Target Indonesia mendapat gelar juara dunia bulu tangkis dari ganda putra gagal diwujudkan. Indonesia berterima kasih pada Putri Kusuma Wardani yang membawa medali.
29 Agt 2025 20:50 WIB · Olahraga
Indonesia memiliki sepuluh gelar juara dunia bulu tangkis dari ganda putra, jumlah terbanyak dibandingkan negara lain. Namun, reputasi nomor yang biasanya menjadi andalan “Merah Putih” dalam berbagai level persaingan kejuaraan bulu tangkis ini ini menurun, termasuk di Kejuaraan Dunia.
Gelar juara ganda putra bagi Indonesia dimulai sejak Kejuaraan Dunia pertama kali diselenggarakan. Sektor ini bahkan melahirkan final sesama atlet Indonesia pada dua edisi awal, yaitu Malmo, Swedia, 1977 dan Jakarta 1980. Tjun Tjun/Johan Wahyudi mengalahkan Christian Hadinata/Ade Chandra pada 1977, lalu Christian/Ade menang atas Rudy Heryanto/Hariamanto Kartono pada penyelenggaraan berikutnya.
Pada era 1990-an, ganda putra Indonesia mendapat tiga gelar juara dunia. Setelah itu, ada Hendra Setiawan sebagai ganda putra tersukses Indonesia. Dia menciptakan patokan sulit bagi generasi berikutnya dengan empat gelar.
Atlet yang saat ini menjadi pelatih Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani ini menjadi juara dunia bersama Markis Kido pada 2007. Hendra menambah tiga gelar sejak berpasangan dengan Mohammad Ahsan pada 2012, yaitu dalam Kejuaraan Dunia 2013, 2015, dan 2019.
Hendra/Ahsan bahkan menerapkan standard tinggi untuk ganda putra Indonesia dengan lolos ke final Kejuaraan Dunia 2022 pada usia 38 dan 35 tahun. Pada tahun yang sama, mereka mencapai final ajang besar lainnya, All England dan final BWF, serta masih bisa lolos ke final All England 2023 sebelum pensiun pada Januari 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/29/4cbf0c1e-1d01-468a-80a5-485bdf9ad899_jpg.jpg)
Saat Hendra/Ahsan masih aktif dan kini menepi dari turnamen, hanya ada Fajar/Rian yang bisa berdiri di podium Kejuaraan Dunia, yaitu saat menjadi semifinalis 2019 dan 2022. Seiring dengan hasil nirgelar bagi Indonesia dalam tiga edisi sebelum Paris 2025, 25-31 Agustus, jejak kejayaan ganda putra Indonesia menghilang.
Di Kopenhagen 2023, yang dijuarai Seo Seung-jae/Kang Min-hyuk (Korea Selatan), hasil maksimal ganda putra Indonesia adalah perempat final melalui Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana dan (lagi-lagi) Hendra/Ahsan.
Dalam persaingan yang masih berlangsung di Adidas Arena, Paris, Perancis, pekan ini, tak ada ganda putra Indonesia yang bisa melewati babak ketiga. Fajar/Rian dan Leo Rolly Carnando/Bagas tersingkir pada babak ketiga di Adidas Arena, Kamis (28/8/2025). Fajar/Rian kalah dari Takuro Hoki/Yugo Kobayashi 21-13, 11-21, 17-21, sementara Leo/Bagas disingkirkan Seo/Kim Won-ho 21-17, 9-21, 4-21.
Leo mengatakan, performa mereka buruk pada gim kedua dan ketiga karena dia tak dapat menjalankan peran sebagai playmaker dengan baik.
Pada persaingan perempat final, Jumat, hanya ada tiga wakil Indonesia yang bertanding, salah satunya Putri Kusuma Wardani yang berhadapan dengan juara dunia 2019, Pusarla V Sindhu. Tangis Putri pecah di sudut belakang lapangan ketika kok dari Sindhu jatuh di luar lapangan. Putri menang dengan skor 21-14, 13-21, 21-16 dan akan berhadapan dengan Akane Yamaguchi di semifinal.
Dengan tampil pada fase empat besar, Putri berhak atas medali, minimal perunggu. Dia menjadi tunggal putri Indonesia pertama yang mendapat medali Kejuaraan Dunia setelah Lindaweni Fanetri pada 2015.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/29/dff3e87e-8b4a-424e-bb83-968fedd8901c_jpg.jpg)
Wakil lainnya bermain pada jadwal yang berlangsung Jumat tengah malam dan Sabtu dini hari waktu Indonesia. Mereka adalah Jonatan Christie yang berhadapan dengan juara bertahan tunggal putra, Kunlavut Vitidsarn, dan Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi melawan Rin Iwanaga/Kie Nakanishi.
Performa Leo/Bagas saat tampil pada babak ketiga jauh di bawah standard penampilan mereka ketika tampil di All England dan menembus final. Leo mengatakan, performa mereka buruk pada gim kedua dan ketiga karena dia tak dapat menjalankan peran sebagai playmaker dengan baik.
“Gim pertama berjalan baik hingga kami terkejar di poin 15-15 (dari keunggulan 14-6). Setelah itu, pikiran saya goyang. Feeling saya untuk memukul seperti hilang. Itu yang membuat permainan kami berantakan pada gim kedua dan ketiga,” tutur Leo.
Leo/Bagas atau Fajar/Rian sebenarnya ditargetkan membawa pulang gelar juara dunia dari Paris 2025 jika mengacu pada komentar pelatih ganda putra Antonius Budi Ariantho. Pada masa persiapan atlet di pelatnas, Antonius menyebut target juara untuk ganda putra.
Namun, target yang disebutkan Antonius, tekad Fajar/Rian mencapai hasil lebih baik dari semifinal dalam (kemungkinan) Kejuaraan Dunia terakhir mereka, serta keinginan Leo/Bagas untuk mengalahkan Seo/Kim tak tercapai. Padahal, ganda putra memiliki persaingan paling merata di antara semua nomor. Setiap pasangan yang rutin bertanding dalam turnamen BWF World Tour mempunyai peluang sama untuk juara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/08/8a78f4fa-8271-4acb-95a6-5f263e7845b9_jpg.jpg)
Hasil di Paris 2025 mewakili kekuatan ganda putra Indonesia saat ini, yang kalah bersaing dari pasangan top dunia lain, dan menggambarkan rumitnya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan menghadapi tantangan lebih sulit. Apalagi, sektor ganda ditargetkan memiliki pasangan tetap yang mumpuni sejak awal 2026 untuk menjalani kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028 yang dimulai 2027.
Leo/Bagas dan Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin menjadi harapan penerus Fajar/Rian yang kian kesulitan bersaing di level elite sejak selesai Olimpiade Paris 2024. Akan tetapi, sejak berpasangan pada Agustus 2024, performa kedua pasangan itu masih tak konsisten.
Leo/Bagas mencapai semifinal Jepang Terbuka dan menjuarai Korea Terbuka pada masa awal berpasangan, tetapi empat kali tersingkir pada dua babak awal dari sisa enam turnamen berikutnya pada 2024.
Pada 2025, final All England dan semifinal Kejuaraan Asia menjadi hasil yang menumbuhkan asa melihat mereka semakin berkembang. Namun, keduanya masih kesulitan memadukan kembali permainan saat Leo kembali bertandng setelah pulih cedera lutut kiri, sepanjang Mei. Mereka tersingkir pada babak pertama Singapura, Indonesia, dan Jepang Terbuka serta babak kedua China Terbuka, pada rentang Juni-Juli.
Laju Fikri/Daniel lebih pelan dibandingkan Leo/Bagas meskipun sempat diharapkan melesat lebih cepat. Apalagi, Fikri adalah pengatur serangan dengan permainan cepat dan Daniel memiliki smes yang lebih kuat.
Akan tetapi, duet mereka terganggu cedera Daniel, keadaan yang selalu menjadi risiko setiap atlet. Usai Piala Sudirman, Mei, Daniel tidak bertanding karena cedera lutut dan berdasarkan kondisi medisnya, baru bisa kembali bertanding pada awal 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/22/138a8d68-6916-44b5-aeff-7810efefe2bf_jpg.jpg)
Dalam situasi tersebut, Fikri dipasangkan bersama Fajar, bertepatan pada saat Rian cuti dari turnamen karena menanti kelahiran anak pertamanya. Hasil perempat final Jepang Terbuka dan juara China Terbuka menjadi patokan PP PBSI untuk melanjutkan duet itu, setidaknya hingga akhir 2025. Apalagi, gelar juara Fajar/Fikri dari China Terbuka menjadi satu-satunya gelar juara bagi Indonesia dari turnamen Super 1000.
Sementara Fajar bermain bersama Fikri, Rian dipadukan dengan Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan yang sebelumnya berpasangan dengan pemain muda, Rahmat Hidayat. Pasangan ini dipecah karena tampil stagnan, termasuk dalam turnamen level bawah, seperti kategori Super 100.
Padahal, Rahmat yang berusia 22 tahun adalah pemain potensial jika bercermin pada perjalanan di masa yunior bersama Rayhan Fadillah. Duet Rahmat/Rayhan memiliki tiga gelar juara dari lima final pada turnamen yunior dan International Challenge.
Dengan kondisi berbeda yang dialami setiap atlet, ganda putra diburu waktu untuk melahirkan formasi kuat. Hanya tersisa empat bulan pada 2025 untuk mendapatkan pasangan-pasangan yang bisa bersaing konsisten di turnamen BWF World Tour.
Sebagai sektor dengan persaingan paling merata (banyak pasangan bagus dari banyak negara), mendapat formasi yang tepat, jelas bukan tantangan mudah.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase