Penundaan sebagian tarif ekspor ke AS menurunkan risiko terjadinya resesi. Namun, hal ini akan terus membayangi seiring penerapannya nanti secara penuh.
10 Apr 2025 17:00 WIB · Riset
Penundaan sebagian tarif bea masuk impor ke Amerika Serikat mendorong kegairahan sejumlah pasar bursa di beberapa kawasan dunia. Semua impor barang ke AS hanya akan dikenai biaya tarif 10 persen untuk sementara waktu. Penundaan ini membuat risiko terjadinya resesi di sejumlah kawasan sedikit menurun. Meskipun demikian, risiko pelemahan ekonomi masih tetap membayangi ketika tarif resiprokal diberlakukan secara penuh oleh Pemerintah AS.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan tiga bulan untuk tarif imbal balik impor pada Rabu (9/4/2025) atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Semua impor ke AS hanya akan dikenai bea masuk impor (BMI) 10 persen.
Pengumuman Trump memicu kegairahan di pasar modal. Dalam penutupan perdagangan Rabu, seluruh indeks bursa AS menghijau. S&P 500 menguat 9,52 persen, Dow 30 naik 7,87 persen, dan Nasdaq tumbuh 12,16 persen. Kegairahan membuat S&P 500 melompat dengan lonjakan tertinggi sejak 2008.
Surat utang atau obligasi negara AS juga melambung. Kenaikan harga SUN 10 tahun terbang ke 3,24 persen dan SUN 5 tahun melesat ke 4,78 persen. Harga sejumlah komoditas juga menguat, seperti halnya minyak mentah yang naik 1,25 persen, emas 0,4 persen, dan tembaga melonjak 5,89 persen.
Di sisi lain, nilai tukar dollar AS terhadap sejumlah mata uang negara lain melemah. Artinya, terjadi penguatan ekonomi di sebagian negara lain terhadap kondisi pasar tiap-tiap negara bersangkutan (Kompas.id, 4/10/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/b845b2db68a7349839e3b9e6c159f199-cropped_image.jpg)
Ekonom Goldman Sachs segera merevisi proyeksi resesi selepas pengumuman Trump. Bank investasi AS itu memproyeksi AS akan masuk periode resesi jika tarif BMI massal jadi diberlakukan. Namun, estimasi itu menyusut dari sebelumnya 60 persen, kini peluang resesi turun ke 45 persen setelah pengumuman penundaan tarif resiprokal AS.
Penundaan sebagian tarif tersebut seperti memberikan ruang terhadap seluruh negara di dunia untuk melakukan penyesuaian dengan perdagangan internasionalnya. Peluang untuk memperkuat pasar di luar AS ataupun mencari pasar baru demi meminimalkan ekspor ke AS.
Namun, apakah memperkuat pasar di luar AS itu mudah? Tentu jawabnya tak mudah karena AS merupakan sentra pengiriman barang terbesar di dunia sehingga besaran ekspor ke sejumlah negara pengganti AS relatif tidak terlalu besar. Berdasarkan data oec.world, serapan impor AS terhadap produk global pada 2023 merupakan yang terbesar di seluruh dunia. Nominal impor yang diserap AS mencapai 3 triliun dollar AS atau sekitar 13 persen dari seluruh transaksi perdagangan dunia yang mencapai 22,6 triliun dollar AS.
Artinya, apabila negara-negara eksportir ingin memperkuat pasar di luar AS demi mengurangi biaya ekspor akibat kenaikan tarif AS, masih terbuka peluang sekitar 85 persen pasar di luar AS. Hanya saja, peluang itu sangatlah kompetitif karena sebagian besar pasar sudah terjalin mitra yang relatif erat antarnegara eksportir dan importirnya. Tak mudah untuk mendapatkan pasar baru di tengah kompetisi perdagangan yang sangat kuat. Jadi, secara pasif pun, AS tetap akan menjadi tambatan utama bagi para mitra perdagangan tradisionalnya.
Dalam posisi itu kedudukan AS sangatlah kuat secara geopolitik ataupun geoekonomi. Dengan demikian, ”memaksa” negara-negara eksportir untuk bernegosisasi dengan AS. Secara politik internasional, negosiasi ini tentu saja akan mengedepankan keinginan AS dengan mitranya. Baik dari segi ekonomi guna mengurangi defisit neraca perdagangan maupun demi kepentingan politik tertentu guna memperkuat diplomasi AS atau kepentingan AS terhadap negara bersangkutan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/04/8b7b50a0-6503-405a-a54b-11d5b80ec22c_png.png)
Kemungkinan besar AS akan terus memberikan tekanan kepada sejumlah negara yang memberikan dampak besar bagi defisit necara perdagangannya. Pada 2023, nilai ekspor AS ke seluruh dunia mencapai 1,86 triliun dollar AS sehingga defisit neraca perdagangan AS sekitar 1,1 triliun dollar AS.
Dari sejumlah negara mitra strategis AS, sebagian besar memang menunjukkan notasi defisit bagi neraca perdagangan AS. Apabila diurutkan dari yang terbesar defisitnya, setidaknya ada empat negara penyumbang notasi negatif itu. Negara tersebut adalah China dengan defisit neraca sekitar 282 miliar dollar AS; Meksiko 213 miliar dollar AS; Kanada 140 miliar dollar AS; dan Vietnam 108 miliar dollar AS. Untuk negara lainnya rata-rata memberikan tekanan defisit neraca di bawah 60 miliar dollar AS.
Lantas, apabila penundaan BMI ke AS itu berakhir setelah tiga bulan ke depan, apakah proyeksi resesi masih akan tetap mengancam secara global? Ada sejumlah indikasi makro yang menggambarkan situasi resesi ekonomi. Hingga saat ini, setidaknya ada lima peristiwa resesi global.
Berdasarkan publikasi Bank Dunia, setidaknya ada empat resesi dunia sebelum 2020. Resesi itu terjadi pada 1975, 1982, 1991, dan 2009. Selanjutnya, resesi terakhir yang dirasakan seluruh dunia adalah kurun waktu 2020-2021 saat dunia dilanda wabah Covid-19.
Dari serangkain resesi itu, selalu disertai dengan melemahnya produk domestik bruto global. Selain itu, juga disertai dengan sejumlah indikator makro lainnya, di antaranya inflasi yang tinggi ataupun inflasi yang sangat rendah serta meningkatnya jumlah pengangguran karena menurunnya nilai produksi barang dan jasa. Bahkan, untuk krisis di 1980-an dan 2010 disertai dengan lonjakan harga energi, yakni minyak dunia hingga lebih dari 100 dollar AS per barel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/4de1ac7c-4e88-448e-8300-f3b76d33cfd1_png.png)
Apabila diurutkan dari resesi pertama, yakni kurun 1975, kala itu dunia diguncang embargo minyak dari negara-negara eksportir minyak, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Embargo ini terkait dengan perang Yom Kippur pada 1973 yang melibatkan Mesir dan Suriah melawan Israel demi merebut kembali wilayah yang lepas ke tangan Israel dalam Perang Arab-Israel tahun 1967. Dalam peperangan ini, kekuatan geopolitik negara-negara pemilik sumber daya minyak dipergunakan.
Negara-negara pengekspor minyak bumi yang tergabung dalam OPEC memotong produksi minyak dunia dan melakukan embargo terhadap beberapa negara pendukung Israel. Akibat kebijakan geopolitik negara-negara produsen minyak terbesar di dunia itu, harga minyak global meroket dari yang sebelumnya hanya kurang dari 5 dollar AS per barel menjadi lebih dari 10 dollar AS per barel.
Akibatnya, terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi global. Dari kisaran 6,4 persen pada 1973 menjadi 1,93 persen pada 1974 dan terus menyusut menjadi 0,56 persen pada 1975. Daya beli masyarakat dunia juga anjok drastis kala itu. Inflasi global pada 1974 hanya naik 1,90 persen dari sebelumnya yang sekitar 5 persen. Inflasi dunia pada 1975 sedikit naik menjadi 3,13 persen. Untuk negara-negara berkembang, seperti Indonesia, terdampak sangat berat sehingga mengalami inflasi hingga lebih dari 40 persen pada 1974 dan sedikit menyusut pada 1975 menjadi 19,17 persen.
Resesi berikutnya pada kurun 1982 disebabkan oleh kebijakan bank sentral AS, The Fed, yang menaikkan suku bunga secara ekstrem. Langkah ini ditempuh untuk mengendalikan inflasi AS yang sangat tinggi kala itu. Hanya saja, kebijakan AS ini membuat sebagian negara mengalami resesi karena terjadi aliran dana global menuju AS sehingga membuat kurs sebagian negara di dunia melemah. Harga-harga barang menjadi kian mahal dan berdampak pada sektor ekonomi secara luas.
Kebijakan AS pada 1982 itu mampu menurunkan inflasi domestik AS hingga menjadi 6,13 persen dari tahun sebelumnya yang lebih dari 10 persen. Inflasi AS yang lebih dari dua digit ini terjadi pada kurun waktu 1979-1981. Ekonomi AS pun tumbuh dari negatif 1,80 persen pada 1982 menjadi 4,58 persen pada 1983.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/299e41dc-f225-4e41-9392-0d28b1f7bb69_png.jpg)
Hanya saja, kebijakan AS itu harus dibayar mahal oleh negara lainnya di dunia dengan besaran pertumbuhan ekonomi yang susut menjadi 0,36 persen. Besaran ini terpaut cukup jauh dengan pertumbuhan ekonomi dunia pada 1981 yang hampir mencapai 2 persen. Dampaknya juga terasa di Indonesia, saat pertumbuhan ekonomi terjun menjadi 2,25 persen dari tahun sebelumnya yang hampir menyentuh 8 persen. Inflasi nasional pun kembali melonjak hingga dua digit pada kurun waktu 1982-1984.
Resesi ketiga terjadi pada kurun 1990-an awal, ketika kala itu terjadi konflik militer antara Sekutu dan Irak sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia. Akibatnya, melemahkan daya beli, terutama di negara-negara importir minyak. AS merupakan salah satu negara yang turut terdampak hal itu. Apalagi, AS secara ekonomi juga relatif sedang rapuh dengan pertumbuhan ekonomi negatif 0,11 persen. Situasi ini disikapi dengan menerapkan kebijakan ekonomi ketat yang menuntut biaya tinggi sehingga berdampak pada sektor properti dan utang korporasi.
Situasi konflik dan kebijakan internal AS itu turut menyebabkan dunia turut terimbas dalam krisis. Pertumbuhan global saat itu turun menjadi 1,21 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 2,7 persen. Pada tahun itu, pertumbuhan Indonesia terkoreksi menjadi 6,91 persen dari tahun sebelumnya yang konsisten di atas 7 persen dalam dua tahun berturut-turut. Inflasi nasional pun merangkak naik di kisaran 9,4 persen mendekati dua digit.
Pada masa resesi berikutnya pada kurun waktu 2009-an, ketika inflasi dunia cenderung stagnan, yakni di besaran 0,82 persen. Pada saat ini, ekonomi sangat lesu sehingga pertumbuhan ekonomi global anjlok hingga negatif 1,34 persen. Negara-negara maju mengalami perlambatan ekonomi dalam notasi negatif hingga rata-rata lebih dari minus 3 persen. Khusus AS, perlambatan ekonominya paling besar hingga negatif 2,58 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/d97de192-aa7d-4843-b0e5-ce47d4931a5d_png.png)
Situasi ekonomi AS yang rapuh akibat gelembung properti membuat dunia terseret dalam krisis. Pasar AS menjadi sangat lesu, ditandai dengan deflasi pada tahun itu sebesar negatif 0,36 persen. Pegangguran pun melonjak menjadi 9,2 persen atau mendekati situasi pengangguran saat krisis era 1980-an. Pasar AS yang lesu turut berdampak pada lesunya dunia usaha global, terutama yang mengandalkan AS sebagai pasar utamanya.
Resesi terbaru terjadi pada kurun waktu 2020-2021 saat dunia dilanda wabah Covid-19. Pertumbuhan ekonomi dunia anjok hingga minus 2,88 persen pada 2020. Semua kawasan negara menorehkan notasi pertumbuhan negatif, kecuali sejumlah negara miskin yang masih sederhana sumber perekonomiannya.
Inflasi dunia tercatat negatif atau deflasi sebesar negatif 3,03 persen. Notasi deflasi ini merupakan satu-satunya yang pernah terjadi setidaknya sejak 1970-an. Ekonomi dunia semuanya mengabarkan tentang kelesuan, daya beli menurun hingga bertambahnya jumlah pengangguran. Pengangguran di AS melonjak naik hingga lebih dari 8 persen atau merupakan yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Pun demikian dengan Indonesia, jumlah pengangguran meningkat menjadi 4,2 persen dan pendapatan per kapita susut hampir 3 persen.
Dari serangkaian resesi dunia itu, setidaknya ada tiga resesi yang melibatkan AS dalam pusaran kelesuan ekonomi global. Kebijakan AS yang cenderung menarik investasi global secara besar serta kebijakan yang cenderung berdampak pada kelesuan pasar domestik AS akan memberikan tekanan berat bagi dunia. Sejarah telah membuktikannya.
Lalu, apakah kebijakan tarif BMI Trump itu akan berdampak luas bagi dunia? Dengan tingginya ketergantungan AS terhadap komoditas asing dalam industrialisasinya maka kebijakan tarif ini akan mengancam peningkatan biaya produksi di dalam negeri AS. Harga menjadi kian mahal di pasaran domestik sehingga akan menurunkan daya beli masyarakat. Pasar AS akan minim permintaan, ekonomi domestik lesu, dan permintaan global pun susut. Ekonomi dunia pun akan terdampak dan kehadiran resesi global hanya soal waktu belaka. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Budiawan Sidik AEditor:
Andreas Yoga PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati