Digelar dengan standar internasional, Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 tetap diwarnai kearifan lokal yang menyambut hangat para pelari.
01 Des 2024 19:47 WIB · Olahraga
Berbagai pihak bergotong royong meracik sajian hangat untuk para pelari di Bank Jateng Borobudur Marathon 2024. Suguhan yang dihadirkan di lomba lari berstandar internasional itu cukup beragam, mulai dari minuman hangat, makanan lokal, hingga kekayaan seni dan budaya. Pelari dari dalam maupun luar negeri pun terkesan.
Kabut tipis menyelimuti lintasan lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (1/12/2024) pagi. Lintasan itu basah akibat hujan yang turun malam sebelumnya. Namun, udara dingin tak menyurutkan langkah kaki ribuan warga untuk berjajar di pinggir lintasan guna menyambut dan menyemangati para pelari.
Untuk mengusir dinginnya udara pagi, para guru di SD Negeri Wanurejo, Kecamatan Borobudur, meracik teh jahe serai. Tak hanya menghangatkan tubuh mereka, minuman tradisional itu juga disuguhkan untuk para pelari Borobudur Marathon yang melintas.
”Ayo kakak, silakan coba teh jahe serainya, kakak,” kata salah satu guru di SDN Wanurejo kepada para pelari yang melintas. Mendengar ucapan tersebut, para pelari kategori separuh maraton yang melintas di sekitar Kilometer 12 itu pun menepi, kemudian mengambil gelas-gelas berisi teh jahe serai yang mengepul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/1a944907-8152-4347-8dc7-a3e4a879a179_jpg.jpg)
”Belakangan ini, kalau pagi di sini dingin. Untuk itu, kami menyiapkan teh jahe serai untuk menghangatkan badan. Minuman itu juga bisa menambah stamina sehingga cocok untuk pelari yang berlomba saat udara dingin seperti ini,” ujar Siti Qodariah, guru di SD Negeri Wanurejo.
Menurut Siti, pihaknya menyiapkan sekitar 150 gelas teh jahe serai. Ia senang, ratusan gelas minuman yang mereka berikan secara cuma-cuma untuk para pelari itu akhirnya ludes.
Siti menuturkan, selain berkhasiat, teh jahe serai juga dihidangkan karena mereka ingin memperkenalkan minuman tradisional khas Magelang itu kepada para pelari. Apalagi, lomba itu tak hanya diikuti oleh pelari dari luar daerah, tetapi juga luar negeri.
Banyak warga di Borobudur dan sekitarnya menganggap para pelari Borobudur Marathon sebagai tamu. Sebagaimana layaknya tamu, mereka pun dijamu dengan sebaik-baiknya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/f5b16d5f-1578-4cb4-9d0b-936996bbd977_jpg.jpg)
Jamuan pun diberikan oleh warga Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Magelang. Yuyun (40), salah seorang warga yang menjadi inisator penyambutan, menuturkan, pihaknya menyiapkan singkong rebus, kacang rebus, salak, dan teh manis.
Singkong rebus menjadi sajian paling laris. Kudapan lokal itu sudah habis saat lomba baru berlangsung tiga jam.
”Selain singkong, andalan di sini itu teh manis. Tidak ada sepertinya (warga lain) yang menyajikan teh manis. Jadi, banyak orang yang datang karena sudah tahu dan minta itu. Kami sudah menyuguhkan seperti ini sejak Borobudur Marathon pada 2017,” ucap Yuyun.
Ia menambahkan, kudapan yang disajikan secara cuma-cuma itu sebagian berasal dari hasil panen mereka. Mereka mau repot-repot menyiapkan itu semua lantaran ingin turut berkontribusi memeriahkan Borobudur Marathon.
Kegiatan itu dinilai Yuyun positif. Sebab, hubungan antarwarga menjadi kian erat dengan adanya kerja bakti menyediakan hidangan-hidangan itu untuk pelari. Sejumlah anak muda juga disebut Yuyun termotivasi untuk menjadi atlet lari berprestasi setelah menonton lomba tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/589cbee8-1171-457b-b669-a1269eafb177_jpg.jpg)
Tak hanya makanan dan minuman, warga juga menyuguhkan pentas seni dan budaya di sepanjang lintasan. Para pelari kategori maraton yang melintas di Desa Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, misalnya, bisa menyaksikan sepasang patung ogoh-ogoh setinggi 2 meter yang diangkat oleh belasan pemuda.
Pertunjukan itu menjadi kian semarak karena diiringi dengan musik tradisional Warok Temanggung. Sebagian pelari pun tak bisa menahan diri untuk ikut bergoyang.
Sementara itu, di sekitar Km 6 untuk kategori separuh maraton, tujuh siswa SDN Ringinputih 1, Kecamatan Borobudur, menampilkan Tari Batik Ayu. Tarian itu khusus dibuat oleh Sugiyanto, guru kesenian sekolah tersebut, untuk menginformasikan kepada penonton bahwa ada kerajian batik di Borobudur.
”Apalagi, tahun ini ada lebih banyak peserta, termasuk peserta dari mancanegara. Harapannya, pertunjukan ini bisa menjadi sarana mengenalkan kearifan lokal di sini, yaitu batik Borobudur, kepada lebih banyak lagi orang,” tutur Sugiyanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/c27c61c1-3a03-4d1e-9934-a96e945934dc_jpg.jpg)
Keberadaan tim penyemangat di sepanjang lintasan juga dikagumi oleh para pelari asing. Seam Rasmussen, pelari kategori maraton dari Amerika Serikat, mengaku terkesan dengan keramahan warga ataupun panitia selama perlombaan.
”Ini adalah pengalaman pertama saya datang ke Indonesia. Saya sengaja datang ke sini hanya untuk mengikuti Borobudur Marathon. Saya sungguh terkesan melihat orang-orang bernyanyi dan menari di pinggir jalan, meriah dan menyenangkan,” katanya.
Seam mengaku sudah beberapa kali mengikuti maraton di negaranya. Menurut dia, tak pernah ada kelompok penyemangat dalam lomba-lomba yang ia ikuti selama ini.
”Sebagai perlombaan lari pertama di luar negeri yang saya ikuti, Borobudur Marathon sangat sempurna. Jalurnya sangat menantang, kelembabannya cukup tinggi, dan udaranya lebih panas dari Amerika. Tapi, secara keseluruhan, saya sangat suka dengan perlombaan ini,” ujar Seam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/61d84b44-8be0-40bd-9335-a0f0f97c193a_jpg.jpg)
Tak hanya pelari asing, Rahman (36), pelari dari Kota Semarang, juga terkesan dengan Borobudur Marathon. Tahun ini merupakan tahun kedua Rahman berpartisipasi.
”Di pagi hari, udaranya sangat segar, pemandangannya indah, masyarakatnya sangat ramah. Bahkan, mereka yang tidak diatur oleh panitia turut terlibat menyambut kami. Rasanya, energi yang mereka bawa dari rumah ditransfer ke kami. Itu yang bikin kami di beberapa momen cukup terharu,” ucapnya.
Borobudur Marathon digelar atas kerja sama Pemerintah Provinsi Jateng, Bank Jateng, Yayasan Borobudur Marathon, dan harian Kompas. Tahun ini, lomba yang mengambil tema ”Run On, Mark It” itu diikuti sekitar 10.500 orang yang terbagi ke tiga kategori, yakni maraton, separuh maraton, dan 10K.
Tahun ini, Borobudur Marathon telah mendapat status ”Label” dari World Athletics atau Federasi Atletik Dunia. Oleh karena itu, kualitas penyelenggaraan lomba pun ditingkatkan agar bisa memenuhi standar internasional. Peningkatan itu pun dirasakan oleh sejumlah pelari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/3a266400-68d7-447a-b55e-e526ef83ec19_jpg.jpg)
Anissa (25), pelari asal Pati, Jateng, menuturkan, penyelenggaraan lomba tahun ini jauh lebih rapi. ”Padahal ramai, tapi hampir tidak ada antrean. Lalu, jumlah kelompok penyemangatnya juga semakin banyak. Water station dan jumlah tenaga kesehatan juga sepertinya lebih banyak dari tahun lalu,” kata perempuan yang sudah dua kali mengikuti Borobudur Marathon itu.
Irma Handayani (31), pelari nasional yang telah berpartisipasi di Borobudur Marathon sejak 2017, menyebutkan, dari tahun ke tahun, kualitas lomba itu terus meningkat. Tahun ini, peningkatannya disebut Irma cukup signifikan.
”Dari segi teknis lomba jauh lebih rapi dan tertata. Marshal dan water station-nya juga lebih banyak. Penempatan water station setiap 2,5 kilometer juga sangat bagus untuk memenuhi kebutuhan hidrasi pelari,” tuturnya.
Saya sungguh terkesan melihat orang-orang bernyanyi dan menari di pinggir jalan, meriah dan menyenangkan.
Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Adi Prinantyo menyebutkan, peningkatan juga dilakukan dalam segi pelayanan kesehatan. Tahun ini, ada pemisahan antara tenda perawatan dan tenda pemulihan untuk mengoptimalkan pelayanan.
”Dulu jadi satu, jadi saat orang melihat tenda medis, kesannya seperti banyak orang yang dirawat. Karena sekarang sudah dipisah, jadi alurnya lebih mengalir,” ujar Adi.
Dengan beragam peningkatan itu, Borobudur Marathon berupaya menjadi lomba lari bertaraf internasional. Namun, kearifan lokal warga tetap akan menjadi bagian tak terpisahkan dari lomba itu.
Penulis:
Kristi Dwi Utami, Kelvin HianusaEditor:
Haris Firdaus