Baru kali ini melihat warga bisa piknik di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta. Ribuan warga duduk-duduk sembari menikmati makanan dan minuman dengan leluasa.
17 Agt 2025 18:13 WIB · Politik & Hukum
Seusai upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (17/8/2025), yang berlangsung pukul 10.00 WIB sampai sekitar pukul 11.30 WIB, ribuan peserta upacara disuguhi pesta rakyat di halaman tengah antara Istana Negara dan Istana Merdeka. Jejeran gerobak makanan pun sudah siap di jalur aspal, di kanan dan kiri halaman tengah itu.
Soto ayam, siomai, nasi goreng, soto tangkar, es doger, es krim, sampai sate ayam tersedia. Oleh karena melibatkan UMKM, kegembiraan perayaan kemerdekaan pun menjadi rezeki bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah tersebut.
Pedagang soto ayam Lamongan, Syafi’i (54), misalnya, ikut gembira karena diajak menyediakan makanan untuk pesta rakyat. Istana, menurut dia, memesan 500 porsi soto Lamongan, padahal sehari-hari dia hanya berjualan 100-200 porsi.
”Ini rezeki, bisa masuk Istana, sayang enggak ketemu Pak Prabowo,” ujar Syafi’i yang sehari-hari berjualan di depan Masjid Istiqlal.
Sejak malam sebelumnya dia menyiapkan masakan. Minggu pagi, petugas Paspampres mengecek keamanan makanan yang akan disajikan.
Senang, terharu, juga kagum (bisa ikut upacara di Istana). Suka, sebab ini pengalaman pertama.
Sementara itu, bagi Trisnawati (40), warga Jakarta Barat, penyelenggaraan pesta rakyat di Istana membawa berkah tersendiri. Ia diminta untuk membantu kerabatnya, seorang pedagang bakso, yang berkesempatan menjual produknya di pesta rakyat. ”Saya diminta bantu, dapat honor Rp 500.000,” ujarnya.
Bagi Trisnawati, jumlah honor itu cukup untuk menambah penghasilannya sebagai asisten rumah tangga. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan itu, ia ditugaskan melayani peserta upacara yang ingin menyantap bakso. Ada sekitar 1.000 porsi bakso yang disediakan.
Dengan beragam sajian ini, masyarakat yang hadir bebas memilih. Ati (55), warga Jakarta, pun duduk santai di bawah salah satu pohon di halaman Istana. Dia sudah menikmati mi ayam, kerak telor, dan es krim.
”Senang, terharu, juga kagum (bisa ikut upacara di Istana). Suka, sebab ini pengalaman pertama,” ujar perempuan berjilbab yang sehari-hari bekerja sebagai guru itu.
Ati ikut war tiket undangan upacara, tetapi sempat gagal karena kuota penuh. ”Tiba-tiba dapat e-mail tanggal 13 (Agustus), jadi, ya, besoknya langsung ambil undangan,” tambahnya.
Dayinta (25) pun gembira bisa mendapatkan undangan upacara di Istana Merdeka. Dayinta yang tinggal di Jepara, Jawa Tengah, pun langsung berangkat menggunakan bus, Jumat (15/8/2025) sore, dan tiba di Jakarta Sabtu pagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/17/737e6ee9-5ea4-4181-adbe-e7f9a37b6660_jpg.jpg)
Dia mengakui, war tiket tak mudah. ”(Saya) nge-war-in teman dan kakak saya, tapi cuma dapat satu (buat saya),” tutur Dayinta.
Dayinta yang baru pertama kali ke Istana pun berkenalan dengan Syifa (27), warga Jakarta yang juga mendapat undangan dan duduk di blok I, di depan pagar Istana Merdeka.
Peserta upacara yang duduk di blok I ini awalnya tak boleh masuk ke Istana dan menikmati jamuan pesta rakyat. ”Tadi (peserta upacara di Blok I) marah-marah dulu sama Paspampres. Baru dikasih masuk. Katanya, kan, ini pesta rakyat, jadi seharusnya semua undangan sama,” tutur Syifa.
Warga yang umumnya baru pertama menginjakkan kaki di Kompleks Istana Kepresidenan ini tentu tak ingin melewatkan kesempatan berfoto-foto. Apalagi, mendapatkan undangan upacara di Istana sungguh tak mudah, dalam beberapa menit saja kuota penuh.
Semua akhirnya bisa menikmati Istana. Duduk-duduk di berbagai sudut Istana secara bebas, seperti piknik. Pemandangan ini pun sangat langka di Istana Kepresidenan Jakarta.
Orang yang menginjak rumput di halaman tengah Istana Kepresidenan sepertinya hanya petugas yang menangani tanaman, sedangkan pegawai dan pengunjung lain umumnya tak berani menginjakkan kaki di rumput kecuali dalam acara khusus. Oleh karena itu, warga pun betah berlama-lama, apalagi ini kesempatan langka berada di Istana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/17/667fd89a-0fc9-4e8c-a1bb-67d3f5aad2d1_jpg.jpg)
”Pengennya sih sampai malam, sekalian ikut upacara sore, tapi apa boleh buat,” ujar Ati.
Sementara itu, Vidi Nurcholis, warga Duren Sawit yang berkesempatan mengikuti upacara di halaman Istana Merdeka, mengakui mengikuti upacara dari televisi dan di Istana sangat berbeda. Vidi mengaku tak pernah melewatkan upacara peringatan kemerdekaan RI selama ini. Bisa dikatakan, televisinya hanya menyala untuk menonton upacara.
”Jadi, walau biasanya biasa aja kalau dengar ’'Indonesia Raya’, di Istana ini karena live music, pemandangan mata dan ambience-nya, dengar ’Indonesia Raya’ bisa terharu biru. Ambience hebat terjadi juga karena ribuan orang terdiam dan terpusat pada satu hal,” tutur Vidi.
Warga lain yang turut menikmati pesta rakyat adalah Popy Rufaidah. Seusai mengikuti upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi, dia mengantre di depan stan soto Ambengan. Sudah waktunya makan siang untuk dia yang tiba di Istana Merdeka sejak pukul 04.00 WIB.
Popy tidak mau ketinggalan setiap acara yang digelar, termasuk pesta rakyat yang memberikan hiburan dan makan gratis untuk warga. Sebab, ini merupakan kali pertama ia mengikuti upacara 17 Agustus di Istana. Tahun ini, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran itu berkesempatan untuk mewakili Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/17/9bd16e5f-4b29-4053-bf75-1ce3b07b9e0c_jpg.jpg)
Menurut Popy, nuansa kedekatan negara dan rakyat begitu terasa dari konsep acara yang tidak hanya dibuat untuk pejabat, tetapi juga terbuka bagi umum. Di areal pesta rakyat, semua orang bisa bertemu dengan siapa saja dan makan bersama siapa pun. ”Saya juga salut, semua berpakaian sipil. Jadi, masyarakat merasa nyaman,” ujarnya.
Popy menambahkan, negara memang perlu untuk terus membuka diri kepada masyarakat. Warga perlu diberi kesempatan untuk bisa melihat para elite dari dekat. Dengan begitu, diharapkan tidak ada prasangka buruk terhadap pemerintah dan sebaliknya.
Lebih dari itu, kegembiraan yang didapatkan oleh elite sehari-hari juga perlu dibagi kepada masyarakat. ”Walaupun perekonomian kita gapnya sangat jomplang, mayoritas dikuasai oligarki saja, tetapi rakyat perlu merasakan kebersamaan ini bersama-sama sehingga dapat menghilangkan praduga tentang kepemimpinan yang jauh dari rakyat,” kata Popy
Sekretaris Presiden Mayor Jenderal Ariyo Windutomo menjelaskan, undangan untuk masyarakat mencapai 8.700. Sebanyak 700 merupakan kuota tambahan dan duduk di blok di depan pagar Istana.
Ariyo mengakui, tak bisa semua undangan duduk di halaman istana. Namun, akhirnya semua bisa menikmati pesta rakyat. ”Perintah Presiden, ini pesta untuk rakyat,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/17/d9cdf1ef-f92f-4326-99a2-4e641f0152a0_jpg.jpg)
Selain itu, warga hanya bisa berpesta di halaman Istana sampai pukul 13.00 WIB. Sebab, petugas harus segera mempersiapkan Istana untuk upacara penurunan bendera. Masih ada sekitar 8.700 undangan lain yang akan hadir.
”Maunya kami memberikan (kesempatan) selama mungkin dan sebanyak mungkin. Tapi nanti sore, kan, ada acara lagi, jadi mau tidak mau, harus kami atur untuk acara sore. Lagi pula, nanti malam ada pesta rakyat di Monas sampai Semanggi,” tutur Ariyo.
Persiapan Peringatan Detik-detik Proklamasi, pesta rakyat, sampai karnaval disiapkan sekitar sebulan. Namun, kata Ariyo, koordinasi antara kementerian dan Sekretariat Presiden sangat baik.
”Karena kami tidak sendiri, ada beberapa kementerian lain dan secara proporsional kami berbagi tugas,” kata Ariyo menjelaskan banyak yang mendukung pelaksanaan rangkaian HUT Ke-80 RI.
Penulis:
Nina Susilo, Kurnia Yunita Rahayu, Iqbal BasyariEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati