Walau menang atas Botafogo, Atletico Madrid harus rela menjadi tim besar pertama yang pulang dari Piala Dunia Antarklub 2025. Penampilan Atletico di bawah standar.
24 Jun 2025 08:17 WIB · Olahraga
PASADENA, SENIN — Biasanya raihan enam poin sudah cukup membawa klub lolos dari babak grup. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Atletico Madrid di Grup B Piala Dunia Antraklub 2025 yang sangat kompetitif. Atletico tersingkir dari turnamen karena kalah selisih gol.
Atletico menutup laga terakhir babak grup dengan kemenangan atas wakil Brasil, Botafogo, 1-0 di Stadion Rose Bowl, Pasadena, Selasa (24/6/2025) WIB. Bukan menguntungkan tim sendiri, kemenangan itu justru menjadi berkah untuk tim pesaing lain di grup, yaitu Paris Saint-Germain.
PSG keluar sebagai juara grup setelah menang 2-0 atas tuan rumah Seattle Sounders di Stadion Lunen Field pada waktu yang sama. Walaupun sempat kalah dari Botafogo, mereka tetap finis di puncak grup dengan koleksi enam poin. PSG yang memiliki surplus lima gol unggul selisih gol atas Botafogo di peringkat kedua dengan surplus satu gol.
Atletico juga mengoleksi enam poin, tetapi mereka mencatatkan selisih gol terburuk di antara dua tim lain, yaitu defisit satu gol. Tim asuhan Pelatih Diego Simeone itu gagal memenuhi misi untuk menang minimal tiga gol atas Botafogo. Padahal, jika bisa melakukan itu, mereka akan lolos langsung ke babak 16 besar.
Gol tunggal penyerang veteran Antoine Griezmann tidak cukup membawa Atletico lolos. ”Kami pulang dengan rasa frustrasi karena gagal lolos. Meraih enam poin di grup itu tidak buruk. Kami tersingkir karena laga versus PSG (kalah 0-4). Hasl itu sangat merugikan kami,” ujar Simeone kepada AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/8dc7dc8a3d161c04fe947dec8a75b2c4-APTOPIX_CWC_Atletico_Madrid_Botafogo_Soccer.jpeg)
Atletico mendominasi Botafogo nyaris sepanjang laga. Mereka terus mengepung separuh lapangan lawan. Namun, blok rendah pertahanan Botafogo membuat Griezmann dan rekan-rekan sangat kesulitan. Terbukti, gol pembuka Atletico baru hadir pada menit ke-87.
Simeone memainkan formasi 4-4-2 sejak menit awal dengan duet penyerang Julian Alvarez dan Alexander Sorloth. Mereka terlihat berbahaya dengan kombinasi dari dua sisi lapangan dengan bek sayap Marcos Llorente dan Javi Galan. Hanya saja, berkali-kali umpan silang selalu gagal menemui sasaran.
Botafogo di atas kertas menurunkan formasi 4-3-3. Skema itu bisa berubah di lapangan, tergantung situasi. Seperti saat menghadapi gempuran Atletico, Botafogo bisa menumpuk tujuh pemain sekaligus di dalam kotak penalti. Tumpukan pemain itu membuat Atletico sangat kesulitan.
Atletico menghasilkan 23 kali tembakan, tetapi hanya lima kali yang tepat sasaran. Mereka lebih banyak melakukan tembakan spekulatif karena bola sering terhenti sebelum sampai ke area berbahaya kotak penalti. Bek tengah Botafogo, Alexander Barboza, bermain solid dalam memutus serangan lawan.
Setelah turun minum, serangan Atletico berubah menjadi lebih baik. Simeone menambahkan pemain ofensif. Griezmann masuk menggantikan gelandang Conor Gallagher. Kreativitas dan pergerakan tanpa bola Griezmann membuat pemain bertahan lawan sering kewalahan.
Botafogo hanya menghasilkan tujuh tembakan dengan tiga kali tepat sasaran. Meskipun begitu, jumlah peluang sedikit itu jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan seluruh ancaman Atletico. Penyerang Igor Jesus berkali-kali mengancam dalam situasi transisi. Beruntung, Atletico punya kiper Jan Oblak di bawah mistar gawang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/4e53f9557593bfb978131b140850669b-CWC_Atletico_Madrid_Botafogo_Soccer.jpeg)
Seperti saat melawan PSG, skuad Botafogo tidak pernah ragu untuk beradu fisik. Tim asuhan pelatih Renato Paiva itu bermain cukup keras dalam menghadang para penyerang Atletico. Beberapa insiden pun terjadi di kotak penalti. Atletico berkali-kali meminta penalti, tetapi tidak diberikan wasit.
Di pengujung paruh pertama, asisten video wasit (VAR) sempat menghentikan laga. Sorloth telihat dilanggar di kotak penalti. Namun, setelah pemeriksaan cukup panjang, wasit utama Cesar Palazuelos justru memberikan tendangan bebas kepada Botafogo. Sorloth dinilai melanggar lawan lebih dulu.
”Jika kami bisa mendapatkan penalti itu dan mencetak gol, semua pasti akan lebih mudah pada paruh kedua. Pertandingan sangat rumit karena kami masih bermain imbang saat turun minum. Pada akhirnya, itu adalah keputusan dari wasit,” kata Oblak yang melakukan tiga penyelamatan hebat.
Kelolosan Botafogo dari grup neraka yang berisi dua tim besar Eropa terbilang mengejutkan. Mereka membuktikan, terutama setelah menaklukkan PSG, tim-tim dari Amerika Selatan tidak bisa dipandang sebelah mata. Adapun Botafogo akan menghadapi juara Grup A di 16 besar, yaitu Palmeiras.
”Banyak orang yang meragukan apakah kami akan lolos. Kami membuktikan bahwa skuad kami memiliki kualitas. Sekarang kami harus terus bekerja untuk memperbaiki kesalahan yang kami buat dalam pertandingan ini agar tidak terulang di babak selanjutnya,” kata Jesus.
Sementara itu, PSG berhasil menang tanpa kesulitan berarti lewat sumbangan gol penyerang sayap Kvicha Kvaratskhelia dan bek sayap Achraf Hakimi. Tidak seperti versus Botafogo, Pelatih Luis Enrique kembali mengeluarkan materi skuad terbaik pada laga penentu tersebut. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .