Conte dikenal sebagai pelatih ulung untuk urusan liga domestik. Di kancah Eropa ia selalu kesulitan. Ada sesuatu yang menghalangi Conte sukses di Eropa.
30 Jan 2026 13:45 WIB · Olahraga
AP
Perjalanan Antonio Conte di Liga Champions Eropa usai setelah Napoli kalah 2-3 dari Chelsea pada laga terakhir fase liga. Untuk pelatih sekelas Conte, kegagalan ini tergolong biasa. Sukses di kancah domestik, Conte tidak pernah bisa berbicara banyak di Eropa. Setidaknya ada beberapa penyebab mengapa Conte seakan ditakdirkan sulit menguasai Eropa.
Kegagalan menyelamatkan Napoli, sang juara bertahan Liga Italia, ke fase gugur menambah panjang daftar suram Conte di Liga Champions. Ia masuk lima besar pelatih dengan jumlah kegagalan terbanyak dalam membawa tim ke fase gugur sejak musim 2012-2013. Sejauh ini, Conte sudah empat kali gagal lolos ke fase gugur dari total tujuh penampilan berbeda di setiap musim.
Conte bersanding dengan Jorge Jesus (Portugal) yang menempati posisi teratas pelatih paling banyak gagal membawa timnya lolos ke fase gugur, yakni lima kali. Dari tujuh musim penampilan di Liga Champions, prestasi terbaik Conte hanya mencapai perempat final bersama Juventus pada 2012-2013.
Dia memiliki mentalitas untuk kompetisi panjang, bukan sepak bola sistem gugur.
Statistik Conte ketika tampil di Liga Champions tidak sebaik dibandingkan di kompetisi lain. Di Liga Champions, tim-tim yang dilatih Conte kebobolan lebih banyak, mencetak gol lebih sedikit, dan kalah dari segi poin per pertandingan. Padahal, Conte begitu disegani di Italia. Hingga saat ini, Conte sudah lima kali menjuarai Serie A bersama Juventus (tiga kali), Napoli, dan Inter Milan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/30/9a6cb643504bde329304b991cab142d7-REKOR_ANTONIO_CONTE.jpg)
Tidak hanya di Italia, nama Conte masih harum di kalangan penggemar Chelsea. Dialah pelatih terakhir yang sanggup mempersembahkan gelar Liga Inggris untuk klub asal London barat tersebut pada 2017. Berjaya di liga domestik, Conte begitu kesulitan menduplikasi performa impresifnya setiap kali tampil di kancah Eropa.
Setidaknya ada beberapa penyebab Conte seakan digariskan untuk tidak Berjaya di Eropa. Pendapat menarik diutarakan pakar sepak bola Italia, Stefano Buonfino. Menurut dia, Conte bukanlah tipikal pelatih dengan gaya Eropa atau modern.
”Dia memiliki mentalitas untuk kompetisi panjang, bukan sepak bola sistem gugur. Di Serie A, Conte dapat mengelola sekaligus memanfaatkan tekanan. Dia memiliki mentalitas yang kuat dan bekerja keras pada mentalitas pemain sepanjang musim, di mana kesalahan lebih mudah diperbaiki. Di Liga Champions, Conte tampaknya kehilangan semua kekuatannya,” tutur Buonfino.
Pendapat Buonfino diperkuat dengan fakta bahwa Conte lebih sering memenangi trofi liga domestik dibandingkan dengan turnamen yang memakai sistem gugur, seperti Piala Italia atau piala liga. Conte total sudah memenangi enam gelar liga, satu diraih di Inggris dan lima sisanya di Italia.
Sepanjang karier kepelatihannya, Conte hanya pernah memenangi satu Piala FA saat masih menangani Chelsea. Ia tercatat tidak pernah memenangi Piala Italia.
Namun, Conte pernah dua kali menjuarai Piala Super Italia, turnamen yang mempertemukan juara Serie A dan Piala Italia. Dua trofi awal musim itu diraih Conte saat masih menangani Juventus dan Napoli. Jumlah koleksi trofi itu memperkuat argumentasi Buonfino bahwa Conte memang pelatih spesialis liga yang memainkan laga lebih banyak dibandingkan turnamen sistem gugur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/30/9fb44766368b171d3c6c568162050d99-Italy_Champions_League_Soccer_135600487.jpg)
Saat masih aktif bermain, Conte besar dalam gen atau DNA Juventus. Sebagaimana diketahui, Juventus adalah raja Serie A, klub tersukses dengan 36 gelar, tetapi terakhir kali memenangi Liga Champions pada 30 tahun silam.
Juventus pernah sembilan kali mencapai final Liga Champions, tetapi hanya dua kesempatan yang berhasil mereka menangi, yaitu pada 1985 dan 1996.
Menderita lebih banyak kekalahan di final memengaruhi cara pandang Juventus dalam melihat Liga Champions. Sebagian kalangan suporter, bahkan pemain Juventus sendiri, merasa ada kutukan setiap kali mereka tampil di kompetisi antarklub Eropa paling bergengsi tersebut.
DNA Juventus ini sangat mungkin mengendap dalam diri Conte sejak bermain hingga kini melatih klub sehingga itu memengaruhi alam bawah sadarnya setiap kali berkompetisi di Liga Champions. Teori ini sangat bisa disangkal, tetapi kenyataannya pencapaian Conte linier dengan Juventus yang sanggup sukses banyak di liga, tetapi keok di Eropa.
Penyebab lain kegagalan Conte adalah berkaitan dengan pilihannya melatih klub yang pada musim sebelumnya tidak bermain di Liga Champions. Pada musim pertama Conte menangani Napoli, tim tersebut tidak bermain di Liga Champions karena finis di peringkat 10 pada musim sebelumnya. Setelah Conte mengambil alih kursi kepelatihan, Napoli dibawanya menjuarai Serie A sehingga berhak tampil di Liga Champions musim berikutnya.
Dari sana masalah dimulai, Napoli yang sebelumnya tidak bermain di Eropa sama sekali lalu tiba-tiba tampil di Liga Champions. Ketika suatu tim beralih dari hanya fokus pada kompetisi domestik lalu bertambah dengan kompetisi antarklub Eropa, jadwal yang harus ditangani Conte menjadi semakin berat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/29/b0e1f78f75c27877bf4704e78595a09b-wires_photo.jpg)
Kemampuan manajerial seorang pelatih sangat diuji pada jadwal-jadwal padat. Oleh sebab itu, pelatih biasanya meminta tambahan amunisi belanja pemain ketika timnya dipastikan mengikuti hingga tiga kompetisi dalam semusim.
Conte melakukan itu di Napoli musim ini. Sayangnya, dampaknya pada para pemain Napoli sangat di luar kendali Conte. Itu terlihat dari banyaknya pemain yang mengalami cedera. Saat melawan Chelsea, Conte kehilangan gelandang kreatif Kevin de Bruyne dan Billy Gilmour. Napoli sudah melawan dengan baik, tetapi Chelsea dengan kemewahan skuadnya mampu keluar sebagai pemenang.
Pola yang dialami Conte tidak hanya ia alami di Napoli, tetapi juga di Juventus. Pada musim pertamanya di Juventus, Conte tidak terbebani jadwal padat di Eropa. Praktis ia hanya fokus di liga.
Setelah membawa Juventus juara Serie A, Conte kesulitan bersaing di Liga Champions pada musim keduanya. Terlebih lagi, Juventus kala itu harus bertemu dengan Bayern Muenchen yang ditangani Jupp Heynckes, yang pada akhirnya memenangi trigelar dalam semusim.
Demikian pula ketika pertama kali menangani Chelsea, Conte tidak terlibat di Liga Champions pada musim pertamanya. Itu lantaran Chelsea hanya finis pada peringkat ke-13 sesaat sebelum Conte mengambil alih. Dari pola itu bisa dilihat bahwa Conte tidak begitu banyak menikmati menit di Liga Champions. Apalagi, dia sempat dua tahun menangani timnas Italia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/05/6434c0976d871da55dc6e867b6f90f81-1000027112.jpg)
Fakta tersebut dipertegas dengan kecenderungan Conte meminta pemainnya bermain dalam intensitas tinggi nyaris sepanjang pertandingan. Latihan yang diterapkan Conte juga terkenal sangat berat secara fisik dan mental. Masih terngiang bagaimana Son Heung-min hampir pingsan saat melahap latihan fisik Conte saat tur pramusim di Korea Selatan.
”Kami benar-benar ingin mengendalikan permainan, dengan 11 pemain melawan 10. Jadi, meskipun Anda kehilangan 10 pemain dan merasa kelelahan, Anda harus memenangi pertandingan ini. Anda harus melakukannya,” kata Conte.
Kombinasi latihan intensif dan keterkejutan tim yang dilatih Conte karena mendapat tambahan jadwal di Liga Champions pada musim kedua bisa menjadi bumerang jika tidak ditangani dengan baik.
Tidak heran Conte acap kesulitan setiap kali tampil di Liga Champions.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra