Kejayaan PSG Digariskan di Langit dan Digapai di Lapangan

Lima kali sudah, Kota Muenchen menghadirkan juara baru Liga Champions. Kali ini giliran PSG yang menjemput takdir itu dengan performa fantastis di partai puncak.

01 Jun 2025 05:20 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

MUENCHEN, MINGGU — Paris Saint-Germain meneruskan tradisi juara baru Liga Champions yang selalu terjadi saat partai puncak digelar di Kota Muenchen, Jerman. Takdir memang seolah berpihak kepada PSG, tetapi mereka sesungguhnya bisa berjaya berkat penampilan paling dominan dalam sejarah final.

Lima kali sudah final digelar di Muenchen. Termasuk partai puncak kali ini antara PSG dan Inter Milan yang berlangsung di Stadion Muenchen Football Arena, pada Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. Lima kali pula juara baru hadir. Tuah itu pernah dirasakan Nottingham Forest (1979), Marseille (1993), Borussia Dortmund (1997), dan Chelsea (2012).

Kali ini giliran PSG, skuad termuda di turnamen dengan rerata usia di bawah 24 tahun, yang merasakan pengalaman juara. Marquinhos dan rekan-rekan mengangkat trofi "Si Kuping Lebar" untuk kali pertama sejak klub didirikan pada 1970. Mereka menaklukkan Eropa seusai menang 5-0 atas Inter.

“(Trofi) itu berarti segalanya. Itu impian kami, impian saya, dan saya senang kami berhasil. Kemenangan ini menunjukkan banyak hal tentang kelompok  ini. Ini adalah tim yang sangat bagus dan hasilnya bukan karena sulap. Sekarang kami akan merayakan pencapaian ini,” kata gelandang PSG Vitinha yang mendominasi lini tengah sepanjang laga.

Terlepas dari mitos, seperti kata Vitinha, PSG memang sangat layak juara. Mereka unggul dalam segala aspek atas Inter. Skor akhir cukup menggambarkan ketimpangan itu. Jika diibaratkan, PSG berperang dengan senapan mesin tercanggih dan Inter bertumpu dengan sebilah pisau yang sudah karatan.

Paris Saint-Germain's Spanish head coach Luis Enrique (C) lifts the trophy as he celebrates with Paris Saint-Germain's players after the UEFA Champions League final football match between Paris Saint-Germain (PSG) and Inter Milan in Munich, southern Germany on May 31, 2025. (Photo by Michaela STACHE / AFP)

Pelatih Kepala PSG Luis Enrique baru sekali merasakan final Liga Champions sebelumnya. Momen itu terjadi saat mengantar Barcelona juara pada 2015, tepat sedekade lalu. Uniknya, partai puncak itu juga berlangsung di Jerman (Kota Berlin) dan menghadapi tim Italia (Juventus).

Sepuluh tahun berselang, Enrique menjadi otak keberhasilan PSG. Sistem "cair" dengan formasi 4-3-3 ala Enrique tampak terlalu kompleks untuk Inter. Kemampuan teknis tingkat tinggi para pemain mendukung itu. Mereka begitu mudah melewati lini tengah lawan, seperti sedang memainkan "kucing-kucingan" di sesi latihan.

Perubahan kecil dari Enrique turut mengejutkan tim asuhan pelatih Simone Inzaghi. Dembele yang semestinya berperan sebagai penyerang tengah, lebih banyak berada di sayap kanan. Penyerang sayap Desire Doue bermain lebih sentral dan sukses menginspirasi tiga gol pertama PSG (dua gol dan satu asis).

Pujian terhadap pendekatan Enrique datang langsung dari penjaga gawang Gianluigi Donnarumma. “Pelatih kami memberikan kebebasan dan membuat kami tetap tenang. Penampilan itu adalah filosofinya. Dia mempersiapkan final ini dengan sebaik mungkin. Kami menyaksikan itu,” kata Donnarumma.

Inter terlihat kagok menghadapi serangan lawan yang begitu "cair". Ketika gol pertama, posisi penyerang tengah bahkan diisi oleh bek sayap Achraf Hakimi yang sukses membuka keunggulan. Fleksibilitas dalam penempatan posisi itu merupakan kemewahan terbesar PSG pada musim ini.

Former Inter Milan player Javier Zanetti, right, hugs Inter Milan's team captain Lautaro Martinez at the end of the Champions League final soccer match between Paris Saint-Germain and Inter Milan at the Allianz Arena in Munich, Germany, Saturday, May 31, 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

Sistem bermain Inter dengan formasi 3-5-2 ala pelatih Simone Inzaghi sudah dibangun selama empat tahun terakhir. Skema serangan mereka memang terlihat sederhana, tetapi sangat sulit dihentikan tim-tim lawan. Hal tersebut dipatahkan oleh PSG yang menekan sangat agresif dengan blok super tinggi.

Dominasi dalam sisi ofensif dan defensif itu yang membuat PSG sudah unggul dua gol pada menit ke-20. Laga final seperti sudah selesai pada momen itu. Saking sulit mengembangkan permainan, Inter baru bisa menciptakan tembakan tepat sasaran pada menit ke-74, setelah tertinggal empat gol.

Inter bukan tim yang buruk. Mereka sudah membuktikan itu selama babak gugur, termasuk saat mengeliminasi Barca dan Bayern Muenchen. Bukti lainnya, sebelum final tadi, Lautaro Martinez dan rekan-rekan hanya merasakan berada dalam kondisi tertinggal sebanyak 1,2 persen dari seluruh waktu yang dimainkan.

Hanya saja, PSG terlalu istimewa. Mereka berada dalam tren terbaik dengan sistem baru yang tak bisa dipecahkan oleh tim mana pun. Tim-tim besar lain, seperti Liverpool dan Arsenal, sudah menjadi korban mereka. Skuad itu tampil sebagai kesatuan tim, tidak lagi seperti sebelumnya saat masih mengandalkan pemain megabintang Kylian Mbappe.

“Paris pantas memenangkan laga dan trofi ini. Mereka begitu konsisten untuk lebih dominan menguasai bola. Kami seharusnya bisa lebih baik. Kami kecewa, tetapi perjalanan sejauh ini terbilang hebat. Saya bangga dan berterima kasih kepada para pemain,” tutur Inzaghi.

PSG owner Nasser bin Ghanim Al-Khelaifi kisses the trophy after the Champions League final soccer match between Paris Saint-Germain and Inter Milan at the Allianz Arena in Munich, Germany, Saturday, May 31, 2025. (AP Photo/Matthias Schrader)

Skuad muda PSG membuktikan, bakat mereka lebih berharga dibandingkan pengalaman para pemain Inter. Menurut Opta, jarak antara rerata usia starter PSG (25 tahun dan 96 hari) dan Inter (30 tahun 242 hari) merupakan yang terjauh dalam sejarah final Liga Champions.

PSG sangat terobsesi mendatangkan trofi Si Kuping Lebar sejak diambil alih Nasser al-Khelaifi pada 2011. Demi mimpi itu, mereka mendatangkan begitu banyak pemain megabintang. Mulai dari Mbappe, Neymar Jr, sampai Lionel Messi pernah menjadi bagian dari proyek PSG.

Namun, semua upaya itu gagal. Penantian PSG justru berakhir pada musim ini, setelah sang ikon Mbappe hengkang pada musim panas lalu ke Real Madrid. Mereka menjuarai Liga Champions tanpa pemain megabintang. Kemenangan PSG adalah kemenangan jagat sepak bola. Trofi itu diraih berkat permainan tim, bukan individu.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari