Polri berjanji mengusut tuntas kasus penyiraman air keras pada Andrie Yunus. Penyidik kepolisian terus mendalami kasus tersebut.
18 Mar 2026 14:57 WIB · Kriminalitas
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
JAKARTA, KOMPAS — Polri berkomitmen untuk mengungkap kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan atau Kontras, Andrie Yunus, secara terang benderang. Sejumlah alat bukti terus dikumpulkan, termasuk kemungkinan adanya sumber informasi baru.
Hal ini disampaikan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, Rabu (18/3/2026), di Jakarta. Dia menyampaikan, sampai saat ini, anggotanya sedang bekerja untuk mengusut kasus ini. ”Kemarin sudah ditampilkan 86 CCTV yang terus didalami,” ujarnya.
Listyo memastikan jajarannya tidak akan berhenti pada pengumpulan dan analisis rekaman kamera pemantau (CCTV) semata, tetapi akan berlanjut pada pencarian sumber informasi dan alat bukti lain. ”Semua sumber informasi akan disatukan untuk membuat kasus ini terang benderang,” ucapnya.
Langkah tegas ini diambil setelah Listyo mendapatkan perintah dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengusut tuntas kasus ini. ”Kami akan terus bekerja,” ungkap Listyo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/04/7bf60fe093c00a25198bde5a07622d16-202500904RAM_Usman_Hamid_.jpg)
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid meyakini, kepolisian memiliki kapasitas yang cukup tinggi untuk mengungkap kasus ini. ”Jika tidak terungkap, itu artinya ada suatu kendala nonyuridis teknis. Misalnya, karena serangan itu diorkestrasikan oleh elite tertentu yang ada dalam kekuasaan,” katanya.
Apalagi, alat bukti yang dikumpulkan terkait kasus ini cukup lengkap. ”Kami (aktivis) turut membantu pihak kepolisian untuk mengumpulkan alat bukti di lapangan,” ujar Usman.
Menurut dia, dengan alat bukti yang cukup lengkap, kasus ini seharusnya bisa diusut dengan tuntas. ”Terkecuali ada intervensi kotor terhadap kepolisian,” katanya.
Usman menambahkan, terungkapnya kasus ini bisa menjadi momentum penting bagi Polri untuk menjaga kepercayaan rakyat dan dunia internasional.
”Saya juga perlu menegaskan bahwa seluruh organisasi masyarakat sipil se-Indonesia mendukung penuh Polri untuk membongkar kasus ini hingga aktor utama di baliknya,” tegas Usman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/17/86a26d75fd29b494aa36081854ac820c-20260317ron28.jpg)
Sebelumnya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (16/3/2026), mengatakan, dalam menelusuri pergerakan pelaku, polisi meneliti 86 kamera CCTV yang tersebar di jalur yang dilalui pelaku.
”Dari 86 CCTV itu, terekam 2.610 gambar dalam bentuk video dengan durasi 10.320 menit. Karena itu, kami membutuhkan waktu beberapa hari untuk menganalisis rekaman video tersebut,” tutur Iman.
Hasilnya, terduga pelaku yang terdiri dari empat orang tersebut telah mengikuti pergerakan korban sejak sebelum kejadian penyiraman air keras. ”Mereka bergerak dari arah Jakarta Selatan menuju titik kumpul, yakni di depan Stasiun Gambir,” kata Iman.
Dengan menggunakan dua sepeda motor, keempat pelaku menyusuri Jalan Ir H Juanda menuju Jalan Medan Merdeka Barat, lalu ke arah Tugu Tani. ”Mereka berkendara melingkari Monas ke Tugu Tani,” ungkap Iman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/3577be82bb6fd8fd4169e12d73955efb-cropped_image.jpg)
Dari sana, mereka mengikuti korban sejak dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Mereka juga membuntuti korban yang mengisi bahan bakar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) Cikini. Sembari menunggu korban mengisi bensin, para pelaku membuntuti korban di Jalan Diponegoro hingga di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.
”Lalu, di Jalan Salemba 1, tepatnya di persimpangan Talang, para pelaku melakukan aksinya menyiram korban dengan asam kuat (air keras),” ucap Iman.
Setelah menyiram korban, kata Iman, pelaku melarikan diri ke arah berbeda. Pelaku pertama dan kedua yang berboncengan mengarah ke Jalan Salemba Raya menuju area Senen, kemudian ke arah Jalan Kramat Jaya, menuju Tugu Tani. ”Dari kawasan Tugu Tani, mereka bergerak ke arah Stasiun Gondangdia. Dari sana menuju ke Jakarta Selatan,” tuturnya.
Adapun sepeda motor kedua yang ditumpangi pelaku ketiga dan keempat kabur dari Salemba menuju Jalan Pangeran Antasari II, Jakarta Selatan, lalu ke Jalan Matraman dan berlanjut ke Jatinegara, Jakarta Timur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/17/8733109e681feaee6c961fd311431bf2-20260317ron22.jpg)
Dari sana, mereka ke Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta Timur. Berdasarkan rekaman CCTV tersebut, setelah kejadian, salah satu pelaku mengganti pakaian dan berpencar ke wilayah Kalibata, Ragunan, dan Bogor.
Dari analisis tersebut, Iman menduga keempat terduga pelaku merupakan orang terlatih. ”Mereka (pelaku) memiliki ketenangan dalam melakukan perjalanan dari satu titik ke titik lain menuju ke lokasi kejadian. Dan, setelah melakukan aksinya, mereka baru melaju dengan kecepatan tinggi,” ujarnya.
Iman bersyukur karena beberapa CCTV yang dijadikan alat bukti memiliki resolusi yang cukup tinggi sehingga di beberapa tempat, pergerakan pelaku terekam dengan cukup jelas.
Dari 86 CCTV itu, terekam 2.610 gambar dalam bentuk video dengan durasi 10.320 menit. Karena itu, kami membutuhkan waktu beberapa hari untuk menganalisis rekaman video tersebut.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto