DIPLOMASI

Mencegah Keresahan WNI di Abu Dhabi Berubah Jadi Kepanikan

KBRI Abu Dhabi mengimbau WNI di Uni Emirat Arab melakukan lapor diri. Hal ini dibutuhkan untuk mendukung langkah kesiapsiagaan di tengah konflik di Timur Tengah.

24 Mar 2026 17:30 WIB · Internasional

AFP/Ryan Lim

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Sejumlah negara di Timur Tengah terdampak perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Hal ini memicu kekhawatiran warga negara Indonesia yang tinggal di sana. Berbagai upaya dilakukan agar kekhawatiran itu tidak berubah menjadi kepanikan yang dapat memicu situasi lebih buruk di tengah konflik.

Salah satu negara Timur Tengah yang terdampak adalah Uni Emirat Arab (UEA). Sejak perang berkecamuk lebih dari tiga pekan lalu, negara itu telah mencegat lebih dari 1.700 drone, 338 rudal balistik, dan 15 rudal jelajah yang diluncurkan dari Iran. Namun, proyektil-proyektil dari pencegatan serangan itu menyebabkan kerusakan di berbagai lokasi.

Serangan rudal dan drone Iran merupakan respons terhadap serangan gabungan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026. Sebagai pembalasan, Iran lantas menyasar aset-aset AS, termasuk pangkalan militer, yang tersebar di kawasan Teluk. Sejauh ini, serangan AS-Israel telah menewaskan lebih dari 1.400 orang di Iran.

A plume of smoke rises from the port of Jebel Ali following a reported Iranian strike in Dubai on March 1, 2026. Ayatollah Ali Khamenei, Iran's supreme leader since 1989 and sworn enemy of the West, was killed in the opening salvo of a massive US and Israeli attack, sparking a new wave of retaliatory missile strikes from Tehran on March 1. (Photo by Fadel SENNA / AFP)

Perang AS-Israel dan Iran yang meluas ke sejumlah negara Teluk meresahkan penduduk UEA, termasuk warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di sana. Berdasarkan data imigrasi UEA, terdapat sekitar 81.000 WNI di negara itu. Mayoritas bekerja di sektor domestik atau rumah tangga. Ada pula yang bekerja di perhotelan dan bidang pengembangan teknologi.

Duta Besar RI untuk UEA Judha Nugraha mengatakan, meskipun merasa khawatir, secara umum kondisi WNI di sana cukup aman. Namun, pihaknya juga tetap waspada untuk mengantisipasi jika eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat.

”Takut dan khawatir itu wajar. Namun, jangan sampai ketakutan dan kekhawatiran itu berubah menjadi kepanikan karena bisa membahayakan dengan mengambil langkah yang keliru,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (23/3/2026).

Judha menjelaskan, sejak 28 Februari lalu, pihaknya meningkatkan pemantauan situasi dan pelindungan WNI. Upaya ini dilakukan dengan berkomunikasi intens dengan komunitas-komunitas WNI di sana. Saluran komunikasi daring lewat aplikasi pesan Whatsapp dimaksimalkan.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab, Judha Nugraha. Foto diambil Senin (2/2/2026) di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab, di Abu Dhabi.

Koordinasi dengan otoritas setempat juga ditingkatkan. Hal ini tidak cuma untuk mengetahui perkembangan situasi keamanan, tetapi juga memastikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok WNI, terutama logistik.

”Koordinasi dengan Pemerintah UEA sangat baik. Mereka sudah menyiapkan langkah-langkah keselamatan, bukan hanya untuk warganya, melainkan juga bagi warga negara asing (WNA),” ucapnya.

Terdapat sekitar 11,2 juta penduduk di UEA. Sekitar 10 juta orang di antaranya merupakan WNA. Kondisi inilah yang membuat Pemerintah UEA memprioritaskan keselamatan para ekspatriat di sana.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi juga memfasilitasi kepulangan 128 WNI yang terdampak gangguan penerbangan. Mereka telah kembali ke Indonesia atau melanjutkan penerbangan ke lokasi tujuan.

Quote

Salah satu hal krusial dalam mempersiapkan evakuasi adalah pendataan. Sebab, pendataan yang lengkap akan mendukung kesiapan transportasi yang matang dan dukungan kebutuhan lainnya. Oleh sebab itu, sejak awal KBRI Abu Dhabi telah mengimbau WNI untuk melakukan lapor diri.

Selain itu, ada pula WNI yang menetap di UEA yang memutuskan pulang ke Indonesia. ”Empat orang yang melakukan repatriasi mandiri. Mereka ingin pulang atas pertimbangan pribadi,” katanya.

Judha menyampaikan, pihaknya telah menetapkan status Siaga III di wilayah kerja KBRI Abu Dhabi dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai. Penetapan status tersebut merupakan langkah antisipatif dalam sistem pelindungan WNI yang mengenal empat tingkat status keamanan, yaitu Normal, Siaga III, Siaga II, dan Siaga I. Status Siaga III menunjukkan kondisi umum masih dalam kategori normal. Akan tetapi, diperlukan peningkatan kewaspadaan serta pemantauan yang lebih intensif.

Lapor diri

Salah satu hal krusial dalam mempersiapkan evakuasi adalah pendataan. Sebab, pendataan yang lengkap akan mendukung kesiapan transportasi yang matang dan dukungan kebutuhan lainnya. Oleh sebab itu, sejak awal KBRI Abu Dhabi telah mengimbau WNI untuk melakukan lapor diri.

”Lapor diri ini sangat penting. Jangan tunggu sampai last minute (saat terakhir). Jadi, kalau terjadi situasi yang memaksa harus melakukan evakuasi, kita sudah siap menyediakan transportasi dengan kapasitas sesuai kebutuhan,” katanya.

An Emirates Airbus A380 aircraft prepares for landing as a smoke plume rises from an ongoing fire near Dubai International Airport in Dubai on March 16, 2026. Flights were gradually resuming at Dubai airport on March 16, previously the world's busiest for international flights, the airport operator said, after a "drone-related incident" sparked a fuel tank fire nearby, as Iran kept up its Gulf attacks. (Photo by AFP) / 

Sebuah pesawat Airbus A380 Emirates bersiap untuk mendarat di bandara Internasional Dubai di Dubai, 16 Maret 2026.

Akan tetapi, hingga saat ini baru sekitar 11.000 WNI di UEA yang melakukan lapor diri. Padahal, proses lapor diri dapat dilakukan dengan cukup simpel, baik melalui portal Kementerian Luar Negeri maupun dengan mengisi formulir daring.

”Kami juga berharap saudara dari WNI di Indonesia mengingatkan hal ini. Kalau berkomunikasi dengan mereka, tolong menanyakan apakah sudah melakukan lapor diri atau belum. Lapor diri merupakan perlindungan pertama bagi WNI karena akan mendukung langkah kesiapsiagaan,” jelasnya.

Judha menuturkan, pihaknya terus berkomunikasi secara intens dengan WNI di sana dan mengimbau mereka untuk tetap tenang. Namun, hal itu juga dibarengi kewaspadaan dan kesiapsiagaan dengan menyiapkan langkah-langkah kontingensi.

”Sebagai contoh, kita tidak berharap terjadi kebakaran. Namun, kita tetap harus berlatih bagaimana caranya memadamkan api. Antisipasi seperti ini harus disiapkan,” ujarnya.

A navy vessel is seen sailing in the Strait of Hormuz, a vital waterway through which much of the world's oil and gas passes on March 1, 2026. Two ships were attacked in the Strait of Hormuz on March 1, maritime security agencies said, as Iran pressed a second day of strikes in response to US-Israeli military strikes on Iran killing it's supreme leader. (Photo by Sahar AL ATTAR / AFP)

Beberapa hari lalu, Judha juga mengunjungi korban selamat awak kapal tunda Musaffah 2 yang meledak di Selat Hormuz pada 6 Maret lalu. Empat dari tujuh awak kapal itu merupakan WNI. Salah satu WNI selamat, sementara tiga lainnya belum ditemukan.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Elizabeth Mewengkang, menyebut, pencarian tiga WNI itu masih terus berlangsung. ”Kementerian Luar Negeri juga mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden ini,” ujarnya.

Sementara itu, Pemerintah UEA terus mengecam serangan Iran yang diarahkan ke negara itu. Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed mengatakan, negaranya berhak sepenuhnya mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan, keamanan nasional, dan integritas wilayahnya, serta memastikan keselamatan penduduk.

”UEA mengecam keras eskalasi yang sedang berlangsung ini, yang menargetkan warga sipil dan fasilitas penting di seluruh negeri. Serangan tanpa provokasi ini telah mendapat kecaman keras dari dunia internasional,” ucapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto