Misteri Tiga Pesawat China Kala Israel Serang Iran

Tidak ada laporan ada pesawat jatuh di perbatasan Turkmenistan-Iran setelah pesawat-pesawat itu hilang dari pantauan radar sipil. Diduga penerbangan itu rahasia.

18 Jun 2025 18:14 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Di tengah serangan Israel ke Iran, muncul misteri dari China. Tiga pesawat kargo dari China mendadak menghilang ketika mendekati wilayah udara Iran.

Laporan mengenai hilangnya tiga pesawat China itu pertama kali dikabarkan oleh surat kabar konservatif Inggris, Telegraph, Rabu (18/6/2025). Mereka melaporkan berdasarkan pemantauan radar penerbangan.

Berdasarkan catatan sebelumnya, pesawat kargo itu sering disewa oleh pemerintah untuk mengirim logistik. Di dalamnya termasuk untuk mengirim persenjataan dan alat-alat pendukung.

Ketiga pesawat kargo itu dioperasikan oleh Cargolux, maskapai yang berbasis di Luksemburg. Menurut catatan penerbangan, ketiga pesawat Boeing 747 itu terbang menuju Luksemburg. Akan tetapi, mereka tidak terpantau melewati langit Eropa.

Pesawat-pesawat itu tidak berangkat serentak, tetapi satu per satu dari Sabtu (14/6/2025) sampai dengan Rabu. Pesawat terakhir lepas landas dari kota Shanghai pada Rabu dini hari. Israel menyerang Iran sejak Jumat dini hari.

Laman Flight Radar menampilkan, seperti dua pesawat sebelumnya, pesawat bernomor penerbangan CLX 9877 itu tidak menuju Luksemburg. Pesawat terbang melewati Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan lalu hilang di perbatasan Turkmenistan dengan Iran.

”Tentu saja publik penasaran dengan isi pesawat kargo itu dan kenapa tiba-tiba di wilayah udara Iran mereka tidak terbaca oleh radar,” kata pengamat isu China dan Timur Tengah di Universitas Exeter, Andrea Ghiselli.

Responders work amid building rubble following a strike by an Iranian missile in the Israeli city of Bat Yam, south of Tel Aviv, early on June 15, 2025. Air raid sirens and booms rang out in Jerusalem and Tel Aviv early on June 15, AFP journalists said, as Israel and Iran exchanged fire for a third day. (Photo by Jack GUEZ / AFP)

Tidak ada laporan ada pesawat jatuh di perbatasan Turkmenistan-Iran setelah pesawat-pesawat itu hilang dari pantauan radar sipil. Ada dugaan pesawat-pesawat itu mematikan pelacak posisinya agar tidak terpantau radar sipil.

Hal itu lazim dilakukan misi rahasia. Salah satu jenis misi rahasia adalah pengiriman senjata.

”Jika perang berkelanjutan, China salah satu negara yang potensial mendukung Iran. Ada beberapa negara lain akan mendukung Iran karena sejumlah alasan dan kepentingan,” kata jurnalis senior dan pengamat Timur Tengah, Musthafa Abd Rahman.

Musthafa beberapa kali menyambangi Iran di sela 30 tahun masa tinggalnya di Mesir. ”Perang ini berdampak luas,” katanya.

Sikap China

Sejak Israel menyerang Iran pada pekan lalu, China telah mendorong peredaan ketegangan. Di sisi lain, China juga menekankan bahwa serangan ke Iran sebagai pelanggaran hukum internasional. ”China menolak setiap tindakan yang melanggar kedaulatan negara lain,” kata Presiden China Xi Jinping.

China secara terbuka mengecam keras Israel ketika menyerang Iran. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menelepon Menlu Israel Gideon Saar. Ia mengatakan, tindakan Israel melanggar hukum internasional.

Wang Yi juga mengemukakan dukungan kepada Iran dan menyatakan China membela kedaulatan Iran. Sikap Beijing kali ini lebih tegas dibandingkan dengan akhir 2024 ketika Israel dan Iran berkonflik setelah Israel berseteru melawan Hizbullah di Lebanon. Hizbullah dianggap sebagai kelompok yang disokong Iran.

Xi menuturkan, China siap melakukan berbagai tindakan konstruktif di tataran global untuk mendatangkan perdamaian. Aksi militer adalah solusi yang tidak efektif dan buruk bagi keamanan serta kesejahteraan dunia.

Hubungan China dan Iran sangat dekat. Iran dijatuhi sanksi ekonomi oleh negara-negara Barat. Sebagai negara penghasil minyak dan gas, Iran kesulitan menjual produk mereka. Mayoritas minyak Iran dibeli oleh China, yaitu sebanyak 2 juta barrel per hari.

Selain itu, China juga tidak mau Iran menutup Selat Hormuz. Perairan itu adalah jalur logistik 20 persen minyak dan gas dunia. Apabila Selat Hormuz ditutup, dampaknya akan memukul perdagangan global.

China berusaha tampil sebagai pihak yang netral. Mereka merujuk kembali kepada keberhasilan mempertemukan Fatah, Hamas, dan 12 kelompok di Palestina untuk menandatangani perjanjian Palestina Bersatu di Beijing. China juga menekankan bahwa mereka tidak memiliki beban sejarah dengan Timur Tengah.

”Ada kesenjangan antara retorika pengaruh diplomasi Beijing dan kenyataan di lapangan. China tidak memiliki kekuatan di dalam menentukan dinamika di Timur Tengah, terlepas eratnya kerja sama ekonomi dengan negara-negara di kawasan,” kata Craig Singleton, peneliti di Yayasan Pembela Demokrasi (FDD)—lembaga nonpartisan di Amerika Serikat—kepada Channel News Asia.

Hal ini berbeda dari AS yang memiliki pengaruh politik kepada negara-negara Timur Tengah. Sikap AS mendukung ataupun menentang konflik di kawasan amat menentukan masa depan masyarakat di sana. AS memiliki kedekatan politik dengan Israel. Bahkan, dengan Iran yang kerap berseberangan pun AS memiliki pengaruh yang kuat. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra