Mereka bisa saja masuk ke sekolah negeri lewat jalur afirmasi. Namun, mereka memilih jadi siswa angkatan pertama sekolah rakyat gagasan Presiden Prabowo Subianto.
26 Jun 2025 17:16 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Tidak seperti teman-teman lainnya yang minggu-minggu ini tengah sibuk mencari SMA negeri dalam sistem penerimaan murid baru, Nur Aisah (16) justru sudah mendapatkan kursi sejak jauh-jauh hari. Dia memilih untuk melanjutkan studi ke sekolah rakyat.
Mulai Juli mendatang, Nur akan menjadi salah satu murid di antara 9.755 murid angkatan pertama di sekolah gagasan Presiden Prabowo Subianto ini. Mereka berasal dari keluarga kelompok desil 1 dan desil 2 dalam data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN) yang diintegrasikan dengan data pokok pendidikan (dapodik).
Kelompok desil 1 adalah kelompok rumah tangga yang tingkat ksejahteraannya termasuk 10 persen terendah secara nasional, sedangkan desil 2 adalah kelompok rumah tangga yang berada di peringkat 11-20 persen terendah.
Sekolah rakyat bukan hanya menghadirkan fasilitas pendidikan dan asrama gratis, melainkan juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kehangatan keluarga.
Nur adalah anak ketiga dari Tukinem (48), seorang asisten rumah tangga yang tinggal bersama majikannya di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dia merasa, dengan mau menjadi murid sekolah rakyat dan meninggalkan teman-temannya di sekolah reguler, ia akan membantu ibunya yang kini sudah berjuang sendiri untuk menghidupi dua anaknya.
”Teman-teman aku pada enggak mau (daftar sekolah rakyat), cuma aku yang mau. Bagi aku, aku ingin lebih terbuka dan bersosialisasi dengan teman-teman yang baru aku kenal. Semoga pelajaran di sini bisa membimbing kita ke cita-cita yang kami mau,” kata Nur sembari mengungkapkan cita-citanya sebagai dokter, Kamis (26/6/2025).
Tukinem pun tak ragu untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah rakyat karena ini merupakan sekolah berasrama. Semua kebutuhan anak, mulai dari seragam sekolah, sepatu, tempat tinggal, makan, hingga kesehatan dijamin oleh negara.
Dia mengungkapkan, penghasilannya hanya Rp 2 juta per bulan yang harus dicukupkan untuk menghidupi dua anaknya sendirian. Untuk Nur saja, dia perlu mengeluarkan biaya bahan bakar minyak untuk antar-jemput sekolah sekitar Rp 100.000 seminggu.
Selain itu, terkadang ada pungutan di sekolah, seperti kegiatan perpisahan dan sebagainya. Dengan masuknya Nur ke Sekolah Rakyat, setidaknya Tukinem tidak perlu lagi mengeluarkan biaya-biaya tersebut dan bisa mengalihkan penghasilannya untuk kebutuhan lain.
”Ekonomi kami, kan, menengah ke bawah, di sini dapat semuanya, tinggal belajar saja, orangtua, kan, maunya dia belajar agar tidak seperti orangtuanya,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/5caa08199198754c921212ac9851f1f5-WhatsApp_Image_2025_06_26_at_1.37.30_PM.jpeg)
Selain Nur, ada pula Tika Pertiwi (16) yang juga sangat bersyukur dengan adanya program sekolah rakyat ini. Ayahnya, Idin Casikin, adalah seorang buruh bangunan yang kerjanya bergantung pada pesanan dari proyek orang lain.
”Sebagai anak dari keluarga yang kurang mampu, saya ingin mengubah keadaan orangtua dan membanggakan orangtua,” kata Tika yang bercita-cita ingin menjadi juru masak ini.
Dengan rata-rata penghasilan Rp 1 juta per bulan, hidup di Jakarta dengan tiga anak dan satu istri, Idin mengakui sudah berat memanggul tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Sekolah rakyat meringankan bebannya.
”Saya sempat bingung, anak udah mau SMA, tapi belum punya uang untuk daftar, terus ada informasi sekolah rakyat ini, ya, sudah gapapa di asrama saja,” kata Idin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/02f03c07bc6a582d65a1077be78f2c2a-WhatsApp_Image_2025_06_26_at_1.37.31_PM.jpeg)
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, meski nantinya akan berpisah tempat tinggal dengan anaknya, para orangtua siswa tidak perlu khawatir karena mereka bisa menengok anaknya di asrama sekolah rakyat, selama tidak mengganggu proses belajar-mengajar.
Dia menekankan bahwa sekolah rakyat bukan hanya menghadirkan fasilitas pendidikan dan asrama gratis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kehangatan keluarga. Kehadiran orangtua justru akan menjadi dukungan emosional yang penting bagi tumbuh kembang anak.
”Sekolah ini bukan untuk menjauhkan anak dari keluarganya. Justru ini tempat yang aman, layak, dan penuh kasih, di mana orangtua tetap bisa hadir secara emosional ataupun fisik,” kata Saifullah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/a5ffa34c-f2f1-4b43-8ef9-8247443fc594_png.png)
Dalam kesempatan ini, Saifullah juga menegaskan bahwa setiap siswa yang masuk ke sekolah rakyat tidak akan lagi mendapatkan bantuan sosial, seperti Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) Anak Sekolah yang sebesar Rp 225.000 per 3 bulan. Ini karena semua kebutuhannya sudah ditanggung di sekolah rakyat.
”Memang seharusnya begitu, nanti sistem yang akan menghentikan,” ujarnya.
Selain itu, siswa di sekolah rakyat juga akan dijamin pertumbuhannya dengan makanan dan minuman sehat dan bergizi. Kementerian Sosial akan menggandeng Badan Gizi Nasional untuk menyediakan konsumsi seperti standar makan bergizi gratis bagi para murid sekolah rakyat, tetapi tiga kali sehari di asrama.
”Kira-kira ini kalau (sekolah rakyat) sudah (beroperasi), penuh. Sebab, kapasitas penuhnya itu seribu dikali tiga kali makan. Berarti, kan, 3.000, itu, kan, satu dapur,” ucapnya.
Untuk tahap pertama, sekolah rakyat akan dimulai di 100 lokasi, dengan total 9.755 siswa dan akan diluncurkan pada 14 Juli mendatang. Presiden Prabowo meminta lokasi terus ditambah sebanyak 100 lokasi baru dengan jumlah murid lebih dari 20.000 orang, didukung oleh 2.180 guru dan 4.069 tenaga kependidikan.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto