Musim ini berakhir ironis bagi Real Madrid. Memenangi dua gelar musim lalu, kali ini, Real pulang dengan tangan hampa. Ada andil kesalahan pada bursa transfer.
16 Mei 2025 11:50 WIB · Olahraga
Pepatah lama mengatakan, orang yang sukses adalah mereka yang piawai memanfaatkan kesempatan. Real Madrid agaknya kurang memaknai pepatah tersebut hingga berakhir hancur total musim ini. Memiliki kesempatan memperkuat tim pada bursa transfer, Real justru ”mengerdilkannya”. Itulah awal dari segala kehancuran Real musim ini.
Real menatap musim 2024-2025 dengan optimisme setinggi langit. Selain memulai musim dengan status juara bertahan Liga Spanyol dan Liga Champions Eropa, ”Los Blancos” juga sanggup mendatangkan megabintang Perancis, Kylian Mbappe, dengan status bebas transfer. Kualitas individu Mbappe ternyata belum cukup untuk mengangkat performa Real. Musim ini justru berakhir tragis bagi Real yang gagal memenangi satu trofi pun.
Tanda-tanda kehancuran Real belum terlihat pada awal musim. Tim besutan Pelatih Carlo Ancelotti tersebut sudah memenangi Piala Super Eropa dengan mengalahkan Atalanta di final. Para fans percaya kesukesan di Piala Super Eropa merupakan kelanjutan dari keberhasilan Real musim lalu.
Real pun masih memperlihatkan sentuhan ajaibnya kala tampil di habitat alaminya, Liga Champions Eropa. Gagal melaju secara langsung ke babak 16 besar, Real harus menjalani fase playoff. Pada titik ini, ”Los Blancos” masih menunjukkan taji dengan mengalahkan Manchester City. Demikian pula saat mengalahkan Atletico Madrid pada babak 16 besar, tidak ada yang menyangka Real akan mengakhiri musim tanpa trofi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/7b4279b9-0acd-4388-837f-a361c8e818a7_jpg.jpg)
Tanda-tanda kejatuhan Real sudah mulai terlihat saat tidak sekali pun mampu mengalahkan Barcelona di ”el clasico”. Dalam dua pertemuan awal dengan Barca, Real selalu kalah dengan skor mencolok. Kehancuran Real benar-benar sudah di depan mata saat tersingkir dari Liga Champions seusai gagal menaklukkan Arsenal.
Kegagalan di Liga Champions meruntuhkan moral para pemain. Kondisi itu diperparah dengan ketertinggalan dari Barca di puncak klasemen. Sempat konsisten merajai klasemen, Real kehilangan keseimbangan memasuki pekan ke-25. Sejak itu, Real mulai akrab dengan kekalahan dan hasil imbang. Barca yang sedang dalam performa terbaik bersama pelatih baru, Hansi Flick, memanfaatkan kelimbungan Real untuk mengambil alih puncak klasemen.
Setelah tersingkir dari Liga Champions dan kans menjuarai Liga Spanyol menipis, Real mulai mengalihkan pandangan ke Piala Raja Spanyol. Namun, di turnamen ini, Real kembali gagal menaklukkan Barca.
Bursa transfer adalah awal mula petaka Real. Selain abai memperkuat tim dengan pemain yang dibutuhkan, Real pun gagal mencari pengganti Toni Kroos yang pensiun.
Nyaris menang di menit-menit akhir, Barca akhirnya membalikkan keadaan dan menyegel gelar juara. Seiring kekalahan di final Piala Raja Spanyol, berakhir pula petualangan Real musim ini. Tanpa satu pun trofi, yang tersisa hanya puing-puing penyesalan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/998c1161-e181-4a93-8f40-d96342814683_jpg.jpg)
Meski terdengar klasik, badai cedera patut diperhitungkan sebagai salah satu faktor kegagalan Real musim ini. Real hanya berkekuatan 22 pemain untuk mengarungi tiga kompetisi berbeda. Dari 22 pemain itu, dua di antaranya, Eder Militao dan Dani Carvajal, cedera berkepanjangan.
Kecuali tiga kiper, Real hanya punya 17 pemain outfield tersisa. Jumlah pemain itu sangat tidak memadai untuk mengarungi musim yang padat. Belum pula ada beberapa pemain Real yang rentan cedera, seperti David Alaba dan Antonio Ruediger yang bolak-balik menepi.
”Kita tidak boleh lupa bahwa kita kehilangan lima pemain bertahan (Dani Carvajal yang cedera, Eder Militao, David Alaba, Ferland Mendy, dan Antonio Ruediger). Itu tidak boleh dilupakan,” kata Ancelotti.
Cedera memaksa Ancelotti menambal lubang dengan memainkan pemain tidak pada posisi favoritnya. Federico Valverde yang merupakan seorang gelandang kerap dipaksa bermain sebagai bek kanan. Demikian pula dua gelandang, Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga, yang juga kerap diminta menjadi bek.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/0d61168b-b50d-4eb8-aa75-dc89a111a1de_png.png)
Ancelotti sudah mengirim pesan kepada jajaran direksi Real untuk menyoroti persoalan menipisnya anggota tim akibat cedera. Ia berkali-kali meminta para petinggi merekrut setidaknya satu bek tengah atau bek kanan pada bursa transfer musim panas. Namun, pemain-pemain yang didatangkan Real pada bursa transfer justru kebanyakan bernaluri menyerang, seperti Endrick dan Mbappe.
Satu-satunya bek yang didaratkan Real adalah Raul Asencio yang merupakan produk akademi. Sebelumnya, Asencio bahkan tidak termasuk dalam dua pilihan teratas untuk dipromosikan ke tim utama. Performanya turut inkonsisten menyusul adanya penyelidikan terhadap Asencio terkait dugaan membagikan rekaman seks yang melibatkan anak di bawah umur.
Dengan materi pemain yang ada, Real telah berjuang menjaga keseimbangan sepanjang musim. Akan tetapi, mereka justru dihajar habis-habisan oleh lawan yang memiliki kemampuan membangun serangan yang cukup baik, seperti Barcelona dan Arsenal.
Punya kesempatan memperbaiki skuad pada bursa transfer, Real mengabaikannya. Jelang akhir musim, mereka merasakan dampak kelalaian itu.
”Ada masa kami melalui hari-hari buruk yang sulit. Tetapi, kami bekerja untuk melewati itu semua. Musim ini, kami banyak gagal dalam pertandingan yang seharusnya kami bisa menangkan,” kata penyerang Real, Rodrygo.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/25/054eecc2-d564-428d-ae14-0c3d5ff304f5_jpg.jpg)
Bursa transfer adalah awal mula petaka Real. Selain abai memperkuat tim dengan pemain yang dibutuhkan, Real pun gagal mencari pengganti Toni Kroos yang pensiun. Gelandang berpaspor Jerman itu bukan sekadar gelandang biasa.
Lebih dari itu, Kroos adalah metronom lini tengah Real. Kemampuannya mengatur tempo memecah pertahanan lawan dengan umpan vertikal, dan menenangkan jalannya permainan di saat-saat penuh tekanan, memberi Real fondasi yang selalu dapat diandalkan.
Setelah Kroos pensiun, tiada lagi gelandang Real yang punya kualitas setara dirinya. Kehilangan Kroos bahkan tidak dapat diselesaikan oleh kecemerlangan individu pemain Real lainnya.
Ancelotti telah melakukan rotasi, yaitu antara mencoba memainkan Camavinga, Tchouameni, Valverde, dan Jude Bellingham, tetapi tidak ada yang mampu meniru kemampuan unik Kroos dalam mengendalikan jalannya pertandingan.
Hasilnya, Real yang kesulitan mempertahankan penguasaan bola dalam waktu lama sering kali dipaksa bermain dengan tempo yang ditentukan oleh lawan. Hal itu menjadi ironis karena merupakan kebalikan total dari era saat Kroos ada.
Kegagalan ini semakin mendesak posisi Ancelotti. Pelatih asal Italia itu dikabarkan akan menjalani musim terakhirnya bersama Real meski kontraknya masih tersisa hingga akhir musim depan. Pekerjaan baru sebagai pelatih timnas Brasil telah menunggu Ancelotti. Posisinya akan digantikan Xabi Alonso yang telah mengumumkan perpisahan dengan Bayer Leverkusen.
Alonso tentu mengemban tugas berat untuk kembali mengembalikan Real ke guratan nasibnya sebagai tim raksasa Eropa bertabur trofi. Kesalahan pada bursa transfer menjadi pelajaran berharga bagi Alonso.
Langkah awal yang baik sudah ditempuh Real dengan meminang bek kanan Liverpool, Trent Alexander-Arnold. Layak dinantikan bagaimana Alonso mengelola krisis menjadi peluang musim depan. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari