AS menyatakan penangkapan tanker berbendera Rusia sebagai kendali atas ekspor minyak Venezuela. Inggris menyatakan penangkapan itu terkait Perang Rusia-Ukraina.
09 Jan 2026 17:30 WIB · Internasional
AFP/Hakon Rimmereid
MOSKWA, JUMAT — Moskwa, sebagaimana diberitakan kantor berita Associated Press, Jumat (9/1/2026), mengecam keras perampasan tanker Rusia yang dilakukan Amerika Serikat. Dibantu Inggris yang mengerahkan pesawat milik Royal Air Force, Penjaga Pantai AS pada Rabu menangkap tanker Bella 1 di perairan internasional antara Eslandia dan Inggris.
Selama pengejaran, Bella 1 segera mengubah identitas kapal menjadi Mariena yang berbendera Rusia. Dalam aturan internasional, hal tersebut dimungkinkan, tetapi harus melalui proses administrasi yang ketat.
”Penangkapan ini dapat menimbulkan eskalasi militer dan politik di kawasan Euro-Atlantik dan menimbulkan kecemasan bagi pelayaran niaga,” kata Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia, Kamis.
Kemenlu Rusia menyatakan penangkapan tersebut sebagai pelanggaran serius Hukum Maritim Internasional. Menurut Rusia, tanker tersebut memiliki hak untuk berlayar bebas di bawah bendera Rusia. Kemenlu Rusia menambahkan, pengadilan terhadap para anak buah kapal (ABK) adalah absurd dan tidak dapat diterima.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/1b529eb8346ed015518a02fa91430d34-Op_ration_en_cours_des_forces_am_ricaines_pour_prendre_le_contr_le_d_un_p_trolier_russe_dans_l_Atlantique.jpg)
”Tindakan Washington untuk menciptakan krisis internasional, termasuk dalam hubungan Rusia-Amerika Serikat yang sedang buruk, sangat disesalkan dan jadi perhatian serius,” kata Kemenlu Rusia.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Mariena ditangkap saat mengangkut minyak dari Venezuela dengan tujuan Rusia. Pengejaran oleh Penjaga Pantai AS dilakukan selama lebih-kurang seminggu.
Moskwa mengecam penggunaan kekuatan AS dalam pengejaran dan penangkapan tanker itu. Mereka mendesak para awak kapal dibebaskan. Komando Eropa Amerika Serikat mengatakan tanker Bella 1 ditangkap Rabu karena melanggar sanksi AS atas Venezuela.
Kemenlu Rusia mengatakan penangkapan tanker tersebut sebagai upaya menguasai minyak Venezuela dan wujud nyata ambisi penjajahan baru. AS secara sepihak menetapkan penjualan minyak keluar dari Venezuela bisa dilakukan dengan persetujuan AS dan sesuai dengan kepentingan nasional AS.
Saat ini Venezuela masih dikenai sanksi oleh AS dan Barat. Sanksi tersebut dijatuhkan sepihak AS dan Barat. Sanksi tersebut bukan sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Gedung Putih menolak menanggapi kecaman Kemenlu Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/02/dba3c48e6871721018394fc308cf8a6a-Russia_Victory_Day_Parade_Rehearsal_129392546.jpg)
Komentator di Moskwa mengkritik keterlambatan sikap pemerintah dalam menghadapi penangkapan tersebut. Pemerintah Rusia dituntut mengerahkan armada angkatan laut dan kontraktor militer untuk melindungi kapal-kapal niaga terkait kepentingan Rusia.
Alexander Kots, seorang wartawan militer di tabloid Komsomolskaya Pravda, menulis, kegagalan Rusia menghalangi penangkapan tanker tersebut dapat memicu AS dan negara Barat mengulang tindakan serupa terhadap kapal-kapal niaga lainnya.
Ia menyarankan Moskwa mengerahkan kontraktor militer mengawal kapal-kapal niaga yang digunakan Rusia menjalankan kepentingan bisnis. ”Melawan perundung yang merasa sangat berkuasa harus disikapi dengan menampar wajah mereka,” kata Kots.
Kecaman serupa juga datang dari mantan Menlu Austria Karin Kneissl. Melalui akun di Telegram, Kneissl mengatakan, penangkapan tanker berbendera Rusia itu merupakan pelanggaran hukum internasional secara kasar oleh AS. ”Kali ini yang dilanggar AS adalah hukum maritim,” kata Kneissl sebagaimana diberitakan kantor berita TASS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/16/cbeb5d5dd2c6620cd2bc4ebd7a0deca2-063_2230343193.jpg)
Mantan Wakil Menlu AS Bidang Eropa dan Eurasia di zaman pemerintahan Presiden George W Bush dan Barack Obama, Daniel Fried, mengatakan, dengan melempar kecaman menunjukkan Rusia kehabisan cara.
”Kalau Rusia cenderung berteriak dan hanya memberikan kecaman itu menunjukkan mereka dipermalukan dan ternyata kekuatannya tidak sebesar sesumbar Presiden Putin. Mereka tidak berdaya dalam kasus ini,” kata Fried. Ia lantas mengingatkan bahwa Rusia tidak memiliki kredibilitas ketika berbicara hukum internasional karena mereka telah menyerang Ukraina.
”Jika bicara legatilas penangkapan tanker, ini masalah yang rumit. Dari sisi strategi, Rusia dalam keadaan lemah karena jalur ekonominya terentang terlalu jauh. Mereka terperangkap dalam perang Ukraina yang belum dapat dikalahkan dan ekonomi Rusia berantakan,” kata Fried yang kini bergabung dengan lembaga kajian Atlantic Council.
Pemerintah Inggris mendukung penangkapan tanker berbendera Rusia itu sebagai bagian upaya menjaga aliansi AS-Eropa. Namun, di sisi lain ada kekhawatiran karena setelah penculikan Presiden Nicolas Maduro, Trump tetap menunjukan ambisi untuk menguasai Greenland, wilayah kekuasaan Denmark.
”Inggris berusaha untuk berpikir positif. Penangkapan tanker tersebut memperlihatkan PM Inggris Keir Starmer mendukung AS tanpa menyokong semua kebijakan AS,” kata Direktur Lembaga Kajian Chatham House Bronwen Maddox di London, Kamis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/07/d5449749-fa67-460f-ba00-208b56765ab8.jpg)
Saat ini ada dilema karena Inggris dan Eropa tidak ingin memancing Trump bertindak nekat, terutama terkait kasus Greenland. Selain itu, pecahnya hubungan AS-Eropa juga akan melemahkan pertahanan Eropa.
Menteri Pertahanan Inggris John Healy dalam taklimat pasca-operasi yang disampaikan kepada parlemen menyatakan, Inggris dan AS tetap menjadi sekutu pertahanan dan keamanan. Healy menyatakan, penangkapan tanker berbendera Rusia itu sebagai dukungan dalam perang Ukraina.
Berbeda dari alasan AS yang mengincar Mariena sebagai bagian dari kendali atas ekspor minyak Venezuela, bagi Inggris, penangkapan itu merupakan hantaman bagi Armada Bayangan Rusia. ”Tahun lalu Rusia mendapat dana 100 miliar dolar AS dari penjualan migas. Uang itu digunakan untuk berperang menghantam Ukraina,” kata Healy.
(AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Nur Hidayati, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim