Tim kecil dari Kota Stoke, Port Vale, menembus perempat final Piala FA untuk kedua kali dalam sejarah setelah menaklukkan tim unggulan dari Liga Inggris, Sunderland.
09 Mar 2026 03:32 WIB · Olahraga
AP
STOKE, MINGGU — Sulit dijelaskan dengan logika, tim juru kunci dari divisi tiga atau Liga Satu Inggris mampu menumbangkan tim dari divisi tertinggi. Kejutan besar itu terjadi di putaran kelima Piala FA, saat Port Vale mengeliminasi Sunderland. Tradisi kisah ajaib tim non-unggulan kembali bersemi di kompetisi tertua di dunia tersebut.
Port Vale dan Sunderland terpisah 57 peringkat di dalam piramida sepak bola Inggris. Namun, perbedaan timpang di atas kertas itu tidak berlaku di Stadion Vale Park, Stoke, Minggu (8/3/2026) WIB. Skuad Port Vale yang tampil spartan di depan pendukung sendiri berhasil menaklukkan tim tamu 1-0 lewat gol tunggal gelandang Ben Waine.
Kemenangan itu terasa seperti utopis, khususnya bagi Waine. Sang pencetak gol tumbuh besar sebagai pendukung Newcastle United. Sunderland merupakan rival terbesar Newcastle. ”Tidak ada yang lebih baik lagi. Itu adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah saya impikan. Bukan laga yang indah untuk disaksikan, tetapi kami berjuang mati-matian untuk itu,” kata Waine.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/a488f6f6fa08c198c07ffad8a830af68-Port_Vale_v_Sunderland_Emirates_FA_Cup_Fifth_Round_St_Vale_Park_2_.jpg)
Stadion Vale Park hanya berkapasitas 18.000 penonton, tetapi atmosfer kebahagiaan seperti bisa terasa sampai ke langit seusai peluit panjang. Para pendukung berpelukan merayakan kelolosan tim ke perempat final untuk pertama kalinya setelah 71 tahun silam. Mereka menyanyikan tembang ”Glad All Over” dengan lantang.
Perbedaan dua tingkat divisi mungkin tidak terlihat jauh dari sisi angka. Namun, jurang itu sangat lebar. Liga Inggris, divisi teratas, memiliki standar yang berbeda sebagai liga domestik paling kompetitif sedunia. Dengan kondisi finansial yang kuat, tim-tim Liga Inggris bisa menciptakan skuad berkualitas. Itu tidak dimiliki tim-tim dari divisi bawah.
Lihat saja perbedaan kualitas skuad Port Vale dan Sunderland yang seperti bumi dan langit. Nilai pasar keseluruhan skuad tuan rumah hanyalah 7,95 juta pound sterling (Rp 180,4 miliar). Jumlah itu sekitar 35 kali lipat lebih kecil dibandingkan skuad Sunderland yang dipimpin gelandang ternama Granit Xhaka.
Pelatih Sunderland Regis Le Bris berkata, keunggulan kualitas itu tidak berarti karena mereka kalah dalam daya juang. ”Kredit terhadap lawan kami. Mereka bermain dengan rasa lapar, kesabaran, dan intensitas tinggi. Kami tidak ada di level itu. Laga ini lebih ke pertarungan bola kedua, kami tidak menunjukkan kekuatan yang cukup untuk mendominasi,” ujarnya.
Layaknya tim non-unggulan, Port Vale tampil dengan strategi bertahan total. Mereka menerapkan blok pertahanan sangat rendah atau strategi ”parkir bus”, sambil berharap mendapat kans serangan balik. Wilayah pertarungan semakin sempit karena laga lebih banyak dimainkan di separuh lapangan Port Vale. Adu fisik pun menjadi elemen krusial.
Kegigihan skuad Port Vale pula yang membuat Waine dan rekan-rekan bisa unggul lebih dulu pada menit ke-28. Gol itu berasal dari skema tendangan sudut. Walaupun tidak bisa mencetak gol langsung dari umpan silang, mereka mampu memenangi duel di kotak penalti berkali-kali dan menghasilkan peluang dari situasi kemelut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/4e31ba852e411348b2e1cff6d44ea429-Port_Vale_v_Sunderland_Emirates_FA_Cup_Fifth_Round_St_Vale_Park.jpg)
Pelatih Port Vale Jon Brady memberikan konteks lebih tentang betapa sulitnya laga itu. Port Vale merupakan tim terbawah dari 24 tim Liga Satu setelah kompetisi tersisa sepertiga musim. Mereka hanya menang enam kali di liga sepanjang musim ini. Situasi itu diperparah dengan kepergian pencetak gol terbanyak tim, Devante Cole, pada akhir Januari lalu.
Para pemain Port Vale bisa membuat kejutan karena tampil tanpa beban. Brady tidak meminta banyak hal kepada anak asuhnya, hanya berharap mereka memberikan yang terbaik untuk pendukung. Hanya Piala FA satu-satunya sumber kebahagiaan mereka di sisa musim ini. ”Para penggemar telah melewati banyak hal (sulit),” kata sang pelatih.
Menurut Brady, hasil itu juga tidak terlepas dari rasa cinta yang besar di dalam klub. Dari para pendukung, pemain, staf pelatih, hingga pemilik klub. ”Kami memiliki pemilik yang fantastis dalam Carol Shanahan. Dia menganalogikan sepak bola seperti permainan ular tangga, anda bisa naik dan turun (dalam sekejap),” ujarnya.
Analogi itu memperlihatkan cara sang pemilik dalam menjalankan klub. Orientasinya bukan semata bisnis atau pretasi, melainkan bagaimana bisa membuat klub hidup dengan nilai yang mengutamakan pendekatan manusia. Carol, bersama sang suami, Kevin Shanahan, mengambil alih Port Vale pada 2019. Adapun mereka merupakan pendukung setia klub sejak lama.
Port Vale sudah menciptakan dua kejutan dalam sepekan terakhir. Mereka terlebih dulu menaklukkan tim divisi dua (Liga Championship) Briston City 1-0 dalam putaran keempat Piala FA, tengah pekan lalu. Pahlawan kemenangan mereka juga sama, Waine, yang menghasilkan gol penentu di pengujung babak tambahan waktu.
Berkat dua kisah ajaib tersebut, Port Vale kini bisa mendampingi tim-tim besar lain di perempat final. Mereka menyusul Arsenal, Chelsea, Liverpool, dan Manchester City yang sudah lolos lebih dulu pada hari sebelumnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji