lain.
Slot tidak bisa menampik ketika berbicara soal mentalitas. ”Secara mental, selalu sulit untuk menilai. Tetapi, jika Anda melihat hasil dan performa (hari ini), Anda mungkin bisa merasakan itu (persoalan mentalitas) mungkin berdampak kepada kami,” kata sang pelatih.
Musim Liverpool belum selesai. Mereka masih bisa mengangkat satu trofi pada akhir musim, yaitu Liga Inggris. Liverpool hampir dipastikan menjadi juara setelah unggul 12 poin atas peringkat kedua Arsenal dengan sembilan pekan tersisa. Namun, setelah pekan terburuk, semua menjadi abu-abu bagi mereka.
Slot akan menghadapi krisis kepercayaan diri terhebat sejak datang pada musim panas lalu. Mereka tidak pernah kalah dua kali beruntun sepanjang musim ini. Liverpool tidak hanya kalah berturut-turut pekan ini, tetapi juga kehilangan dua gelar juara sekaligus. Guncangan itu patut diwaspadai.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/ce6d68d6-74cf-41ce-bde9-1404b9843b87_jpg.jpg)
Liverpool harus belajar dari sejarah. Mereka mengalami guncangan serupa pada musim lalu, tahun terakhir Manajer Juergen Klopp, tetapi tidak mampu bangkit. Tragedi itu bermula pada bulan April, saat mereka masih dalam jalur tepat untuk memberikan hadiah treble winner untuk Klopp.
Tiba-tiba, Liverpool dikejutkan Atalanta dan tersingkir dari Liga Europa. Tren kejatuhan terbawa ke liga domestik. Mereka hanya menang sekali dari empat laga, termasuk dua kali kalah di antaranya. Akhirnya Si Merah hanya mempersembahkan trofi Piala Liga yang sudah diraih pada Februari.
Adapun para pemain yang merasakan kejatuhan pada akhir era Klopp masih diandalkan Slot musim ini. Jika ketika itu skuad Liverpool bermimpi setinggi mungkin untuk mengakhiri era Klopp dengan manis, kali ini mereka berambisi mencapai hasil terbaik pada awal kepemimpinan Slot.
Ekspektasi sangat tinggi pada musim lalu dan musim ini muncul karena Si Merah tampil nyaris sempurna hingga dua pertiga musim. Lalu, saat hasil mulai tidak sesuai harapan, mereka terpuruk dan kesulitan memulihkan diri. Semakin tinggi ekspektasi, semakin sakit pula ketika terjatuh.
Saking besar kans Liverpool menjuarai liga musim ini, The Analyst sudah membuat tulisan berjudul ”Kapan Liverpool Akan Memenangi Titel Liga Inggris?”. Namun, sebelum itu terjawab, ada pertanyaan yang lebih penting. Bagaimana Slot akan menyembuhkan Liverpool dari luka baru dan trauma musim lalu? (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti