Iran Takkan Keluar NPT jika Timbal Balik Adil

Iran menganggap dianaktirikan terkait program pengayaan nuklir. Mereka berniat keluar dari pelucutan senjata nuklir, kecuali ada pembenahan.

17 Jun 2025 15:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

JAKARTA, KOMPAS — Iran menginginkan kerja sama nuklir yang berkeadilan. Jika itu terwujud, Iran tidak akan keluar dari perjanjian pelucutan dan penyebaran senjata nuklir atau Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT). Iran menginginkan perlakuan yang serupa dengan negara-negara lain.

Demikian disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (17/6/2025). Ia memberi taklimat media tentang perkembangan konflik antara Iran dan Israel.

Konflik dimulai saat Israel menyerang Iran pada Jumat (14/6/2025). Iran lalu membalas serangan Israel. Kedua negara masih melakukan baku serang menggunakan rudal dan bom. Konflik pecah di tengah rencana perundingan keenam antara Iran dan Amerika Serikat mengenai nuklir.

Awalnya, perundingan direncanakan berlangsung di Muscat, Oman, pada Minggu (16/6/2025). Berhubung Iran sedang berperang dengan Israel, perundingan pun batal.

Teheran kemudian mengumumkan niat untuk keluar dari NPT. Iran adalah salah satu dari 190 negara yang meratifikasi perjanjian tersebut.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dalam jumpa pers di Jakarta, (17/6/2025) tentang perkembangan konflik Iran-Israel.

”Sebagai negara peratifikasi NPT, Iran berhak atas kemudahan fasilitas dari IAEA (Badan Energi Atom Internasional). Tetapi, kenyataannya tidak begitu. Kami jadi berpikir mungkin tidak ada gunanya bergabung di NPT,” kata Boroujerdi.

Ia menyoroti, Iran melakukan semua protokol tambahan sesuai anjuran NPT. Pada saat yang sama, tidak ada teguran keras ke Israel. Israel tidak meratifikasi NPT. Mereka tidak pernah mengakui ataupun menyangkal memiliki persenjataan nuklir.

Namun, berbagai laporan, termasuk yang dikeluarkan oleh lembaga independen Inisiatif Ancaman Nuklir (NTI), menyebut Israel setidaknya mempunyai 90 hulu ledak nuklir. NTI juga mengatakan, Israel memiliki kemampuan membuat 300 hulu ledak nuklir.

Pada September 1979, terjadi Insiden Vela, yaitu cahaya ledakan di atmosfer di atas Kepulauan Pangeran Edward di Afrika Selatan. Berbagai laporan menduga, ledakan itu akibat uji coba senjata nuklir secara rahasia yang dilakukan Afsel bersama Israel. Tidak ada pertanggungjawaban yang dituntut dari Israel.

”Oleh sebab itu, kami menginginkan NPT berjalan dua arah. IAEA harus berlaku adil. Jika itu terwujud, Iran tentu tidak akan keluar dari NPT,” kata Boroujerdi.

Takut melebar

Terkait dengan konflik yang berlangsung, Boroujerdi menekankan bahwa Iran di dalam posisi membela diri. Selama Israel menyerang, Iran akan bertahan dan membalas.

Serangan balasan Iran juga proporsional. Israel menyerang pangkalan militer, Iran melakukan hal serupa. Demikian pula dengan balasan ke infrastruktur ekonomi. Walaupun, Teheran menuduh Israel melanggar peraturan internasional dengan menyerang daerah sipil dan infrastruktur nuklir.

Korban tewas terus berguguran dan setengahnya dari kalangan sipil. Pemerintah Iran melaporkan, ada 224 korban tewas akibat serangan Israel. Sebanyak 70 orang di antaranya adalah perempuan dan anak. Di Israel, menurut Middle East Eye, korban tewas ada 10 orang.

TOPSHOT - Smoke billows from an explosion at the Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) building in Tehran on June 16, 2025. The IRIB building was struck in an Israeli attack on June 16, cutting live coverage immediately. The blast occurred as the presenter was live on TV lambasting Israel before she was seen leaving the live broadcast, Iranian media reported, sharing a video of the incident. (Photo by AFP)

Presiden Perancis Emmanuel Macron yang berada di Kanada untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi tujuh negara terkaya di dunia (G7) menyerukan gencatan senjata. Negara-negara di Timur Tengah mengajak Iran mengutamakan rasa persaudaraan dan diplomasi untuk menyelesaikan konflik.

Mereka khawatir konflik melebar ke wilayah lain di Timur Tengah. Wilayah itu sudah kepayahan menanggung beban perang di Jalur Gaza dan kini Iran. Selain itu, masih ada situasi Houthi di Yaman yang belum terkendali.

Iran berpikiran menutup Selat Hormuz di antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Perairan itu merupakan urat nadi energi global. Setidaknya, seperlima minyak dan gas dunia diangkut melalui jalur tersebut. Jika Selat Hormuz terganggu, harga minyak akan meroket.

Tanggapan AS

Presiden AS Donald Trump lebih cepat meninggalkan KTT G7. Sejumlah pemimpin negara anggota G7 meminta AS berbicara dengan Israel agar berhenti menyerang Iran. Alasan Israel menyerang Iran juga dinilai tidak memiliki dasar dalam hukum internasional. Dalihnya ialah mencegah Iran mengembangkan persenjataan nuklir. Sesuai Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara yang diserang boleh membela diri secara terukur.

Terkait dengan hal itu, Trump mengatakan, AS terus menjaga komunikasi dengan Iran. Washington juga menerima masukan dari berbagai negara untuk melakukan diplomasi menghentikan konflik.

Akan tetapi, Tel Aviv memiliki narasi berbeda. ”Trump tidak meminta kami untuk berhenti,” kata Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, dikutip oleh Wall Street Journal.

Smotrich adalah politikus ekstrem kanan yang menginginkan pendudukan sepenuhnya Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Partai di mana dia bernaung adalah mitra koalisi penting bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pernyataan itu seolah menegaskan di mana posisi AS sejatinya. Ketika Israel menyerang Iran, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio seolah lepas tangan. Washington mengatakan, mereka tidak mengetahui rencana itu.

Akan tetapi, banyak hal yang ditunjukkan kemudian berbeda. Trump yang meskipun tidak bilang mendukung serangan, mengirim bantuan senjata ke Israel. Ia juga mengultimatum warga Teheran agar mengungsi.

Pengamat isu Timur Tengah di Chatham House, Sanam Vakil, mengatakan, tidak ada pilihan lain bagi Israel dan Iran selain berunding. Israel akan makin terisolasi apabila bersikukuh dengan agenda menyerang Iran. Serangan itu juga dapat meningkatkan pandangan ekstrem di Iran, yang bisa berujung pembuatan senjata nuklir.

Taktik Israel terus menyerang untuk melemahkan Iran di meja perundingan diragukan oleh para pakar. Di Jalur Gaza, taktik itu gagal memaksa Hamas bertekuk lutut. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .