Selama ini, Indonesia tidak bisa menjamin integritas data transportasi kelautan dengan baik. Butuh perbaikan agar kasus kecelakaan tidak terus berulang.
03 Jul 2025 19:55 WIB · Nasional
MALANG, KOMPAS — Sejumlah faktor bisa jadi penyebab kecelakaan kapal, seperti faktor pemuatan, teknis, dan alam. Simpang siur data, bisa jadi memicu kecelakaan. Jika kondisi itu tidak diubah, kecelakaan kapal serupa akan berulang ke depan.
Dekan Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Setyo Nugroho menyampaikan hal itu, Kamis (3/7/2025). Menurut dia, dalam 200 kasus kecelakaan kapal terbalik atau tenggelam, 80 persen di antaranya melibatkan persoalan pemuatan tidak baik.
”Pemuatan tidak baik artinya penataan kendaraan dan barang tidak didata dengan baik, sisalnya beratnya berapa, visibility seperti apa, stabilitas kapal seperti apa. Ini kontributor besar bagi kecelakaan kapal,” katanya.
Sebelumnya, yakni pada Rabu (2/7/2025) malam, Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali. Hingga Kamis sore, menurut data Palang Merah Indonesia (PMI) Jembara, korban selamat 31 orang, sementara 5 orang meninggal. Sisanya, yaitu 30 orang, masih dalam pencarian
Menurut Setyo, kecelakaan kapal sering disebabkan oleh beberapa faktor secara bersama-sama. ”Faktor itu adalah pemuatan (pendataan dan penataan), faktor teknis (kapal, lambung, dan mesin tidak dalam kondisi baik, pengoperasiannya tidak baik), dan faktor alam.
”Penyebab ini terus terjadi 30 tahun terakhir dan ini tidak berubah. Ke depan, kemungkinan kondisi ini akan bisa berlanjut jika kita tidak berubah,” kata Setyo.
Hal penting yang pertama kali bisa diupayakan di Tanah Air, kata Setyo, adalah integrasi data, baik data muatan, teknis kapal, cuaca, dan lainnya. ”Integrasi ini bisa dilakukan dengan digitalisasi data. Berikutnya adalah taat dan patuh pada data dan aturan yang sudah dimiliki. Itu kuncinya,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/3e2b2e4cb183a25887d848b579ae7581-WhatsApp_Image_2025_07_03_at_15.20.08_1_.jpeg)
Menurut Setyo, Indonesia sebenarnya sudah punya perangkat aturan lengkap dalam keselamatan kelautan, seperti konvensi safety of life at sea dan maritime pollution (marpol). ”Persoalannya, kita sangat konsisten melanggar. Jika kita ikuti aturan, rasanya tingkat risiko kecelakaan akan berkurang,” kata Setyo.
Selama ini, Indonesia dinilai tidak bisa menjamin integritas data transportasi kelautan dengan baik. Menurut dia, kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba tahun 2018 adalah contoh nyata simpang siur data itu.
”Pada menit pertama diumumkan, jumlah penumpang 50 orang, lalu jumlah itu berubah dengan cepat menjadi 200-an. Artinya, itu kesalahan sangat mendasar. Jadi apa yang terjadi sebenarnya, dalam banyak kasus, adalah persoalan data. Kita tidak tahu data dengan baik, karena integritas data sangat rendah,” katanya.
Padahal, menurut Setyo, integrasi data dengan baik adalah kunci meminimalkan risiko kecelakaan lalu lintas. Berdasarkan studi DNV, lembaga sertifikasi kapal dunia, menunjukkan bahwa dalam 25 tahun terakhir tingkat kecelakaan kapal tenggelam menurun drastis di seluruh dunia, sejalan dengan meningkatnya digitalisasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/b269c937b93adb430f9105d721c912bb-20250703wer1.jpg)
”Tingkat kecelakaan kita masih tinggi dan ini merisaukan. Digitalisasi dan integrasi data adalah kuncinya. Digitalisasi data ini menjamin integritas beragam data dengan baik, mulai dari stabilitas kapal, data teknik kapal, dan lainnya, sehingga mendorong peningkatan keselamatan transportasi laut,” katanya.
Sayangnya, selama ini di Tanah Air, keselamatan adalah sesuatu yang selalu dikompromikan. ”Jadi, kepentingan ekonomi selalu lebih tinggi daripada keselamatan. Rasanya kita perlu berhenti pada area ini. Karena dari sisi pakem sesungguhnya, keselamatan adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan. Ini adalah hal paling dasar, baru diikuti aspek ekonomi,” kata Setyo.
Di beberapa negara, kata dia, jika keselamatan transportasi tidak dikedepankan, perusahaan penyedia jasa bisa benar-benar kolaps.
Di luar hal mendasar di atas, kondisi alam Selat Bali sendiri sebenarnya memang sedikit berbeda bila dibandingkan di tempat lain. Dosen Oseanografi dan Teknik kelautan ITS, Wahyudi berpendapat, Selat Bali secara geografis memang memiliki arus deras. Hal itu karena Selat Bali dilewati arus sekunder dari arlindo (arus lintas Indonesia) atau Indonesian Throughflow (ITF).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/cc103408f55db77d0bbed7cdae7f24ad-antarafoto_kmp_tunu_pratama_jaya_tenggelam_di_selat_bali_1751518854.jpg)
”Di Indonesia ada namanya arlindo (arus lintas Indonesia) atau ITF. Itu karena perbedaan densitas, salinitas, dan temperatur di (Samudra) Pasifik dan Hindia. Jadi ada aliran permanen dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia yang melewati Indonesia, tepatnya melewati Selat Makasar, ke selatan, dan lewat Lombok, lalu ada arus yang sifatnya secondary melewati Selat Bali. Kondisi itu menyebabkan arus di sana kencang,” kata Wahyudi.
Arus kencang itu bisa 0,6 meter per detik-70 m per detik. ”Itu arusnya cukup kencang sehingga kalau kapal posisi mati mesin bisa terseret,” kata Wahyudi.
Selain itu, dini hari saat kecelakaan terjadi, menurut Wahyudi, tinggi gelombang laut di Selat Bali mencapai 1-2 meter. Hal itu mempercepat masuknya air ke kapal yang sebelumnya disebut mengalami kebocoran di ruang mesin.
Terkait kecelakaan di Selat Bali, Rabu malam, Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin, dalam siaran persnya, mengatakan bahwa kejadian tersebut pertama kali terpantau pada pukul 23.20 WIB, ketika KMP Tunu Pratama Jaya mengalami gangguan dan menyampaikan permintaan bantuan melalui saluran komunikasi radio.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapal mengalami blackout pada pukul 23.35 WIB. Tidak lama berselang, kapal tersebut terbalik dan hanyut ke arah selatan, dengan posisi terakhir tercatat pada koordinat -08°09.371', 114°25.1569'.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/c86b11cbafdb006fd3acadcdc0725fde-antarafoto_kmp_tunu_pratama_jaya_tenggelam_di_selat_bali_1751518890.jpg)
ASDP menyampaikan bahwa penanganan tanggap darurat dan proses evakuasi dipimpin langsung oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi dan Basarnas, serta didukung penuh oleh seluruh unsur terkait, termasuk ASDP.
Hingga Kamis sore, sembilan kapal SAR telah dikerahkan untuk melakukan pencarian dan penyelamatan, terdiri dari dua kapal Basarnas, dua kapal KSOP, dua kapal milik PT Raputra Jaya, dua KRI TNI AL, dan satu kapal dari unsur Polairud.
Data awal menyebutkan bahwa KMP Tunu Pratama Jaya membawa 65 orang, terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru kapal, serta 22 unit kendaraan. Saat ini, belum ada informasi resmi mengenai jumlah korban atau kondisi seluruh penumpang mengingat operasi SAR masih berlangsung intensif di lokasi kejadian.
ASDP menyampaikan duka mendalam atas musibah ini. “Kami mengimbau masyarakat, khususnya pengguna jasa penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk, untuk tetap tenang, waspada terhadap kondisi cuaca, dan mengikuti arahan resmi dari otoritas pelabuhan. Situasi operasional di pelabuhan tetap dikendalikan secara ketat dengan mengedepankan aspek keselamatan pelayaran,” kata Shelvy.
Penulis:
Dahlia IrawatiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase