Indonesia menelan kekalahan pada laga perdana Piala Asia U-20. Kemampuan duel bola udara yang jadi kekuatan klasik Iran gagal dibendung ”Garuda Muda”.
13 Feb 2025 20:55 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Kans Indonesia melaju lebih jauh di Piala Asia U-20 belum pupus meski takluk 0-3 dari Iran pada laga perdana penyisihan Grup C di Stadion Pusat Latihan Sepak Bola Pemuda Shenzhen, China, Kamis (13/2/2025) malam. ”Garuda Muda” gagal mengantisipasi kekuatan klasik Iran yang mengandalkan umpan silang serta keunggulan duel bola udara.
Iran datang ke Piala Asia berbekal kesempurnaan pada babak kualifikasi. Tim besutan pelatih Hossein Abdi tersebut menyapu bersih tiga laga dengan kemenangan. Selain memetik tiga kemenangan, Iran mencetak 17 gol tanpa sekali pun kebobolan.
Performa itulah yang menjadikan Iran sebagai salah satu favorit juara. Organisasi permainan yang rapi, ditambah pemain-pemain berperawakan tinggi besar yang unggul dalam duel udara, turut menjadi salah satu kekuatan Iran.
Keunggulan klasik Iran itulah yang menghalangi Indonesia meraih hasil positif. Saat laga baru berjalan 5 menit, Indonesia sudah kebobolan lewat aksi bek Hesam Nafari yang mencetak gol memanfaatkan situasi sepak pojok. Pergerakan Hesam lolos dari pengawasan duet bek tengah Indonesia, yakni Kadek Arel dan Iqbal Gwijangge.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/2b8720f0-f52c-4317-aaf3-e29c550d80b5_jpg.jpg)
Tidak hanya mengandalkan keunggulan postur, para pemain Iran juga sangat terorganisasi dalam mempersempit ruang gerak para pemain Indonesia. Permainan menekan dengan garis pertahanan tinggi Iran membuat para pemain Indonesia kesulitan mengembangkan permainan.
Garuda Muda tidak punya pilihan selain melepaskan bola-bola lambung dengan mengincar ruang di antara kiper dan bek Iran. Upaya ini bisa dengan mudah dimentahkan barisan belakang Iran yang sudah siap menyambut bola udara.
Pelatih tim Indonesia U-20 Indra Sjafri mengatakan, kelemahan timnya adalah pada duel bola-bola di udara. Faktor tinggi badan menjadi salah satu penyebab utamanya.
"Kelemahan kita pada duel satu lawan satu dan mengantisipasi bola-bola atas," kata Indra.
Meski tertekan, Indonesia bukannya tanpa peluang. Welber Jardim yang mendapat peran sebagai gelandang bertahan rajin naik membantu serangan sekaligus menciptakan peluang. Selain itu, penampilan militan Toni Firmansyah membuatnya beberapa kali memenangi perebutan bola.
Gelandang asal klub Persebaya Surabaya itu juga sempat mengancam gawang Iran lewat sepakan jarak jauh yang masih bisa ditepis kiper Iran, Arsha Shakouri. Sepanjang laga, Indonesia mencatatkan 11 tembakan ke gawang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/ea95ad57-020d-42c6-96d4-a27af92873a4_jpg.jpg)
Pada babak kedua, Garuda Muda mulai nyaman bermain menguasai bola. Ini salah satunya disebabkan Iran yang sudah unggul tidak lagi bermain terlalu menekan.
Situasi tersebut sempat membuahkan peluang emas untuk Indonesia melalui pemain pengganti, Marselinus Ama Ola, yang meliuk-liuk melewati hadangan bek Iran. Sayangnya, sepakan mendatar Marselinus dari dalam kotak penalti bisa digagalkan Arsha.
Dony Tri Pamungkas dan rekan-rekannya juga mencoba tampil menekan dengan cara mengganggu proses Iran dalam membangun serangan. Namun, seringkali proses menekan pemain Iran yang sedang menguasai bola tidak dilakukan secara kolektif sehingga tekanan blok Indonesia bisa dengan mudah dilewati Iran.
Di saat para pemain Indonesia mendapatkan kepercayaan diri untuk menekan pertahanan Iran, gol Esmaeil Gholizadeh pada menit ke-63 mengguncang upaya Indonesia untuk mencetak gol balasan. Keunggulan Iran dalam duel bola udara berperan dalam gol Esmaeil.
Menurut Indra, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk mencetak gol melalui serangan balik. Namun, beberapa peluang yang dimiliki Indonesia terbuang sia-sia.
"Sebenarnya kita punya kecepatan untuk menyerang balik mereka. Beberapa kali buat peluang, tetapi belum berhasil berbuah gol," kata Indra
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/da3e1ed4-3ead-4f01-8321-652f54a3b968_jpg.jpg)
Tertinggal dua gol cukup memengaruhi mental serta fokus para pemain Indonesia. Tujuh menit berselang, giliran Mobin Dehgan yang menambah keunggulan Iran menjadi tiga gol berkat gol sundulannya.
Hossein memang berusaha mengoptimalkan kekuatan klasik para pemain Iran. Untuk itulah, ia memerintahkan para pemainnya melepaskan banyak umpan silang. Dengan keunggulan postur, para pemain Iran nyaris tidak kesulitan mencetak gol lewat duel bola udara. Mereka bahkan bisa memenangi bola udara di saat kalah jumlah di dalam kotak penalti Indonesia.
Sepanjang pertandingan, Iran tercatat melepaskan sebanyak 29 umpan silang. Jumlah itu jauh melampaui para pemain Indonesia yang hanya melepaskan tujuh umpan silang.
Hanya dua tim teratas yang berhak lolos dari penyisihan grup. Kekalahan dari Iran tidak serta-merta menutup jalan Indonesia di Piala Asia U-20. Kans Indonesia lolos ke babak perempat final masih terbuka, dengan syarat mampu mengatasi Uzbekistan dan Yaman pada dua laga berikutnya.
"Kita akan evaluasi tim dulu. Setelah itu akan siapkan tim melawan Uzbekistan," kata Indra
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar Alexey