LIGA INGGRIS

Kekacauan yang Dibutuhkan Arsenal di Elland Road

Arsenal membutuhkan pendekatan bermain yang lebih berisiko jika tidak ingin kehilangan gelar liga untuk keempat kali. Kembalinya Calafiori dan Havertz jadi jawaban.

30 Jan 2026 16:55 WIB · Olahraga

AP

Oleh Kelvin Hianusa

LEEDS, JUMAT — Arsenal bisa berada di puncak klasemen Liga Inggris saat ini berkat strategi minim risiko ala Manajer Mikel Arteta. Namun, jelang berkunjung ke markas Leeds United, Stadion Elland Road, Arsenal harus melupakan sejenak cara tersebut demi mengakhiri rentetan hasil tanpa kemenangan.

Arsenal akan bertamu ke Elland Road, Leeds, Sabtu (31/1/2026) pukul 22.00 WIB, setelah tren tiga kali gagal menang beruntun di liga. Mereka membutuhkan poin penuh jika tidak ingin kehilangan momentum dalam perebutan gelar. Adapun kini ”Si Meriam” (50 poin) hanya unggul empat poin dari pesaing terdekat Manchester City.

Untuk mencuri kemenangan, tim tamu perlu lebih dulu memperbaiki masalah di tiga laga terakhir. Arsenal hanya mampu mencetak dua gol dalam rentetan laga tersebut. Semua gol itu bahkan dicetak saat mereka ditaklukkan Manchester United 2-3 pada pekan lalu. Bukayo Saka dan rekan-rekan sedang mengalami krisis di sisi ofensif.

Bek Manchester United Lisandro Martinez (kiri) menahan penyerang Arsenal Viktor Gyokeres dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Inggris, Senin (26/1/2026) WIB. Walaupun sempat membuat gol bunuh diri di babak pertama, Martinez berhasil tampil solid pada sisa laga dan mengantar MU menang 3-2.

Sebenarnya, menurut Statmuse, Arsenal mampu mencatat nilai 3,99 xG (ekspektasi gol) dalam tiga laga. Angka itu tidak terlalu buruk, semestinya cukup untuk menghasilkan empat gol. Namun, masalah lebih besar terkuak di lapangan. Mereka terlihat kekurangan kreativitas dengan hanya menghasilkan 1,11 xG dari permainan terbuka.

Alhasil, tim asuhan Arteta itu nyaris hanya mengandalkan skema bola mati untuk menciptakan gol. Terbukti dua gol ke gawang MU datang bukan dari permainan terbuka, melainkan lewat skema tendangan sudut dan gol bunuh diri pemain lawan. Ketergantungan terhadap bola mati mulai berdampak buruk terhadap Si Meriam.

Patrick Vieira, penyumbang gelar juara liga terakhir Arsenal di musim 2003-2004, berkata, Arteta harus lebih berani mengambil risiko. ”Mereka punya kualitas, tetapi tidak bermain dengan kebebasan untuk mengekspresikan diri. Mereka harus kembali ke awal, bermain dengan kebebasan dan menyerang,” ujarnya dalam acara Sky Sports.

Tak butuh mantan pemain hebat seperti Vieira untuk melihat betapa berhati-hatinya Arsenal. Mereka sering melewatkan kans menyerang demi mengontrol permainan. Mereka lebih senang menyerang dari sayap lalu berharap mendapat bola mati. Adapun risiko kehilangan bola lewat serangan sayap lebih rendah dibandingkan dari area tengah.

Pemain sayap Arsenal Leandro Trossard (tengah) menyapu bola dari pertahanan sendiri saat menghadapi Manchester United dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Inggris, Senin (26/1/2026) WIB.

Sistem Arteta di musim ini sudah terbukti gagal memaksimalkan potensi terbaik dari para penyerang Arsenal. Tidak ada satu pun pemain mereka yang berhasil mencetak lebih dari lima gol di liga setelah 23 pekan. Sang pemain bintang, Saka, bahkan sudah tidak menyumbang gol dalam 13 pertandingan di seluruh kompetisi.

Sebenarnya, pendekatan Arteta tidak haram. Hanya saja, sang manajer didesak berubah karena strategi lebih sering gagal belakangan ini. Mereka seperti macan ompong ketika tidak bisa mengambil keuntungan dari bola mati. Alih-alih sistem rapi, Arsenal membutuhkan pola serangan acak yang bisa mengacaukan pertahanan lawan.

Calafiori dan Havertz

Kebetulan, solusi datang di waktu yang tepat. Arsenal kembali bisa diperkuat bek Riccardo Calafiori dan penyerang Kai Havertz yang sudah bugar. Mereka adalah dua pemain paling berpengaruh untuk mencairkan serangan Si Meriam. Kedua pemain itu bisa bermain di beberapa posisi sekaligus dan diberikan kebebasan bergerak.

Pengaruh Havertz, seusai tidak menjadi starter selama 357 hari akibat cedera, langsung terlihat di laga terakhir babak grup Liga Champions versus Kairat Almaty. Havertz menyumbang masing-masing satu gol dan asis, serta membuat dua peluang hanya dalam 45 menit bermain. Dia menjadi pemain terbaik dalam kemenangan Arsenal 3-2.

Havertz menggantikan Martin Odegaard sebagai gelandang serang dalam formasi 4-2-3-1. Menariknya, dia sering membantu penyerang Viktor Gyokeres sehingga tim seperti punya dua striker sekaligus. Havertz lebih aktif mencari ruang kosong di sepertiga akhir lawan, berbeda dengan Odegaard yang sering mundur ke lini tengah.

”Untuk pemain yang sudah lama absen, bisa tampil dengan begitu berpengaruh, penuh energi, dan efisien, itu sangat mengesankan. Kami tahu Kai, betapa banyak yang bisa dia berikan kepada kami di berbagai posisi, peran, dan konteks yang berbeda. Dia adalah pemain yang membuat kami jauh lebih baik,” ujar Arteta.

Lawan Arsenal memang hanya tim asal Kazakhstan, tidak sebanding dengan tim-tim Inggris. Meskipun begitu, pengaruh Havertz benar-benar terlihat saat dirinya ditarik tepat setelah turun minum. Arsenal kesulitan menciptakan peluang, tidak mampu menambah gol lagi di paruh kedua saat otak serangan dipimpin Odegaard.

Arsenal's Kai Havertz, left, is challenged by Kairat's Alyaksandr Martynovich during the Champions League opening phase soccer match between Arsenal and Kairat Almaty in London, Wednesday, Jan. 28, 2026. (AP Photo/Ian Walton)

Pemain yang paling diuntungkan dari presensi Havertz adalah Gyokeres. Sang striker lebih banyak mendapatkan suplai dan mampu menciptakan satu gol dan satu asis. Gyokeres membuat tiga tembakan tepat sasaran di laga versus Kairat. Jumlah itu merupakan catatan terbanyak baginya dalam satu laga sejak berseragam Arsenal.

Calafiori tidak kalah penting. Presensinya di sisi kiri serangan Arsenal sangat krusial untuk membantu penyerang sayap Leandro Trossard. Sejak Calafiori cedera pada akhir Desember, Trossard hanya mampu menyumbang satu gol dan asis dari delapan laga. Padahal, sebelum itu, Trossard sempat berapi-api dengan catatan 6 gol dan 5 asis.

Leeds, tim promosi, tidak akan memberi poin dengan mudah. Meskipun kalah telak 0-5 dari Arsenal di pertemuan pertama, tim asuhan Pelatih Daniel Farke itu semakin konsisten belakangan ini. Mereka hanya sekali kalah dalam sepuluh pertandingan liga terakhir, termasuk menang atas Chelsea di Elland Road. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan