Kasus Campak Mewabah di Amerika dan Eropa

Dalam beberapa tahun terakhir kasus campak di sejumlah negara maju melonjak akibat rendahnya cakupan imunisasi.

12 Mei 2025 07:48 WIB · Humaniora

Oleh Adhitya Ramadhan

JAKARTA, KOMPAS - Kasus campak di Amerika dan Eropa meningkat 11 dan 10 kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Tanpa peningkatan cakupan imunisasi yang signifikan, kasus campak akan menjadi endemik di dua kawasan ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Pan-Amerika menyampaikan, terdapat 2.318 kasus campak pada akhir April 2025 atau 11 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan kasus pada April 2024 yang sebanyak 205. Terdapat enam negara di wilayah kerja WHO Pan-Amerika yang tahun ini melaporkan adanya kasus campak, yakni Argentina, Belize, Brasil, Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat (AS).

Per 2 Mei 2025, Amerika Serikat melaporkan 935 kasus campak di 30 negara bagian, di mana tiga di antaranya meninggal dunia. Sementara Kanada melaporkan 1.177 kasus campak per 19 april 2025 dan terdapat 421 kasus konfirmasi campak dan 384 kasus lainnya masih diinvestigasi di Meksiko.

”Mempertahankan cakupan imunisasi yang cukup di populasi migran, kelompok antivaksin, dan kelompok berisiko lainnya di kawasan ini menjadi tantangan,” sebut WHO.

Kepada CBS News pada Jumat (9/5/2025) pekan lalu, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F Kennedy Jr yang selama ini kerap menyampaikan minsinformasi soal vaksin, menekankan pentingnya vaksinasi campak untuk mencegah wabah.

”Kami mendorong masyarakat untuk mendapatkan vaksin campak,” kata Kennedy. Ini menjadi pernyataan dukungan Kennedy pertama terhadap vaksinasi setelah ditunjuk menjadi menteri di kabinet President Donald Trump.

Siswa kelas I menangis saat mendapatkan vaksin measles rubela (MR) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Karim, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/9/2022). Imunisasi dilakukan oleh tenaga medis dari Puskesmas Sidosermo. Untuk kelas 1 mendapatkan imunisasi measles rubela (MR) dan siswa perempuan Kelas V dan VI mendapatkan imunisasi human papillomavirus (HPV). Sebanyak 400 siswa dari dua sekolah di Kelurahan Sidorsermo mendapatkan imunisasi. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Seperti dikutip dalam The Conversation, Rabu (7/5/2025), Asisten Profesor Penyakit Menular Anak dari Michigan State University, Rebecca Schein, mengatakan, campak adalah penyakit infeksi yang paling menular. Satu orang positif campak bisa menularkan ke 12 hingga 18 orang lainnya. Meski demikian, campak yang disebabkan oleh virus ini bisa dicegah dengan imunisasi. Sayangnya, cakupan imunisasi campak menurun.

Menurut Schein, sebuah studi menggunakan pemodelan algoritma pada 2022 pernah memperkirakan apa yang akan terjadi di AS jika cakupan imunisasi campak turun selama pandemi Covid-19. Hasilnya, jika anak yang tidak divaksin campak selama pandemi Covid-19 tidak mendapat vaksinasi susulan dan sentimen antivaksin dibiarkan, maka 21 persen anak di AS—sekitar 15 juta jiwa—akan rentan terinfeksi campak dalam lima tahun ke depan.

Quote

Campak kembali lagi dan ini menjadi alarm bahaya. Tanpa cakupan vaksinasi yang tinggi, status kesehatan menjadi rentan.

Studi lain yang dipublikasikan pada April 2025 menemukan bahwa campak kemungkinan akan menjadi endemik lagi di AS dan diperkirakan ada 850.000 kasus campak dalam 25 tahun ke depan di negara adidaya ini jika cakupan vaksinasi campak tidak meningkat.

Bahkan, apabila cakupan vaksinasi menurun, diperkirakan ada 11 juta kasus campak di AS dalam 25 tahun yang akan datang.

Studi Mathew V Kiang dkk dari Departemen Epidemiologi dan Kesehatan Penduduk, Standford University dalam JAMA Network (April 2025), menunjukkan, meningkatkan cakupan imunisasi 5 persen dapat menekan kasus campak menjadi 3.000 hingga 19.000 kasus dalam 25 tahun mendatang.

Studi serupa oleh Jennifer McNichols dari Departemen Matematika, Simon Fraser University, Kanada di BMC Infectious Disease (Februari 2025), memperkirakan, sepanjang cakupan imunisasi campak mencapai 85 persen, intervensi kesehatan dapat mengatasi lonjakan kasus campak yang terjadi. Hal ini membutuhkan vaksin yang gratis dan mudah diakses serta kepercayaan publik yang tinggi terhadap vaksinasi campak.

Eropa naik 10 kali lipat

Kenaikan kasus campak hingga 10 kali lipat juga terjadi di Eropa. Dalam Laporan Epidemiologi Tahunan 2024 yang diluncurkan 28 April 2025, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyampaikan, terdapat 35.212 kasus campak di Uni Eropa atau naik dari 3.973 kasus pada 2023.

Dengan kata lain, notifikasi kasus campak di Eropa mencapai 77,4 kasus per 1 juta penduduk, jauh lebih tinggi dari 2023 dengan 9,1 kasus per 1 penduduk. Angka ini bahkan lebih tinggi dari masa sebelum pandemi Covid-19, yakni 27,2 kasus per 1 juta penduduk pada 2019.

Romania menjadi negara dengan notifikasi kasus campak tertinggi, yakni 1.610,7 kasus per 1 juta penduduk yang mencakup 87 persen dari total kasus campak di Eropa.

”Campak kembali lagi dan ini menjadi alarm bahaya. Tanpa cakupan vaksinasi yang tinggi, status kesehatan menjadi rentan. Semua negara harus turun tangan untuk menjangkau penduduk yang belum mendapat vaksin,” kata Hans P Kluge, Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Regional Eropa dikutip dari laman resmi Unicef, 13 Maret 2025.

capaian imunisasi campak-rubela

Kasus di Indonesia

Di Indonesia, campak pun masih menjadi persoalan. Kejadian luar biasa (KLB)  campak masih dilaporkan. Pada 2024, Kementerian Kesehatan RI mencatat setidaknya terdapat 53 kejadian luar biasa campak yang tersebar di 37 kabupaten/kota di 16 provinsi.

Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan Prima Yosephine dalam peringatan Pekan Imunisasi Sedunia 2025 pada 21 Maret 2025 menuturkan, KLB penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti campak terjadi karena cakupan imunisasi yang masih belum optimal di Indonesia (Kompas.id, 3 April 2025). Dari target cakupan imunisasi minimal 95 persen pada bayi dan anak usia di bawah dua tahun, baru tercapai 87 persen.

Cakupannya pun tidak merata. Hanya enam provinsi yang cakupan imunisasinya 100 persen. Namun, tujuh provinsi bahkan tidak mencapai 50 persen cakupan imunisasi bayi lengkap. Ketujuh provinsi ini adalah Papua Selatan (45,6 persen), Papua (45,3 persen), Papua Barat (44,5 persen), Papua Barat Daya (44 persen), Aceh (39,2 persen), Papua Tengah (24,0 persen), dan Papua Pegunungan (2,9 persen).

Berbagai tantangan ditemukan untuk mencapai cakupan imunisasi yang optimal. Tantangan tersebut, antara lain, orangtua yang enggan memberikan vaksinasi kepada anaknya. Hampir 38 persen orangtua tidak mau anaknya mendapatkan vaksinasi dengan alasan tidak mau anaknya mendapatkan suntikan ganda, 18 persen karena jadwal imunisasi tidak sesuai, dan 12 persen karena khawatir terhadap efek samping yang ditimbulkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adhitya Ramadhan
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .