Kecoa dengan perangkat elektronik dikerahkan untuk mencari korban gempa Myanmar.
07 Apr 2025 05:35 WIB · Internasional
Sekelompok kecoak dengan perangkat kendali elektronik—cyborg—dikerahkan tim SAR Singapura dalam tanggap bencana gempa Mandalay di Myanmar sejak tanggal 30 Maret 2025. Dalam laporan Straits Times, Sabtu (5/4/2025), kecoak madagaskar yang dilengkapi perangkat elektronik itu membantu tim Singapore Civil Defense berkekuatan 80 orang dan empat anjing pelacak mencari korban gempa di Myanmar.
Sebelumnya kecoak madagaskar, salah satu jenis kecoak besar, banyak digunakan dalam eksperimen laboratorium. Di tangan para insinyur Singapura, mereka ”diubah” menjadi ”kendaraan” pemantau.
Misi tersebut merupakan operasi SAR pertama di dunia yang menggunakan kecoak untuk menemukan lokasi korban. Mereka dikerahkan menyelusup ke dalam reruntuhan bangunan. Teknologi tersebut dikembangkan oleh Home Team Science and Technology Agency (HTX) bersama kampus Nanyang Technological University (NTU) dan Klass Engineering and Solutions.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/01/2d26c07a-0637-4edc-94b3-86a67a90df75_png.png)
Pasukan kecoak tersebut pertama turun ke lapangan pada 31 Maret dan operasi kedua di ibu kota Naypydaw. Meskipun sejauh ini mereka belum berhasil menemukan korban selamat, kecoak–kecoak tersebut berhasil memantau situasi di dalam reruntuhan. Mereka menjadi ”mata” bagi tim SAR yang menunggu di permukaan.
Untuk mengoptimalkan kinerja kecoak-kecoak itu, tim teknis HTX dan Klass Engineering sebanyak empat orang turut bergabung dengan tim SAR Singapura. Sejak 30 Maret 2025 atau dua hari setelah gempa, bersama sepuluh cyborg kecoak mereka telah menyusuri banyak reruntuhan.
Setiap kecoa dilengkapi kamera infra merah dan sensor. Informasi yang dikumpulkan dari kamera dan sensor yang melekat di tubuh kecoak diproses dengan mesin mini yang akan mendeteksi ada tidaknya tanda-tanda kehidupan manusia. Informasi tersebut dikirim secara nirkabel kepada para insinyur yang meneruskan data ke tim SAR.
Pasukan kecoak tersebut pernah unjuk gigi dalam Konferensi Tingkat Tinggi Teknologi Militer–Kepolisian Asia Pasifik di Singapura, April 2024. Mereka direncanakan beroperasi penuh di tahun 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/05/0a06d2bd-1ed6-49da-be94-740044884f55_jpg.jpg)
Walau masih dalam kondisi riset karena situasi darurat di Myanmar, pasukan kecoak tersebut diturunkan untuk membantu operasi SAR, Hansip Singapura. Ong Ka Hing, insinyur dari HTX Robotics, mengatakan dari Myanmar, tim mereka tiba di Yangon setelah tiga jam penerbangan dari Singapura. Lalu menempuh perjalanan darat tujuh jam untuk bergabung dengan tim SAR Singapura.
”Sepanjang jalan kami melihat orang meninggalkan rumah dan tidur di luar ruang. Tidak ada pasokan air dan makanan. Sungguh mengenaskan,” kata Ong kepada The Straits Times.
Ketika tim kecoak cyborg tiba di lokasi sasaran, tim SAR Singapura tengah menyusuri sebuah rumah sakit yang runtuh. Mereka meminta tim HTX melepas kecoak untuk masuk ke dalam reruntuhan itu lebih dalam selama 45 menit.
Seorang insinyur HTX lain, Yap Kian Wee, mengatakan, suasana saat itu diwarnai duka, ada warga setempat dengan memelas meminta bantuan mereka. ”Dia mengatakan, saudaranya ada di rumah sakit yang runtuh yang menjadi sasaran pencarian kami. Saya turut sedih mendengarnya,” kata Yap.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/dad799bab2829b6c19b78e185bdbbedb-000_38R67AH.jpg)
Warga menyaksikan mereka bekerja dan berharap kerabat mereka ditemukan hidup atau mati. Yap menambahkan, tim SAR lain berhasil menemukan jenazah dari reruntuhan itu.
Sementara di lokasi lain, tim SAR Singapura berhasil menyelamatkan seorang laki-laki dari reruntuhan bangunan tiga lantai. Ong dan Yap beserta pasukan kecoak bertekad bertahan membantu tim SAR Singapura. Menurut mereka, para kecoak yang dibawa dalam keadaan sehat. Mereka diberi makan wortel dan air setiap hari.
”Misi ini sangat penting. Kami juga terus memperbaiki teknologi agar dapat mencari korban dengan lebih cepat,” kata Yap. Ong menambahkan, pengalaman di Myanmar ini menjadi pelajaran berharga. Ia optimistis teknik mereka akan terus diperbaiki demi operasi kemanusiaan di masa mendatang.
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .