Seusai pandemi Covid-19, Kompleks Olahraga Jakabaring nyaris tak pernah lagi dilirik untuk ajang olahraga skala besar. Akibatnya, sejumlah arena kurang diperhatikan.
12 Feb 2025 18:13 WIB · Nusantara
Selepas Asian Games Jakarta-Palembang 2018, kondisi sejumlah arena olahraga di Kompleks Olahraga Jakabaring atau JSC di Palembang, Sumatera Selatan memprihatinkan. Kementerian Pemuda dan Olahraga berniat memboyong kejuaraan nasional maupun internasional ke Jakabaring untuk membangkitkan lagi geliat olahraga di sana.
”JSC berpengalaman menyelenggarakan sejumlah ajang olahraga dari PON (2004) hingga Asian Games (2018). Agar fasilitas yang ada terus terawat, kami akan identifikasi apa saja kejuaraan nasional maupun internasional yang bisa dibawa ke sini. Itu akan membantu menjaga keberlangsung aset dan geliat olahraga di sini,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo saat meninjau JSC, Rabu (12/2/2025).
Dito mengakui, sebagai warisan Asian Games 2018, JSC menjadi salah satu kompleks olahraga terbaik dan terlengkap di Indonesia. Namun, karena dihantam pandemi Covid-19 selama 2020-2023, geliat olahraga di JSC berlahan memudar.
Berdasarkan pantauan Kompas, sebelum pandemi Covid-19, JSC rutin menggelar ajang olahaga skala besar level nasional maupun internasional. Akan tetapi, selama pandemi dan selepas pandemi, JSC nyaris tidak pernah lagi dilirik untuk menjadi tuan rumah ajang-ajang skala besar. Situasi itu pun membuat beberapa arena ataupun fasilitas di JSC kurang diperhatikan.
Dito mengatakan, untuk menjaga keberlangsungannya, aset olahraga di JSC harus rutin dimanfaatkan sebagai tuan rumah ajang olahraga baik kelas nasional maupun internasional. Atas dasar itu, pihaknya berkoordinasi dengan Ketua Umum PSSI Erick Thohir untuk melangsungkan agenda internasional tim nasional di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring yang baru direnovasi untuk Piala Dunia U-20 2023 sebelum dibatalkan FIFA.
Selain itu, Dito mengajak PB PASI (atletik) dan Federasi Akuatik Indonesia untuk menyelenggarakan kejuaraan di Jakabaring. Lagi pula, Stadion Atletik dan Stadion Akuatik di JSC sudah bertaraf internasional. Di sisi lain, yang tidak menutup kemungkinan adalah menyelenggarakan seri kejuaraan dunia BMX di sana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/12/debc08bc-89fc-4e87-bf3b-29a1fa772dc7_jpg.jpg)
Ia menilai kondisi arena-arena di JSC masih cukup baik dan sudah bertaraf internasional. ”Jadi, kita coba untuk mencari dan menarik sejumlah kejuaraan nasional ataupun internasional ke sini agar fasilitas yang ada bisa tetap dimaksimalkan. Yang paling mungkin dibawa ke sini dalam waktu dekat adalah pertandingan timnas sepak bola, kejuaraan atletik, kejuaraan akuatik, dan seri kejuaraan dunia BMX,” lanjutnya.
Dito menuturkan, pihaknya pun mendapatkan informasi bahwa ada investor yang berniat membangun lapangan golf di JSC. Menurut dia, peluang itu juga harus dimaksimalkan karena bisa menjadi tambahan sumber pemasukan dan meningkatkan daya tarik olahraga di sana.
”JSC sudah memiliki modal fasilitas yang baik dan lengkap. Tinggal selanjutnya, bagaimana caranya memperbanyak kegiatan olahraga di sini,” katanya. Semakin banyak kegiatan yang diselenggarakan maka akan semakin banyak pula tambahan pemasukan untuk merawat fasilitas yang ada, serta bisa menghidupkan kembali geliat olahraga.
Direktur Pemasaran dan Operasional PT JSC Geri Radityo mengatakan, usai berkeliling bersama selama kurang lebih 45 menit, Menpora memastikan pertandingan internasional timnas sepak bola akan diselenggarakan di Stadion Gelora Sriwijaya, JSC pada 2026.
Untuk tahun ini, Kemenpora berkomitmen membawa kejuaraan jetski ke JSC sebagai pemanasan seri Kejuaraan Dunia Jetski 2025 di Danau Toba, Sumatera Utara yang biasanya berlangsung pada akhir tahun. Kejuaraan jetski bisa dilaksanakan di Danau Jakabaring yang dahulu beberapa kali menyelenggarakan kejuaraan jetski nasional maupun internasional, serta berpengalaman menghelat perlombaan dayung Asian Games 2018.
JSC sudah memiliki modal fasilitas yang baik dan lengkap. Tinggal selanjutnya, bagaimana caranya memperbanyak kegiatan olahraga di sini.
Kemudian, Kemenpora akan mengajak PB Pelti (tenis lapangan) untuk membuat kejuaraan rutin dan melangsungkan pelatnas di JSC. Pasalnya, JSC memiliki 16 lapangan tenis berstandar internasional. ”JSC adalah satu-satunya kompleks olahraga di Indonesia yang punya 16 lapangan tenis berstandar internasional dan terpusat,” ujar Geri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/12/92c2073c-bab3-48bb-80d3-9123c82cefa1_jpg.jpg)
Terkait rencana investor membangun lapangan golf di JSC, Geri menyampaikan, pihaknya menyambut baik niat tersebut. Apalagi lapangan golf yang representatif masih sedikit di Palembang, praktis hanya Lapangan Golf Kenten Palembang yang merupakan salah satu lapangan golf tertua di Indonesia yang dibangun di era kolonial pada 1926.
Rencananya lapangan golf JSC akan dibangun pada lahan seluas kurang lebih 80 hektar di tepian Danau Jakabaring. ”Keberadaan lapangan golf bisa menambah tambahan pemasukan secara signifikan karena antusiasme bermain golf di Palembang cukup tinggi, seperti Lapangan Golf Kenten yang selalu penuh di pagi dan sore hari,” kata Geri.
Sehabis kunjungan Menpora, Geri menuturkan, pihaknya harus menjaga komunikasi mengenai rencana-rencana itu atau jemput bola. Tujuannya, agar rencana-rencana itu bisa segera teralisasi. ”Tadi, kami diminta untuk terus menjaga komunikasi. Nanti, kami akan datang ke Jakarta untuk membahas lebih lanjut dari rencana-rencana tersebut alias jemput bola. Jangan sampai, komunikasi putus sehingga rencana-rencana itu urung terealisasi,” tuturnya.
Menurut Geri, kunjungan Menpora sangat membantu pihaknya untuk membangkitkan geliat olahraga di JSC. Menpora bisa menjembatani komunikasi pengelola JSC dan pengurus cabang olahraga di Indonesia untuk membawa kejuaraan ke JSC.
Selama ini, karena keterbatasan tugas pokok dan fungsinya, pengelola JSC tidak mungkin menyelenggarakan kejuaraan olahraga sendiri. Adapun penyelenggaraan kejuaraan menjadi wewenang pengurus cabang terkait. ”Dengan adanya dukungan dari Menpora, kami harap koordinasi dengan pengurus cabang menjadi lebih baik dan mereka bisa lebih sering membuat kegiatan di sini,” tutur Geri.
Dengan semakin banyak kegiatan olahraga dilaksanakan di JSC, akan sangat membantu pembiayaan perawatan arena. Lagi pula sejak 2021, JSC tidak lagi menerima subsidi dari APBD Provinsi Sumsel. Sebagai BUMD, JSC diminta aktif mencari sumber pendapatan sendiri untuk operasional mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/12/059020e1-74d5-48a5-9832-b706611a9bac_jpg.jpg)
Namun, karena minim pemasukan dari kegiatan olahraga, pengelola JSC akhirnya menerapkan skala prioritas dalam perawatan aset. Mereka memfokuskan perawatan untuk arena yang memang sering disewa atau digunakan, antara lain lapangan sepak bola dan lapangan tenis.
Sebaliknya, untuk arena yang jarang digunakan, seperti lapangan tembak, lapangan voli pantai, dan lintasan sepatu roda, nyaris tidak tersentuh perawatan. ”Kalau semuanya kita rawat atau perbaiki, itu akan memakan biaya yang sangat besar. Jadi, kita terapkan skala prioritas, mana arena yang sering digunakan, itulah yang rutin kita perbaiki,” terang Geri.
Karena alasan tidak ada subsidi dari pemerintah dan minim kegiatan olahraga, Geri menyampaikan, pihaknya banyak menghadirkan kegiatan hiburan di JSC, seperti konser musik, bazar, hingga festival. Beragam kegiatan hiburan itu turut menjadi tulang punggung untuk merawat arena-arena yang sering disewa.
”Estimasi biaya operasional JSC mencapai Rp 20 miliar per tahun, termasuk untuk perawatan arena-arena yang sering disewa atau digunakan. Biaya operasional itu sebagian besar tertutup oleh kegiatan-kegiatan hiburan, seperti konser musik,” ungkap Geri.
Sebelumnya, Penjabat Gubernur Sumsel Elen Setiadi berharap pengelola JSC tidak hanya fokus untuk mengelola aset, melainkan pula berpikir untuk ikut berkontribusi mengembangkan prestasi olahraga Palembang maupun Sumsel. Untuk itu, pengelola diminta lebih aktif membuat kegiatan olahraga di luar kejuaraan dari pengurus cabang ataupun KONI.
Sekarang, yang penting rutin dahulu menggelar kejuaraan di sini walau belum 100 persen di semua arena yang ada.
Selain itu, pengelola JSC diminta tidak sekadar menunggu ada tawaran kejuaraan ke sana, melainkan lebih aktif menawarkan diri ataupun meminta kejuaraan diselenggarakan di tempatnya. Kalau sekadar menunggu, mungkin ada yang mau menyelenggarakan kejuaraan tetapi jika jemput bola, pastinya peluang kejuaraan diselenggarakan akan lebih besar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/25/769fc701-fe7e-49f2-9af4-18d72ca71ba7_jpg.jpg)
Pengamat olahraga Fritz E Simanjuntak menuturkan, setelah terdampak pandemi Covid-19, yang dibutuhkan JSC adalah mengembalikan kepercayaan publik. Kalau mereka kembali aktif menggelar kejuaraan, itu akan menjadi perhatian publik, atlet, pengurus olahraga, dan sponsor untuk kembali melirik Jakabaring.
”Sekarang, yang penting rutin dahulu menggelar kejuaraan di sini walau belum 100 persen di semua arena yang ada. Kejuaraannnya jangan hanya nasional, tetapi kalau bisa yang bertaraf internasional. Itu sangat penting untuk membangun kepercayaan publik bahwa Jakabaring masih ada dan layak digunakan,” ujar Fritz.
Dengan pengalamannya menyelenggarakan beragam ajang olahraga skala besar, dari PON 2004, SEA Games 2011, Islamic Solidarity Games 2013, hingga Asian Games 2018, kualitas arena atau fasilitas di JSC sejatinya tidak diragukan lagi. Jangan sampai beragam fasilitas yang dibangun dengan biaya mahal itu hanya menjadi ”candi” dari kisah kejayaan olahraga Jakabaring di masa lalu.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Irma Tambunan