Tumbuh dari ledakan ekonomi minyak dan gas, Uni Emirat Arab kini mengembangkan energi bersih dengan masif. Indonesia menjadi salah satu negara mitra kerja samanya.
03 Des 2024 18:27 WIB · Internasional
Tumbuh sebagai negara yang mengandalkan booming ekonomi minyak dan gas, Uni Emirat Arab (UEA) tak terlena. Mereka meragamkan pendapatan negara melalui strategi pembangunan ekonomi pada area-area baru investasi, pendidikan, sektor kesehatan, sektor finansial, pariwisata, real estat, penerbangan, energi bersih, dan lain-lain
Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Al-Dhaheri mengungkapkan, jika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ketergantungan pendapatan UEA pada minyak dan gas lebih dari 90 persen dari produk domestik bruto (PDB), saat ini minyak dan gas hanya menyumbang kurang dari 25 persen PDB.
”Presiden kami, Sheikh Mohamed bin Zayed al-Nahyan, telah mencanangkan pada 2050 kami akan mengekspor barel minyak terakhir kami. Itu artinya, kami tidak lagi bergantung pada (pendapatan dari) minyak. Jadi, (waktu kami) tinggal 25 tahun lagi,” ujar Dhaheri dalam pertemuan dengan media di rumah kediaman resminya di Jakarta, Kamis (28/11/2024) malam.
Pada 2 Desember ini, UEA memperingati 53 tahun Hari Persatuan atau berdirinya negara tersebut. Di Jakarta, momentum itu dirayakan Kedutaan Besar UEA melalui resepsi, Selasa (3/12/2024).
Terkait dengan diversifikasi pendapatan dengan tidak lagi bergantung pada minyak dan gas, UEA menghidupkan semangat untuk mewujudkan bumi yang lebih ramah lingkungan. Semangat ini mewarnai kerja samanya dengan negara-negara lain, termasuk dengan Indonesia, seperti terwujud dalam megaproyek energi bersih.
Kerja sama energi bersih UEA di Indonesia dimulai melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat, yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 9 November 2023. Kerja sama energi bersih atau energi baru terbarukan ini terus berlanjut di era Presiden Prabowo Subianto, yaitu melalui pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pengembangan PLTS Terapung Cirata.
”Pada tahun 2024 ini, kami juga menjajaki kerja sama dengan Pertamina dan bidang panas bumi atau geotermal serta energi bersih lainnya. Kami yakin akan ada hasil positif dalam kerja sama ini,” kata Dhaheri, yang juga menjabat Dubes Non-Residen untuk Timor Leste dan ASEAN.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/24/31cfa962-97f7-43e8-888c-67babb8abc67.jpg)
Kerja sama bidang energi baru dan terbarukan UEA di Indonesia itu dilakukan melalui Masdar, perusahaan energi bersih milik negara UEA dan salah satu perusahaan energi bersih terbesar di dunia. Masdar telah menandatangani perjanjian strategis untuk proyek baru energi terbarukan di Indonesia dalam mendukung transisi energi di Tanah Air.
Kesepakatan tersebut meliputi nota kesepahaman (MoU) dengan PT Pertamina Power Indonesia untuk pengembangan proyek tenaga surya, angin, dan hidrogen hijau di Indonesia dan luar negeri. Hal ini dibangun berdasarkan kemitraan Masdar dengan PT Pertamina Power Indonesia melalui PT Pertamina Geotermal Energy yang sudah ada sebelumnya.
Untuk pengembangan PLTS Terapung Cirata, badan usaha milik negara UEA itu telah menandatangani Perjanjian Studi Pengembangan Bersama dengan PT PLN Nusantara Power untuk Cirata Tahap II. Proyek ini akan melipatgandakan kapasitas menjadi 500 megawatt (MW) dari sebelumnya 145 MW.
Sekitar tahun 1960-1970-an, ekonomi kami bergantung pada sektor minyak dan gas, sekarang kami lebih berkembang dan terdiversifikasi.
Sebelumnya pada tahap awal sudah terbangun 145 MW di PLTS Terapung Cirata dengan proyek Photovoltaik (PV) terapung yang mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 50.000 rumah tangga. Fasilitas ini disebut-sebut sebagai fasilitas terbesar di jenisnya di Asia Tenggara. Photovoltaik (PV) merujuk pada teknologi yang mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik dengan menggunakan panel surya, yang pada dasarnya berarti tenaga surya.
Dikutip dari artikel berjudul ”Tren Energi Bersih dari Permukaan Waduk Cirata”, di Kompas.id, 1 Agustus 2024, PLTS Terapung Cirata adalah kolaborasi PT PLN (Persero) dengan Masdar. Dari kerja sama itu terbentuk perusahaan patungan, PMSE. Rincian kepemilikan sahamnya adalah 51 persen dimiliki PT PLN Nusantara Power (dulu bernama PT Pembangkitan Jawa Bali/PJB) dan 49 persen sisanya dimiliki Masdar.
PLTS Terapung Cirata mulai dibangun pada 2015 dengan biaya mencapai 145 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,2 triliun. Adapun pendanaan dari sejumlah pihak, antara lain kombinasi ekuitas sponsor dan konsorsium bank komersial internasional. Pembangkit Cirata berupa 343.000 panel surya di permukaan perairan Waduk Cirata Indonesia seluas 250 hektar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/09/eca02fc3-1086-4cf9-9cb8-f9df11effe66_jpg.jpg)
Asia Tenggara merupakan tujuan investasi utama bagi Masdar untuk energi baru dan terbarukan. Selain tenaga surya, pada Februari 2023, Masdar juga mulai memasuki sektor energi panas bumi melalui investasi strategis di PT Pertamina Geothermal Energy.
”Sekitar tahun 1960-1970-an, ekonomi kami bergantung pada sektor minyak dan gas, sekarang kami lebih berkembang dan terdiversifikasi,” kata Dhaheri.
Di IKN, Masdar telah berkomitmen melanjutkan pengembangan hingga 2 gigawatt energi terbarukan. Dikutip dari laman Masdar, proyek ini akan dimulai dengan kapasitas 200 MW pada tahap pertama. Pada Mei 2024, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan surat izin atau letter to proceed (LtP) untuk studi kelayakan di IKN pada Abu Dhabi Future Energy, PJSC-Masdar terkait proyek awal sebesar 200 MW tersebut.
Untuk jangka panjang, Masdar telah menyatakan minat untuk memenuhi kebutuhan energi IKN pada tahun 2045 dengan menggunakan proyek tenaga surya, angin, dan panas bumi.
Komitmen itu merupakan bagian dari target Masdar untuk membangun fasilitas energi terbarukan sebesar 100 GW pada 2030. Hal ini untuk mendukung target yang ditetapkan dalam Konsensus UEA sendiri, yaitu untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan global pada 2030 dan menjadi produsen terkemuka hidrogen hijau pada tahun yang sama.
Hal ini juga sejalan dengan target IKN yang untuk menjadi kota dengan emisi karbon nol pada tahun 2045. UEA menargetkan emisi nol pada 2050, Indonesia menargetkan hal yang sama pada 2060.
Kerja sama Indonesia UEA telah lama terjalin erat. Menurut Dhaheri, sejak kunjungan Presiden UEA Mohamed bin Zayed al-Nahyan (MBZ) ke Jakarta pada 2019, kerja sama dua negara telah berkembang pesat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/29/26adc8bf9537ac5362ed477af8951a61-png_1_.png)
Indonesia dan UEA telah bekerja sama dalam 20 sektor. Kunjungan pertama MBZ itu bersejarah sebab telah membuka pintu pada kerja sama berkelanjutan Indonesia-UEA yang berlangsung hingga sekarang.
Sejak kunjungan itu, Indonesia dan UEA juga sudah menyepakati perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA). Indonesia-UEA (IUAE) CEPA ditandatangani pada tanggal 1 Juli 2022 dan telah diterapkan sejak 1 September 2023.
Kendati tumbuh dari booming ekonomi minyak dan gas, UEA terus mengembangkan energi bersih masa depan yang ramah lingkungan. UEA adalah negara pertama di Timur Tengah yang menandatangani dan meratifikasi Perjanjian Paris pada 2016.
UEA juga negara Timur Tengah yang pertama yang berkomitmen untuk mengurangi emisi di seluruh perekonomian, dan yang pertama di Timur Tengah yang mengumumkan Inisiatif Strategis Emisi Nol. Di UEA sendiri, saat ini energi bersih telah digunakan dengan masif. Pengembangannya juga terus dilakukan dengan investasi dalam pengembangan teknologi energi bersih.
Beberapa fasilitas energi bersih di UEA saat ini, antara lain, ialah tiga pembangkit listrik tenaga surya terbesar dan berbiaya terendah di dunia, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), dan pengembangan teknologi energi hidrogen hijau.
UEA merupakan negara pertama di Timur Tengah yang menerapkan teknologi penangkapan karbon skala industri sekaligus juga yang pertama menerapkan energi nuklir tanpa emisi di dunia Arab lewat PLTN Barakah. Saat ini, PLTN Barakah sekarang menjadi sumber listrik bersih terbesar di kawasan itu.
Tak hanya soal energi. UEA juga fokus pada krisis lingkungan, termasuk mengatasi krisis air. Bahkan, mengatasi kelangkaan air dunia merupakan salah satu prioritas utama UEA.
Hal ini salah satunya tecermin dalam Prakarsa Air Mohamed bin Zayed yang diluncurkan pada 2024. Prakarsa ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global tentang tantangan air global dan meningkatkan investasi di bidang solusi air berkelanjutan.
Prakarsa ini merupakan bagian dari komitmen UEA untuk memastikan keamanan air global. Untuk itu, bersama Senegal, UEA akan menjadi tuan rumah bersama Konferensi Air PBB pada tahun 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/23/d8ae0524-63b6-4985-a72e-46c89cfc424c_jpeg.jpg)
Dengan memimpin prakarsa ini, UEA menekankan perlunya kolaborasi global untuk mengatasi masalah air serta meningkatkan ketersediaan dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Dhaheri mengatakan, UEA juga telah bekerja sama untuk bidang lingkungan di sejumlah kegiatan lain. Ia memberi contoh pembangunan pusat penelitian bakau atau Mangrove Research Center di Bali dan program pembersihan sampah plastik di Jakarta dan Bali pada tahun ini.
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul Hadi